Selain menulis puisi dan cerpen, sekarang gue coba menulis di kolom Poros Mahasiswa dari Koran Sindo. Well, gue saat ini sebenarnya juga sedang menjadi volunteer reporter di Gen Sindo. Daripada gue cuma menulis skripsi dan galau-galau aja, meding gue menggerakan diri gue, kreativitas gue untuk aktif menulis. Ini dia salah satu tulisan gue di Poros Mahasiswa. Nanti gue akan post juga tulisan gue yang di Gen Sindo. Ini dia selamat membaca tulisan
Mahasiswa Inovatif Rintis Startup
Pembangunan ekonomi negara bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) Kini, SDM Indonesia dihadapkan pada tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Di satu sisi MEA memang memudahkan kerja sama ekonomi, namun di sisi lain ada persaingan sengit dengan pekerja asing. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 25.238 pekerja asing yang datang ke Indonesia pada Januari 2016. Untuk itu, SDM Indonesia khususnya mahasiswa diharapkan mempersiapkan diri menghadapi tantangan itu.
Jangan sampai saat lulus, para mahasiswa terombangambing karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Menurut data dari BPS, total angka pengangguran di Indonesia mencapai 7,45 juta orang pada Februari 2014 hingga Februari 2015 Salah satu penyebab pengangguran ialah jumlah angkatan kerja lebih tinggi ketimbang lapangan kerja yang ada. Ditambah lagi skill SDM Indonesia yang masih kalah saing dengan negara lain.
Untuk itu, skill perlu dilatih sejak muda. Hal ini dapat disiasati dengan memulai bisnis startup sejak kuliah. Bisnis ini merupakan perusahaan yang dirintis dengan menghasilkan produk baru. Mengingat teknologi berkembang pesat, bisnis startup pun membuka banyak peluang. Mahasiswa adalah salah satu pelaku utama yang baik untuk bisnis ini.
Hal yang perlu disiapkan mahasiswa dalam menciptakan produk baru untuk menjadi founder ialah menentukan bidang yang ingin ditekuni, lalu melihat target pasar. Mungkin awalnya target pasar masih sempit, namun perlahan dapat meluas menjadi pasar global. Untuk itu, perlu inovasi yang memiliki daya tarik banyak konsumen. Lebih mudah jika ide berangkat dari potensi, serta minat yang dimiliki.
Setelah matang dengan ide, mahasiswa dapat mengumpulkan temanteman yang memiliki minat yang sama untuk bergabung dan memanfaatkan kemajuan teknologi. Berikutnya, memperluas koneksi dengan teman-teman lain, mulai dari lingkungan kampus. Hal ini tampak pada yang dilakukan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata, yakni Celvin Laviano, Andre, Baskara Arya, Immanuel Andrew, dan Fauzi Ramadan.
Mereka sukses merintis startup game bernama Raxeon di Semarang. Sementara saya memiliki ide startup berupa aplikasi ebook edukatif untuk anak dan remaja. Konsep e-book berisi cerita, namun akhir dari cerita bergantung pada pilihan pembaca. Di beberapa halaman ebook diberikan pilihan, sehingga alur cerita selanjutnya tergantung pada pilihan pembaca.
Ada pembelajaran di balik pilihan yang diambil. Tema cerita berupa kesehatan, budaya, lingkungan hidup. Itu ide startup yang ingin saya coba untuk tujuan edukasi. Tak salah jika mau mengutarakan ide, lalu mencobanya. Masa muda memang harus dikerahkan untuk berkarya. Sayangnya, aktivitas mahasiswa didominasi oleh perilaku konsumtif yang lebih gemar memakai, ketimbang mencoba menghasilkan produk.
Padahal, jika berani memulai startup ada banyak keuntungan. Dengan berbisnis, mahasiswa tak perlu risau akan minimnya lapangan kerja, karena ada penghasilan mandiri. Dengan begitu, mahasiswa turut memperbaiki pembangunan dan pertumbuhan ekonomi negara, serta menekan angka pengangguran. Jika banyak mahasiswa mandiri, status Indonesia sebagai negara berkembang akan bergeser menjadi negara maju. Indonesia harus maju di tangan anak muda inovatif yang punya banyak alternatif.
PATRICIA ASTRID
Mahasiswi Jurusan Psikologi
Universitas Tarumanagara
Astrid and Her Stories
Rabu, 09 Maret 2016
GIGAN. Tentang Aku dan Mizmiz, Teman yang Tak Tergantikan
GIGAN. Tentang Aku dan Mizmiz Teman yang Tak Tergantikan
Oleh:
Patricia Astrid Nadia
“Aduh! Gawat…Namaku dipanggil
dosen,” ujar Mizmiz dengan raut wajah panik. Ia tercengang saat membaca pesan
yang masuk melalui HP-nya. Dia langsung bergegas ke dalam kelas sambil menggigit
bibirnya. Ditambah lagi, isi kepalanya penuh dengan bayangan wajah dosen yang
menyeramkan. Rasanya seperti sedang dihantui dan dikejar-kejar oleh mimpi
buruk. Tiba-tiba kakinya terasa seperti orang lumpuh. Sulit sekali berjalan.
Mizmiz pun masuk ke kelas tanpa menyapa dosen yang sedang mengajar di kelas
itu.
“Hei…Kamu yang baru datang!” Teriak
dosen berbaju merah dengan tatapan setajam mata pisau. Matanya seolah berbicara
bahwa tak ada maaf bagi Mizmiz. Terkejut akan hal itu, sekujur tubuh Mizmiz
langsung membeku. Bibirnya seakan mati rasa dan tak sanggup menjawab pertanyaan
dosen. Ya ampun, badanku mendadak terasa
panas. Padahal AC di kelas dingin sekali, gumam Mizmiz dalam hati.
“Darimana kamu? Menitip absen dengan
teman, lalu mau bergegas untuk kabur, ya? Kata dosen itu dengan nada membentak.
Tapi Mizmiz menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk membela diri. “Nggak
kok, Pak Billy. Tadi saya ke kamar mandi sebentar,” Mizmiz menjelaskan dengan suara
yang penuh getaran di sepanjang kalimat. Jantung Mizmiz langsung berdetak
kacau—tak beraturan. Mimik wajahnya seperti orang yang sedang berhadapan dengan
harimau buas. “Ooh…1 jam lebih ya di kamar mandi? Apa pun alasan kamu, tetap
saya catat kalau kamu bolos,” teriak Pak Billy sambil mengeluarkan catatan
kecilnya. Dan hal itu membuat Mizmiz semakin tegang dan tangannya semakin
terasa dingin.
***
Astrid tertawa terpingkal-pingkal
saat Mizmiz selesai menceritakan pengalaman pahitnya di kampus. Awalnya, Astrid
berusaha menahan rasa gelinya, tapi ternyata tak berhasil. Dalam benak Astrid
telah terbayang wajah Mizmiz yang dibalut rasa cemas dan canggung saat
berhadapan dengan dosen. “Pasti kamu jadi model cantik yang membeku di depan
kelas, kan?” Sindir Astrid dengan raut wajah iseng.
Mizmiz melipat tangannya dan
menggerutu kembali, “Selama di kampus semua terasa hampa dan menyedihkan, Trid.
Obrolanku dengan teman-teman di kampus rasanya nggak nyambung.” Tergores
kesedihan di wajah Mizmiz yang tak bisa disembunyikannya lagi. Selama ini, dia
sudah terlalu sering bersandiwara dengan teman-teman kampus. Sering ia berpura-pura
terlihat senang dan tertawa saat istirahat, dan dengan pasrah membicarakan
topik yang sebenarnya hanya membuatnya pusing dan menguap berkali-kali.
“Kalau aku nggak seperti itu, nanti
aku nggak punya teman di kampus, Trid,” Mizmiz menjelaskan sambil memukul
keningnya. Dia berharap semua teman semasa sekolahnya dapat berkumpul di kampus
dan jurusan yang sama. Tapi tentunya itu hal yang mustahil. “Lalu apa lagi yang
membuat kamu hampa di kampus, Miz? Trus apa yang biasanya kamu lakukan?”
tanyaku penasaran.
Pelan-pelan Mizmiz menarik napas
panjang dan mengingat kembali kejadian menyebalkan bersama teman kampusnya.
“Aku pernah nangis di kampus, Trid. Dan reaksi mereka pun biasa-biasa saja,”
tukas Mizmiz pasrah. Mizmiz tak habis pikir melihat rekasi temannya yang datar
saat dia menangis. Tepatnya, teman-temannya bersikap cuek-acuh tak acuh. Rasanya
dia terlihat seperti orang asing yang sedang terdampar di tengah-tengah mereka.
Sindiran dan ejekan selalu menjadi makanan lezat yang dilontarkan untuk Mizmiz.
“Mereka tak pernah bosan mengejekku
karena belum punya pacar,” Bahkan nilai-nilai ujian mereka berbeda 180 derajat
dengan nilaiku. Di saat Mizmiz kehabisan ide dalam mengerjakan tugas, tak ada
satu pun dari teman-temannya yang menjelma menjadi malaikat dan membantunya.
Tapi, Mizmiz sebisa mungkin menjadi peri yang memberikan bantuan untuk teman-temannya.
Parahnya
lagi, mereka selalu memaksa Mizmiz mengerjakan hal-hal yang sangat dibenci
Mizmiz. Ya…Duduk di restoran sambil sibuk dengan gadget masing-masing. Lebih
baik berbincang-bincang dengan tembok dan batu, daripada harus ngobrol dengan
mereka, gerutu Mizmiz dalam hati.
“Saat aku lagi sakit, mereka itu nggak mau
meminjamkan catatannya untukku, Trid,” kata Mizmiz sambil memukul-mukul meja.
Tapi, dia sudah berkali-kali menjadi korban dari ulah teman-temannya. File
tugas yang ada di dalam laptop-nya pun hilang karena temannya. Semua kejadian
menyebalkan itu membuat rambut Mizmiz rontok dalam jumlah yang banyak.
“Nilai ujianku yang jelek juga
sering menjadi bahan ledekan mereka,” Mizmiz kecewa dan kehilangan akal untuk
kembali menjadi Mizmiz yang ceria seperti biasanya.
Astrid akhirnya teringat akan sesuatu. “Kamu ingat
nggak Miz kalau waktu SMA kita punya rencana untuk membangun usaha toko buku?”
tanya Astrid dengan wajah yang berbinar-binar. Seakan kedua bola matanya
bersinar dan memancarkan harapan baru. Mizmiz pun mengangguk, “Iya…Aku ingat
kok, Trid. Lalu?”
“Gimana kalau kita mulai mewujudkan toko buku itu
dari sekarang?” ajak Astrid menawarkan. Pasti dengan cara ini, Mizmiz akan
bangun dari rasa tidak berdaya dan segala kelemahan yang menempel pada dirinya.
Dia bukanlah Mizmiz yang bodoh seperti yang dikatakan oleh teman-teman
kampusnya.
“Wah…Boleh banget tuh, Trid!” ujar Mizmiz sambil
menampilkan tawa cerianya kembali. Tampaknya pelan-pelan rasa hampanya mulai
tersapu oleh mimpi tentang toko buku itu. Astrid segera mengeluarkan buku
catatan kecilnya dan menulis barang-barang yang akan dijual di toko bukunya
nanti.
“Kita buat rancangan kasarnya dulu ya, Miz. Aku
yakin usaha toko buku ini akan jalan suatu saat nanti. Yang penting kita saling
percaya dan nggak takut mencoba, Miz.” Mizmiz mengangguk setuju dan ingin
membuktikan bahwa dirinya adalah perempuan yang ceria, pemberani, dan memiliki
sahabat terbaik yang selalu ada di sampingnya. Yang tak lain adalah Astrid.
“Jangan biarkan nilai-nilai ujian kamu jadi jelek
hanya karena kamu terbawa emosi dengan teman-teman kampus kamu, Miz. Tetap jadi
diri kamu sendiri aja,” kata Astrid
mengingatkan Mizmiz yang belakangan ini mudah kehilangan semangat. Sudah
sering juga Mizmiz bersandiwara layaknya robot yang dapat diperintah dengan
mudahnya. Mizmiz tak perlu lagi berpura-pura di depan teman-temannya. Dan dia harus
mulai berani untuk menjadi dirinya sendiri. Bukan bersembunyi seperti sedang
main petak umpet dengan teman kampusnya. Selama ini dia terlihat lemah
“Mulai sekarang aku nggak akan kelihatan lemah di
depan teman-teman kampus. Aku tidak selemah robot yang bisa digerakan oleh
mereka sesuka hati.” Mizmiz berjanji dalam hatinya. Dan dia berjanji akan
memulai usaha toko bukunya bersama Astrid.
“Gimana kalau toko buku kita namanya Gigan? Akan
kubuktikan kalau aku bukan Mizmiz yang lemah” kata Mizmiz dengan penuh percaya
diri.
“Oke…Gigan!” Teriak Astrid sambil melingkarkan jari
kelingkingnya pada jari kelingking milik Mizmiz. Janji jari kelingking. Gigan
itu artinya besar. “Jadi, jangan pernah takut untuk mewujudkan mimpi kamu menjadi
kenyataan, Miz”, kata Astrid menyemangati.
“Pasti!” sahut Mizmiz sambil melemparkan senyum
manisnya yang seolah sedang berucap, Toko Buku Gigan akan berjalan sebentar
lagi.
***
Tectona Grandis--Cerpen untuk Lomba cerpen di tahun 2014
Sekarang, gue mau posting tulisan gue tentang cerpen gue dengan genre fantasi. Cerpen ini gue ikuti untuk lomba menulis cerpen yang diadakan sama Universitas Soedirman (UnSoed). Nah, ini dia tulisan cerpen gue.
Tectona
Grandis
Patricia
Astrid Nadia
Matanya hijau secerah rumput. Rambut
cokelatnya tergerai panjang secantik
batang pohon. Hinggap sepasang sayap di atas punggungnya. Ya, sayap hijau dari
dedaunan yang membentang lebar. Sejuk dan tenang saat dipandang. Sabuk dari akar pohon juga melingkar di
pinggangnya. Itulah senjata sekuat tali yang siap mencambuk para musuh di hadapannya.
Dialah Viator Tectona.
Di
Hutan Lamiales, sosok penyelamat hutan dipanggil dengan sebutan Viator. Jiwa pemberani menjadi tanda dan jati diri seorang
viator.
Tak hanya itu, viator juga selalu
memakai kekuatannya untuk keselamatan alam. Bukan untuk menghancurkan hutan
dan segala isinya. Karena Lamiales terlalu indah untuk dirusak dan dinodai.
Pohon-pohon
rindang yang menjulang tinggi bersembunyi di sana. Suara desis daun terdengar
begitu jelas. Ditambah paduan suara jangkrik di malam hari. Di tengah hutan juga tersembunyi keindahan air danau,
sumber kehidupan para viator.
Tapi
kini Viator Tectona hanya duduk
termangu menatap danau itu dengan muram. Ia larut
dalam ketakutan dan kesedihan semenjak mendapat surat ancaman dari monster Phryno.
Ooh...Bisakah monster itu lenyap dengan sendirinya? gumam Tectona dalam
hati. Dia berharap ada keajaiban yang sanggup menghancurkan monster hanya dalam hitungan detik.
Beruntung
saja masih ada Viator Grandis. Ya, dia teman Viator Tectona yang paling setia.
Sayap dan sabuknya sama seperti Viator Tectona. Hanya saja si tampan Grandis
ini berambut jabrik berwarna hitam
kecokelatan.
“Mustahil untuk melawannya, Grandis! Itu
tindakan yang bodoh!” teriak Viator Tectona dengan putus asa. Kadang dalam
situasi seperti ini Tectona berharap dia belum berusia 17 tahun. Ia ingin
kembali ke masa kanak-kanaknya dulu.
“Tentu
kau bisa, Tectona. Aku akan selalu menemanimu dalam perjalanan,” ujar Viator
Grandis berusaha menenangkan.
Tapi
tampaknya Viator Tectona masih saja dihantui oleh ketakutan dan rasa ragunya
itu. “Monster itu terlalu kuat. Apa kau tak sadar kalau kekuatanku ini masih
lemah?” Viator Tectona berjalan mondar-mandir di depan air danau itu. Ia
terlihat resah.
Berbagai ketakutan dan porak poranda kecemasan sedang berlalu-lalang dalam
pikirannya. Sering ia
berpikir kalau sayap dan sabuk yang melekat pada tubuhnya tak lebih kuat dari
sekadar pajangan.
“Ayolah
Tectona. Kekuatan viator itu datang dari hati. Ehm...Hati yang berani. Senjata
hanyalah benda mati tanpa keberanian dari viator,” kata Viator Grandis
menjelaskan. Viator Tectona terlihat sedikit lebih tenang. Ia tak tega melihat
hutannya terkikis habis oleh sesosok monster kejam. Tak sanggup juga ia melihat
kekeringan di danau itu. Dia tak akan membiarkan Hutan Lamiales hanya
menyisakan ranting-ranting yang bergeletakan di tanah.
Tapi
Viator Tectona dan Grandis harus mengumpulkan kekuatan mereka. Kekuatan untuk
menghancurkan Monster Phrynosoma. Sosoknya memang sangat mengerikan. Lebih seram
dari kegelapan malam.
Dia
dikenal sebagai sosok penghancur alam terkuat. Si kadal bertanduk yang memiliki
duri di sekujur tubuhnya. Wajahnya memang cantik seperti seorang putri. Tapi
hatinya lebih kejam dari seluruh kejahatan yang ada di dunia.
“Sekuat
apapun monster itu, aku yakin kalian berdua bisa menaklukkannya,” kata
Azzola—Ratu Viator di Hutan Lamiales. Dia mengutus Viator Tectona dan Grandis
pergi bertempur mengalahkan monster Phryno. Karena hanya cara itulah yang dapat
digunakan untuk menyelamatkan Hutan Lamiales dari kekejian monster Phryno.
“Kami
berdua akan melakukan yang terbaik, Ratu,” kata Viator Grandis sambil memberi
hormat dan salam perpisahan. Meskipun masih menyimpan sedikit rasa takut,
Viator Tectona menerima tantangan ini. Ia ingin membuktikan bahwa di usianya
yang muda—ia sanggup menjadi viator yang dapat diandalkan dan menjadi
kebanggaan bagi Hutan Lamiales. Viator Tectona dan Grandis
harus menyusuri goa dan tebing curam untuk tiba di gunung api—rumah monster
perusak alam itu bersemayam.
***
Goa
ini begitu gelap. Untung saja mata Tectona dan Grandis dapat menyala seperti
lampu di tengah kegelapan. Seisi goa dipenuhi dengan stalagmit dan stalagtit
runcing yang menempel di langit-langit. Grandis dan Tectona tak dapat terbang
dengan lincah. Ruang gerak mereka terlalu sempit.
“Tempat
ini sempit sekali, sih!”
keluh Tectona berusaha menembus sempitnya ruang gerak di dalam goa. Kalau tak
hati-hati, benda
tajam itu dapat merobek sayap kedua viator muda.
Tiba-tiba
sekelompok kelelawar dari
langit-langit goa mulai berdatangan dan berputar
mengelilingi tubuh Viator Tectona. Pandangan Tectona menjadi terhalang. Ia
berniat untuk mencambuk kelelawar itu dengan sabuk akar miliknya. Tapi ternyata
ia terlambat. Kerumunan kelelawar itu lebih cepat menyerang dan menggigit
sayapnya—sebelum Tectona mengeluarkan senjatanya.
“Aargh...Sayapku!”
Viator Tectona menjerit kesakitan. Melihat hal itu, Viator Grandis langsung
terbang mengepakkan sayapnya. Terbang
secepat mungkin untuk menyelamatkan Viator Tectona.
Grandis
mengeluarkan sabuk miliknya. Dicambukkannya sabuk itu di hadapan kawanan
kelelawar. Kawanan
kelelawar pun menjerit dan berlari masuk ke dalam lubang
persembunyian mereka. Satu masalah selesai. Tectona memang berhasil selamat
dari kawanan kelelawar, tapi dia telah
kehilangan
sayapnya. Satu senjata berharga
milik
viator yang cantik telah lenyap.
Wajah Tectona terlihat lemas dan tak
berdaya. Air mata pun tak tanggung-tanggung membanjiri pipi Tectona. “Jangan
khawatir...Kau masih punya sabuk akar yang kuat,” kata Grandis sambil mengusap
air mata Tectona.
Tampaknya
tantangan di dalam goa ini lebih berat dari yang pernah diduga oleh Grandis
sebelumnya. Satu masalah selesai, langsung muncul masalah baru di hadapan
mereka. Ada goncangan kecil yang perlahan berubah menjadi getaran kuat. Gempa
berkekuatan hebat mulai menggemparkan
seisi
goa. Batu-batu di dalam goa mulai runtuh. Stalagmit dan stalagtit nyaris
menimpa Viator Tectona.
“Tectona! Awas!”Teriak Grandis
sambil berusaha melindungi Tectona dari reruntuhan batu. Grandis langsung
mendekap tubuh Tectona dan memeluknya dengan begitu erat. Ujung hidung Tectona
dan Grandis nyaris menempel. Jantung Tectona mendadak berdegup lebih cepat.
Keringat dingin mengalir karena begitu kuatnya dekapan Grandis.
Sayangnya beberapa runtuhan batu
disertai dengan stalagtit dan stalagmit yang tajam malah merobek sayap Grandis dalam sekejap. Kini kedua viator
telah kehilangan sayapnya. Tectona tercengang melihat kejadian yang menimpa
Grandis. Mereka belum tiba di tempat monster Phryno, tapi senjata mereka
perlahan mulai lenyap.
Saat berhasil keluar dari goa yang
mencekam, mereka masih harus
mengarungi tebing-tebing terjal. Jalan setapak yang sempit dan sangat curam.
Tectona dan Grandis bergegas menuju gunung api mencekam, tempat si monster sedang bertahta.
***
“Kita
istirahat sebentar, ya,” kata Grandis sambil menyeka keringat di keningnya.
Grandis tampaknya lelah sekali. Perjalanan yang panjang dan menegangkan pasti
membuatnya lelah. Sementara itu,
Tectona berjalan menyusuri daerah di sekitar lereng. Tiba-tiba saat sedang
berjalan, Tectona tergelincir dan nyaris jatuh ke dalam jurang.
“Grandis!
Tolong!” Teriak Tectona meminta bantuan.Tangan Tectona berusaha memegang
akar-akar yang berdiri di tepi tebing . Ia mencengkeram akar itu
sekuat-kuatnya. Wajahnya memerah dipenuhi keringat dan kepanikan.
Mendengar
teriakan histeris itu maka Grandis pun langsung melompat dan berlari
menghampiri Tectona. Saat berlari, tangannya tertusuk ranting-ranting pohon
yang berjejer di sekitar lereng itu. “Aargh!” jeritnya kesakitan. Tapi Grandis
tak mempedulikan luka di tangannya. Darah segar itu mengalir disepanjang tangan
kanan Grandis.
“Pegang tanganku, Tectona!” Grandis
meningkapkan tubuhnya. Ia mengulurkan tangannya mendekati
Tectona. “Grandis...Tanganmu?” Kata Tectona sedih melihat darah yang mengalir
di tangan Grandis. “Ah! Sudahlah Tectona! Cepat raih tanganku!” Keringat bercampur
darah mengalir di tangan Grandis. Perih sekali rasanya. Tapi dengan seluruh
kekuatan yang dimiliki, Grandis berusaha menyelamatkan Tectona.
“Nggak bisa, Grandis. Aku nggak
kuat,” teriak Viator Tectona dengan histeris. Ia sudah berusaha tapi tampaknya
itu sia-sia saja. Mendadak akar-akar di tepi tebing itu hendak putus. Tectona
tidak berani menatap ke bawah. “Grandis! Lepaskan saja tanganmu. Percuma. Kau
hanya buang-buang waktu membantuku!” kata Viator Tectona yang terlihat putus
asa.
“Kerahkan semua kekuatanmu. Ayo! Sisanya percayakan padaku!” Kata
Grandis sambil terus berusaha menarik tangan Tectona. Entah kenapa saat
mendengar kata-kata Grandis, mendadak kekuatan Tectona terkumpul kembali.
Kata-kata Grandis begitu kuat
memberinya semangat.
Akhirnya Grandis berhasil menarik
tangan Tectona. Meskipun dipenuhi keringat dan darah yang bercucuran. Tapi
segala sesuatu akan diupayakan
demi keselamatan Tectona. Grandis sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk
menjadi teman setia Tectona dalam keadaan apapun. Bagi Grandis, tantangan di
tebing terjal dan
curam ini belum seberapa.
“Grandis, kemarikan tanganmu...Aku
ingin mengobatinya,” kata Tectona berusaha menggunakan kekuatan matanya untuk
menyembuhkan luka Grandis. Tectona tak sanggup melihat darah yang terus
mengalir di tangan Grandis. Begitu besar pengorbanan Grandis demi menolong
Tectona. Bahkan dia menolong Tectona dua kali. Saat di goa dan di tepi tebing.
“Terimakasih Tectona,” kata Grandis
sambil mengulurkan tangannya. Mata Tectona pun mulai mengeluarkan cahaya dan
pelan-pelan cahaya itu membalut luka-luka yang ada di tangan Grandis. Wajah
Grandis terlihat kesakitan saat cahaya itu mulai mengobatinya.
“Maafkan aku, ya...Gara-gara aku—kau
jadi terlibat banyak masalah. Sayapmu jadi ikutan hilang karena aku. Dan
sekarang kau menyelamatkan nyawaku,” ujar Tectona dengan wajah penuh rasa
bersalah.
“Aku kan temanmu...Sudah seharusnya
aku menjagamu,” sahut Grandis sambil menepuk pundak Tectona.
Tampaknya monster sengaja ingin
menyiksa Tectona dan Grandis. Tapi viator muda yang hebat bukan viator yang
mudah menyerah. Meski Viator Tectona sempat kehilangan semangatnya di awal
perjalanan. Untungnya selalu ada Grandis yang menemaninya. Viator yang setia dan mendampingi Tectona di tengah
tantangan misterius yang selalu menanti mereka di depan.
Tapi Viator Tectona masih terlihat
sedih karena sayapnya terkoyak oleh kekejaman kelelawar. Ia merasa kecil karena
senjatanya kini benar-benar mati. Padahal ia telah berusaha untuk menjadi
viator yang pemberani. Tapi kenapa kekuatannya malah diambil? Sayapnya telah
terkoyak. Kini tinggal sabuk akar yang tersisa. Apa masih cukup kuat untuk
melawan monster?
“Aku nggak yakin kalau kita bisa
mengalahkan monster itu. Sayap kita sudah terkoyak, Grandis,” kata Viator
Tectona.
“Kau harus percaya,” Viator Grandis
menatap mata Tectona yang sedang digulung dengan ketakutan. “Percaya katamu?
percaya untuk apa?” Viator Tectona bertanya heran. Suaranya itu dipenuhi dengan
getaran keraguan dan kebimbangan.
Grandis
mengangguk dan menghela nafas panjang. “Ya...Kau harus percaya pada dirimu
sendiri!” Katanya dengan mantap. Sambil berjalan mendekati Tectona, ia berbisik
di telinganya, “Sisanya...Percayalah pada temanmu juga. Teman baik akan menanggung kesedihanmu juga,”
kata Grandis dengan suara yang lebih lantang.
“Aku
juga yang akan mengulurkan tanganku dan meminjamkan pundakku untukmu,” tambah
Grandis lagi disusul dengan senyum manisnya. Grandis pun melingkarkan jari
kelingkingnya pada jari kelingking Tectona. Mereka berjanji untuk saling
percaya satu sama lain. Perlu kepercayaan yang kuat untuk menyatukan kekuatan
mereka. Monster Phryno tak dapat dikalahkan hanya dengan mengandalkan satu
kekuatan saja. Grandis dan Tectona harus bersatu.
***
Hawa panas sudah mulai terasa.
Gumpalan asap hitam berkejaran di atas langit. Awan pun dibalut warna kelabu.
Tectona menyeka kening dan mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat.
Tectona dan Grandis disambut
genangan lava merah menyerupai aliran sungai yang deras. Di sana berjejer
batu-batu sebesar kepala manusia tepat di atasnya. Batu-batu bertekstur kasar
harus mereka lompati. Suara gemuruh juga ikut mengiringi perjalanan mereka. Ini
artinya mereka sudah semakin dekat dengan si monster Phryno si perusak alam.
“Apa
kita harus melompati batu-batu ini, Grandis?” Viator Tectona terlihat semakin
panik. Mau tidak mau ia harus mengandalkan kemampuan keseimbangannya. Semua itu
bertumpu pada kekuatan kakinya. Karena sayap yang telah terkoyak tak dapat
digunakan untuk terbang.
“Tidak ada jalan lain lagi, Tectona.
Tapi tenang saja. Aku akan menjagamu,” kata Grandis berdiri tepat di belakang
Tectona. Dengan sangat hati-hati mereka mengarungi sungai lava merah yang mengerikan. Saat Tectona
hampir kehilangan keseimbangannya, Grandis selalu siap untuk menopang dan
memegang kedua pundak Tectona.
Melewati aliran lava rasanya seperti berada di api
neraka. Asap panas yang menggumpal itu menghambat penglihatan Tectona dan
Grandis. Ini perjalanan yang lebih berat dari sekedar memanjat pohon. Lebih
menyeramkan dari serangan harimau buas. Perjalanan yang mempertaruhkan nyawa.
Karena saat berpijak di atas batu itu
jika tergelincir sedikit saja, maka nyawa akan
melayang.
***
“Tectona! Lihat...Kita sudah sampai
di Puncak Gunung Phryno!” teriak Grandis sambil menunjuk ke arah gunung api
yang menyeramkan itu. Di balik pepohonan yang kering, keluarlah monster phryno
bersosok reptil dan berwajah manusia itu.
“Ternyata kalian berdua memiliki
nyali, ya?” kata sang monster menyambut dengan nada meremehkan. Ternyata wujud
si monster ini jauh lebih menyeramkan dari apa yang dibayangkan oleh Tectona
dan Grandis. Duri-duri tajam menempel disekujur tubuhnya. Tanduk-tanduk besar
berdiri di kepalanya. Dan beberapa kali monster itu menyemprotkan percikan
darah dari kedua matanya. Darah yang mengandung racun dan siap membunuh
lawannya.
“Mari kita mulai saja pertarungan
ini! Kalau kalian kalah, maka hutan dan segala isinya akan menjadi milikku.
Termasuk air danau sumber kehidupan para viator!” katanya disusul dengan suara
tawa menggelegar. Monster tampak begitu yakin kalau dia akan memenangkan
pertarungan di gunung api ini.
Grandis
pun mengerahkan seluruh kekuatannya. Dengan cepatnya ia berlari, lalu berusaha
mencambuk wajah si monster jahat. Belum sempat Grandis mencambuknya, si monster
langsung menjulurkan lidahnya yang panjang dan melilit tubuh Grandis dan
membantingnya dengan keras ke atas tanah.
“Aaargh...” Grandis menjerit kesakitan. Ia tak
kuat menahan rasa sakit. Tubuh Grandis terkulai lemah di atas tanah. Tectona menelan
ludah dan melihat darah yang kembali mengalir di tangan Grandis. Ya ampun,
malapetaka ini kapan berlalu? keluh Tectona dalam hati.
“Grandis!”
Teriak Viator Tectona dengan cemas. Ia berlari menghampiri Grandis. Mulut
Viator Tectona merekah—menganga. Terkejut melihat serangan dari monster.
Wajahnya diselimuti ketakutan. Rasa cemasnya berarakan menghantui pikirannya. Bagaimana
ini? Grandis saja terlempar. Apalagi aku? tanya Tectona dalam hati.
“Tectona! Aku nggak apa-apa, kok! Sekarang
lawanlah monster dengan kekuatanmu. Kamu pasti bisa!” Ujar Grandis
tertatih-tatih sambil menggenggam tangan Tectona. Grandis berusaha menahan rasa
sakitnya. Tectona mengangguk pelan dan dalam sekejap genangan air mata pun
membasahi pipinya.
“Hahaha...Masih sempat-sempatnya
kalian bermesraan! sindir monster dengan tatapan sinis. “Kemarilah Viator
Tectona! Hadapi aku!” Sang monster menantang dengan begitu congkak. Tanpa pikir
panjang monster itu pun mulai menyemprotkan darah dari matanya ke arah Viator
Tectona.
“Lari
Tectona! Lari!” teriak Grandis mengingatkan. Dengan lincahnya Tectona pun
berlari dan berusaha menghindar dari tembakan darah beracun. Serangan darah
yang mematikan. Tectona pun melepaskan sabuk yang melingkar di pinggangnya.
“Akan kutunjukkan kekuatanku !” Teriak
Tectona sambil membanting sabuknya yang terbuat dari akar pohon. Sabuknya itu
menjulur sepanjang tali. Lalu dicambukkannya sabuk itu ke atas tanah. Dalam
sekejap tanah pun bergetar karena kekuatan Tectona.
“Bagus
Viator Tectona! Sekarang saatnya kau serang monster itu!” ujar Viator Grandis
yang tetap menyemangati Tectona.
Tectona
berusaha mengikat tubuh sang monster dengan sabuknya itu. Dijulurkannya sabuk
akar itu ke arah monster raksasa itu. Sayangnya lidah panjang sang monster
lagi-lagi menjulur dan menangkis sabuk akar itu. Tectona terkejut dan
tercengang. Rupanya serangan dari sabuk akar Tectona masih lemah.
“Serangan
macam apa itu? Apa hanya sebatas itu kekuatanmu?” Monster meremehkan Tectona.
Dengan secepat kilat sang monster pun berlari dan mengelabui Tectona dan
Grandis. “Hei...Kemana perginya monster jelek itu?” Tectona memandang
berkeliling dan kebingungan. “Dia mengubah warna kulitnya!” ujar Grandis yang
masih terbaring lemas di atas tanah. Monster ini serupa dengan bunglon. Dia
memiliki kekuatan untuk merubah warna kulitnya.
Tectona
dan Grandis tidak mengetahui di mana monster itu sedang bersembunyi. Mungkin
saja di balik bebatuan. Bisa juga ia sedang menyamar menjadi lava. Aku harus
berani melawan monster itu. Demi hutanku,” kata Viator Tectona dalam hati.
Ia memejamkan matanya. Berusaha mengumpulkan kekuatannya. Lalu ia kembali
menggenggam sabuk akarnya.
Diputar-putarnya
sabuk itu. Kali ini di balik sabuk akar Tectona terpancar sinar berwarna hijau
cerah. Tapi sinar itu terlihat remang-remang. Kekuatan Tectona belum sepenuhnya
terkumpul.
Viator
Grandis menyipitkan matanya saat melihat sinar hijau yang remang-remang. Cahaya
yang mulai muncul, kini meredup. “Sinar ini pasti akan sempurna, Tectona,”
kataViator Grandis yang pelan-pelan berusaha berdiri setelah terbaring lemas
cukup lama. Dia tak peduli dengan darah yang masih mengalir di tangannya.
“Pegang tanganku, Viator Tectona,” kata Viator Grandis sambil mengulurkan
tangannya.
Akhirnya
Viator Tectona dan Grandis pun berdiri berhadap-hadapan. Lalu bergandengan
tangan. Inilah saatnya untuk menyatukan kekuatan. Sekujur tubuh Tectona dan
Grandis perlahan mulai mengeluarkan sinar berwarna hijau. Sinarnya semakin
terang dan menjadi silau. Sabuk akar milik Tectona diselimuti oleh terangnya
cahaya hijau yang tak lagi pudar. Begitu pula dengan sabuk akar milik Grandis.
“Aku
tahu monster phryno sedang menyamar menjadi batu! Dia ada di sana!” teriak
Grandis sambil menunuk ke arah batu. Viator Tectona dan Grandis bersiap-siap
mengerahkan kekuatan mereka lewat senjata yang masih melekat pada diri mereka.
Mereka
berdua bersama-sama mengerahkan kekuatan lewat senajata yang mereka miliki.
“Senjata ini hidup karena jiwa yang berani,” kata Viator Grandis sambil
mencabuk wajah si monster dengan sabuk akar panjang yang dibalut cahaya
hijau. “Aaargh! Hentikan!” teriak sang
monster yang merintih kesakitan. Wajahnya terkoyak akibat pukulan dan hantaman
keras dari Grandis.
“Rasakan
pukulan terakhir dariku yang akan membunuhmu!” teriak Viator Tectona sambil
melemparkan sabuk itu dan melilit tubuh sang monster besar. Kali ini pukulan
sabuk dengan kekuatan cahaya berwarna hijau berhasil merontokkan duri-duri
monster phryno. Cahaya yang lahir dari keberanian dan kekuatan-- keyakinan dari
dalam diri Viator Tectona.
Monster
phryno pun dalam sekejap berubah menjadi butir-butir pasir dan lenyap. Dia
tenggelam dalam tanah kering di lereng gunung api.
***
“Atas
keberanian dua viator yang hebat.
Aku
hendak memberikan kalian hadiah,” kata Ratu Azzola sambil berjalan mendekati
danau—sumber kehidupan para viator dan seisi hutan. Ratu Azzola memejamkan
matanya dan air dari danau itu pun mengeluarkan percikkan cahaya.
Viator
Grandis dan Tectona saling beradu pandang. Mereka bingung dengan hadiah yang
akan diberikan. Tiba-tiba di balik punggung Viator Grandis keluar sebuah cahaya
hijau silau. Begitu pun dengan Viator Tectona. Sayap mereka yang sempat
terkoyak kini tumbuh kembali.
Tersungging
senyum manis di bibir Tectona. Belum pernah Grandis melihat Tectona sesenang
ini. “Ratu terimakasih atas sayap ini,” kata Grandis dan Tectona dengan begitu
bangga. “Semua ini berkat keberanian kalian. Pengorbanan kedua viator yang
pemberani. Kalian layak mendapatkan sayap kalian kembali,” ujar Ratu Azzola
disusul dengan senyumnya yang penuh kehangatan.
Hutan
Lamiales sudah dapat bernafas lega. Berkat keberanian Viator Grandis dan
Tectona yang berani mengalahkan monster phryno. Kemenangan tak akan tercapai
kalau dua kekuatan hebat belum menyatu.
Tapi
kini Tectona dan Grandis sudah melebur menjadi satu. Itulah kekuatan sejati
milik Hutan Lamiales.
Langit Orange Harapan Setiap Insan
Dari tersembunyi hingga terbuka menjadi langit orange yang membara. Langit cerah yang mengisyaratkan lahirnya harapan dari setiap insan
Waktu ini, lagi-lagi guru tercinta gue si Ma'm Yully masih di kamar. Dan gue ini orangnya nggak bisa diam. Sebenarnya bukan karena gue rajin bisa bangun pagi, tapi gue nggak bisa tidur. Jadi, gue ajak si Clerence again untuk nemenin gue capture foto ini. Saat gue ngelihat pemandangan ini, gue sama Clerence make a wish tentang harapan-harapan kita biar lulus Ujian Nasional. Hahahaha. Dan gue berdoa suatu saat gue jadi jurnalis
Cerita Baru dari Rumah Sederhana
Berawal dari sebuah rumah kecil nan sederhana, dengan sepasang pohon yang berdiri mesra. Tempat dimulainya cerita pagi yang baru
Ini adalah hasil capture-an gue di PAGI hari. Kalau yang tadi di kala Ma'm Yully udah tidur, sekarang di kala Ma'm Yully masih tidur, gue dan Clerence udah jadi fotografer hunting foto keren ini. Di sini gue ngelihat betapa kerennya pemandangan yang super duper jarang gue dapat di kota.
Saat lihat pemandangan ini, gue rasanya itu sejuk, masalah gue, keresahan, dan ketakutan gue mendadak luntur sejenak
Bulan Imajinasi Menyapa di Waktu Malam
Malam datang, Bulan imajinasi menyapa Kota Bogor
Ini foto yang gue ambil, waktu gue, Clerence, dan Ma'm Yully hang out ke Bogor. Gue bangun pagi-pagi buta demi capture foto ini. Di saat si Ma'm Yully udah tidur di alam mimpi, gue pun masih segar bugar, bangun dan menikmati pemandangan bareng si Clerence demi capture foto ini. Gue menikmati pemandangan ini sambil mencari inspirasi untuk menulis.
Ini foto yang gue ambil, waktu gue, Clerence, dan Ma'm Yully hang out ke Bogor. Gue bangun pagi-pagi buta demi capture foto ini. Di saat si Ma'm Yully udah tidur di alam mimpi, gue pun masih segar bugar, bangun dan menikmati pemandangan bareng si Clerence demi capture foto ini. Gue menikmati pemandangan ini sambil mencari inspirasi untuk menulis.
Lomba Pekan Seni Mahasiswa Daerah 2014. Yes! I won this competition
Dari Setitik Kata Jadi Perjalanan Kata
Titik
Apa kau ingin lihat titik dari perjalanan ini?
Kurasa masih terlalu dini untuk bertemu titik
Itu adalah sepenggal puisi buatan gue. Ya, gue memang gemar
menulis. Sering gue mengekspresikan perasaan gue lewat kata dalam puisi.
Biasalah, soal perasaan nggak jauh-jauh banget. Gue cerita
soal kegirangan gue saat kumpul sama teman-teman dan semua petualangan
konyol,gila, dan unforgettable bareng mereka.
Di sela-sela istirahat di kampus atau lagi nunggu dosen, gue
nyempetin diri untuk nulis. Well,
meskipun tulisan gue belum sekelas Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, tapi
gue suatu saat nanti mau banget jadi sastrawan hebat. Bermimpi boleh dong?
Btw, di fakultas gue ada loh dosen yang kagum sama dunia
sastra. Dosen gue ini seneng sama puisi Sapardi Djoko Damono, yang isinya
begini
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata
yang tak sempat diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya abu".
Nah, dosen gue yang seneng ama puisi ini namanya Untung. Doi
salah 1 dosen psikologi komunikasi. Di kelas Pak Untung, gue juga pernah nulis
sebuah artikel dan judulnya Belajar estetika dari sang seniman.
Waktu itu,gue lagi bingung sebenarnya nentuin judul. Eh, doi
tiba-tiba mampir ke meja gue. Gini nih katanya, "Isinya bagus. Judulnya
dibikin simple aja. Belajar estetika dari seniman. Kamu bahas W.S. Rendra,
isinya, kamu artiin dikit. Lanjutin ya," katanya dengan mata
berbinar-binar.
Pas banget nih masukan dari doi soalnya doi kan emang
penggemar puisi juga ya. Minggu depannya dia ngumumin di kelas kalau artikel
gue nih kece punya. Ya, gue seneng lah,secara gue suka nulis. Tapi gue ngerasa
bakat nulis gue masih perlu diasah.
Nah, lepas kenal ama
doi, beberapa kali kita sering diskusi soal tulisan-tulisan gue. Ehm...Lebih
tepatnya cerita gue waktu sekolah dulu. Doi ngutarain semua pendapatnya dan
kita jadi sering ngobrol deh. Dari semester 1 naik ke semester berikutnya, kami
sering bahas cerita gue, mulai dari yang teenlit anak SMA, sampai yang fantasi.
Kalau puisi sih ya masih kelas cetek. Gue belom berkarya di puisi sehebat
Chairil Anwar dan Sapardi. Intinya cuma coba mencari makna di balik kata-kata
sastrawan tersohor itu. Doi jadi teman gue bertukar ide soal dunia tulis
menulis.
Pas gue semester 4, tepatnya lagi liburan, sih tiba-tiba HP
gue berdering eh ternyata ada telepon masuk dari doi.
"Astrid,hari
senin bisa ketemu saya? Saya mau kamu ikut lomba cerpen". Kurang lebih
kata-kata doi begitu di telepon.
Gue senang lah. Jingkrak-jingkrak bukan main (Sorry agak
lebay). Lomba cerpen...Mau banget gue. Dan yang terlintas di benak gue itu soal
cerita sekolah gue yang super gokil, iseng, konyol. Gue berencana pakai cerita
itu untuk lomba. Eitssss tapi,tiba-tiba badan gue mendadak membeku. Trus
rasanya ada aliran panas seperti api yang menggerogoti badan gue.
OMG. itu semua terjadi saat gue ketemu doi. Pas doi bilang
"Nanti tema lombanya itu tentang Indonesia, kayak politik, lingkungan
hidup, serius serius pokoknya temanya. Soalnya ini ajang Peksimida. Pekan Seni
Mahasiswa Daerah". Duh saat itu gue bingung.Nggak cuma itu, badan gue pun
langsung mendadak lemas. Gue bak orang yang bisu, bibir gue rasanya bergetar
buat mengiyakan statment doi barusan...
Gubrak, rasanya gue mau teriak minta tolong, tapi suara gue
kayak hilang. Bibir gue macem dilakban. Saat itu dengan berat hati gue jawab
"Iya, Pak. hehehe.Lombanya kapan?" kata gue dengan nada suara bergetar.
Dan doi sambil senyum-senyum girang, "Nanti saya telepon kamu lagi untuk
kabarin ini ya. Btw besok ke sini lagi. Kamu harus ketemu wakil rektor sama Bu
Ida yang biasa bantu warek ya," jelasnya lagi.
Jleb. Gue nelen ludah saat itu. Oke. Gue akuin gue memang
suka nulis cerpen tapi gue belom pernah nulis topik serius
Siapa lah gue ini, hanya anak kuliahan semester 4 yang gemar
nulis. Tapi dunia gue seputar kegalauan cinta remaja, baper baperan, soal anak
sekolahan deh. Apa bisa nih gue nulis soal topik politik ,ekonomi, tanah air.
Kalau besok ketemu warek, gue ditanya nggak bisa jawab soal cerpen malu lah gue
Itu pikiran yang
menghantui gue. Udah deh saat itu kepala gue kayak ditimpa timpa ama batu bata.
Trus rasanya ada benang kusut yang nggak kunjung rapih. Di sepanjang jalan
pulang di dalam busway, gue rasanya hampa dan merana.
Duh, nggak ada kata kata lagi yang sanggup jelasin kekacauan
saat itu. Bahkan rasanya yang gue tumpahin sekarang ini belom cukup ngegambarin
betapa bingung dan merananya gue.
Tapi gue mau nggak mau besok kudu ke kampus. Dan jreng.
Sampailah gue di kantor warek. Kantornya keren, jangan sampai dinodai oleh
pikiran gue yang terbatas ini. Sang warek menyambut gue dan menyalami gue. Ad Bu
Ida juga di sana yang senyum-senyum, sepertinya mereka naro harapan ya kalau
gue ini dalam bayangannya adalah penulis hebat, lalu diminta mewakili
lomba.Padahal gue ini hanyalah pemula.
"Kamu Astrid ya. Iya Pak Untung udah bilang kamu ikut lomba
nulis. Eh tapi nulis puisi ya bukan cerpen. Soalnya cerpen udah duluan anak
teknik yang daftar," kata Bu Ida dengan santainya.
Jreng....jreng.....Piano Mozzart berbunyi. Dan gue makin mau
pingsan. Cerpen dalam bayangan gue kata-katanya masih lumayan. Maksudnya nggak
banyak bener ramai sama diksi. Kalau puisi kan ada diksi, majas, itu udah kayak
bahasa alien deh. Gue sempet nggak berkutik. Kaki, dan tangan gue seperti
lumpuh sejenak. Dan gue berusaha masang muka ramah dan berujar, semua bakal
baik-baik aja. Ya, menghibur diri lah gue.
Warek pun menyodorkan kertas untuk pendaftaran lomba. Ya,
ada wejangan dari warek sebelum lomba. "Menang tidak menang tidak masalah.
Yang penting pengalamannya". Itu benar, tapi nggak mungkin dong puisi gue
malu-malu in banget nanti.
Nggak beberapa lama setelah dapat santapan kesejukan dari
warek, gue ditelepon ama Pak Untung. "Gimana? tadi kamu udah ketemu warek,
Strid? Ke sini lagi ya nanti ketemu saya." Sesampainya gue di fakultas,
gue cerita ke doi kalau gue abis kena big disaster.
"Jadi kamu diminta lomba puisi? oke nggak papa. Kamu
latihan sama saya sini ayo tulis puisi apa pun sekarang.tema nya bebas dulu deh,"
ujarnya sambil nyuruh gue nulis di kertas. Doi duduk di seberang gue di meja
dosen lebar nan panjang, yang biasa dipakai para dosen untuk makan siang.
Puisi yang gue tulis judulnya Pangeran dalam Goa.
Ada keraguan di antara kaki dan mata.
Kaki ingin melangkah tapi mata enggan menatap goa
Kuputuskan untuk hapus ingatan tentang titik.
Kuingin berikan setangkai mawar untuk titik.
Oh, titik, kalau bukan cinta cuma luka di atas duri yang
akan kubawa pulang.
Doi membaca puisi gue sambil senyum-senyum.
"Keren loh puisi
kamu. Tapi kalo saya jadi kamu,judul puisinya bukan pangeran dalam goa. Tapi
judulnya TITIK"
Dan gue tanya ke doi "Ooh gitu ya pak?"
Doi bales "Iya dong.
Kamu kan orangnya MISTERIUS. Jadi judulnya pun harus misterius."
Gue agak bingung pas doi bilang gue misterius. Dari sisi
mananya gue misterius coba? Ah tapi kagak penting lah. Gue kudu fokus ama ini
puisi dulu. Trus berhubung udah sore banget, doi bilang ke gue, coba di rumah
kamu baca-baca buku atau cari di internet tentang puisi Sapardi, Rendra, dll.
Yaps...Gue dikasih PR juga ujung-ujungnya untuk nulis puisi serius.
Gue terimalah tantangan doi. Dan gue kebingungan pas di
rumah. Karena gue ngerasa gue cuma bisa apresiasiin puisi dengan mengartikan, mencari
makna dari puisi yang udah jadi. Untuk bikin karya sendiri itu tampaknya jauh
di atas ekspektasi gue.
Rasanya gue mo bilang ke doi kalo gue mundur aja deh lomba
puisi. Dan esok harinya, doi ngajarin gue pelan-pelan tentang puisi.
"Gini misalnya kamu disuruh tulis tentang presiden. Ayo
astrid. Kamu cari kata-kata apa yang bisa jadi lambang untuk bahasa puisi.Misal
presiden kamu cari perumpamaan dari kata presiden apa lagi?" katanya sambil
mengambil pen dan menulis di buku akuntansi gue.
Dan saat itu gue terdiam. Otak gue seperti dihunus pedang
dan gue nggak bisa mikir. "Apa ya pak?" eh...Kok gue malah nanya
balik. Trus doi coba ngasih contoh.
"Misal ini raja untuk bangsaku. Kurindu raja yang tak
sekadar memerintah, tapi kumau raja yang
bisa merasa".
Wuih, gue cukup kagum sih ama kata-kata dia. Sederhana tapi
oke menurut gue. Masih banyak lagi contoh yang dia kasih. Dan tiba-tiba dia
nanya lagi, ayo bisa apalagi Astrid?
Gue jawab "Raja bunglon?" Pak Untung merespons
semangat, "Pinter. Tapi hayo kenapa bunglon?"
gue jawab karena bunglon itu bisa mengubah warna sesuai
kondisi. Ya, seperti bisa adaptasi.
"Oke kamu kan suka biologi, kimia ya? Bisa Kalau gitu
kamu bkin puisi ambil dari perumpaaman itu tapi yang benar ya jangan dikarang-karang,"
katanya berpesan.
Dan gue dikasih contoh lagi, "Kurindu presiden dengan
unsur O. Yang bisa blablabla rakyat.Nah kamu cari, baca tentang unsur-unsur itu.
Pulang nanti kamu bikin lagi, besok ketemu saya lagi"
Sebelum gue pulang, doi membagi-bagikan jelly unik nan cantik yang nggak tega untuk gue makan...Hahahaha. Pas disuruh pilih jelly nya, gue ambil yang bentuknya hati. Lucu banget soalnya dan gue foto bareng juga deh sama dosen kece gue yang satu ini. Trus gue pulang ke rumah dengan membawa 3 jelly untuk oleh-oleh di rumah. Oke, balik lagi ke puisi.
Dan di rumah gue malah ngantuk dan leha-leha sejenak sama
gadget gue. Tapi besok paginya gue ke TKC dan baca buku biologi, kimia, plus
geografi. Gue duduk di TKC kurang lebih 1 jam untuk nulis puisi. FYI TKC iti perpustakaan
umum di kampus gue. Singkatan dari Tarumanagara Knowledge Center.
Gue nggak peduli ini
bagus apa nggak, yang jelas gue nyoba nulis. Pensil dan kertas jadi senjata
gue. Tapi senjata terbesar gue dari semuanya ada di otak, yang tak lain itu
buah pemikiran gue dan hati gue sendiri. Dari mana semua pikiran itu? Kata Pak
Untung gue musti putar otak untuk baca banyak buku. Berdiamlah gue beberapa
saat di TKC. Gue baca buku geografi, politik, sosial, sejarah, haduh semua
pengetahuan umum. Bahkan meski buku geonya itu kayak buku anak-anak yang
bergambar itu, tapi gue nggak gengsi kok bacanya. Akhirnya hasil meditasi gue
untuk mikir dan nyelesain puisi itu pun kelar.
Dan saat gue tunjukin
ke doi, doi pun berdecak kagum.
"Siapa bilang kamu nggak bisa nulis puisi? Tuh bisa. Saya
yakin kamu pasti bisa besok. ini bagus loh. Raja bunglon . Raja yang mengganti
kulitnya dengan keringat rakyat. Raja yang rela kulitnya disengat matahari.
Good," katanya tersenyum menatap gue. Seolah senyumannya itu memberi
harapan ke gue, "Lo nggak perlu takut. Nggak ada yang perlu gue takutin. Wuih!
Hangat deh pokoknya.
Btw, itu udah hari Jumat. Gue bertanding hari Senin. Sisa 2
hari lagi menuju perlombaan gue di UNJ. Kata dia sih gue nggak harus menang, tapi
yang penting gue coba yang terbaik sejauh yang gue bisa. Doi juga bilang dengan
gitu setidaknya gue punya sejarah spesial dalam hidup gue. Mirip nih sama
kata-kaya Warek. Hehehe. "Oke, selamat berlomba Astrid," pesannya
dengan senyum hangatnya yang tak pernah gagal untuk meredakan rasa panik gue.
Nah, sorenya gue kembali ketemu warek dan Bu Ida. Saat gue
lagi berbunga-bunga udah bisa nulis puisi, eh malah Bu Ida bikin gue galau. Kan...kan..kan...Dunia
gue nggak bebas dari rasa galau.
"Trid..Yang lomba cerpen kagak bisa ikut. Lagi ujian. Kamu
balik lagi aja ke cerpen," katanya dengan nada santai,super ringan. Dan
gue saat itu jadi ciut, ya gagal fokus juga. Baru aja senang dipuji sama puisi
gue, eh mendadak disuruh ganti cerpen. Tadi udah latihan puisi, udah dibikin
nyaman sama puisi, masa iya, ciyus? Diganti sekarang cerpen? Haduh.
Gue langsung sms Pak Untung. "Pak, saya nggak jadi
lomba puisi. Disuruh balik ke cerpen".
Dan tiba-tiba, Pak Untung bales pesan singkat gue, "Nggak papa. Kamu bisa kan cerpen?"
Lalu gue nanya ke Bu Ida, "Bu apa nggak bisa saya balik
ke puisi? Musti cerpen ya?" Nah, kok gue sendiri jadi bimbang.
Giliran gue udah nyaman puisi, disuruh balik ke cerpen. Di
situ gue merasa sedih. Kenangan-kenangan gue nulis bareng Pak Untung bakal
pecah berkeping-keping dong. Haduh....Lebay sih emang, tapi emang gitu rasanha
gue.
Kan ngewakilin kampus. Nggak cuma fakultas. Gue nggak mau
sampai salah milih, nih. Otak gue seperti melakukan pemberotakan dan pergulatan.
Apa mending cerpen,karena bahasa nggak berat-berat amat. Eh, tapi di satu waktu
gue galau lagi.
"Ya udah kamu kasih jawabannya besok sore ya saya tunggu,"
kata bu Ida sambil nyodorin gue snack. Duh, gue jadi kagak nafsu ama snacknya. Saat
gue tengah dihadapkan sama pilihan.
Di saat gue bimbang, gue pun sms Pak Untung. "Pak saya
sekarang malah jadi dibebasain boleh pilih mau cerpen apa puisi. Saya jadi takut
sih. Kalo puisi berat...Cerpen juga takut saya kosa kata saya gitu-gitu aja. Gimana
dong pak?"
"Kamu harus tanya sama hati kecil kamu. Saya dukung
pilihan kamu," balasnya di sms. Trus entah gimana, gue tiba-tiba diem dulu
dan tergerak untuk memilih puisi. Di sana seperti hilang rasa hampa gue. Lalu,
gue hubungin Bu ida,"Bu saya puisi ya". Fix banget puisi. Jiah.
####
Dan sesaat sebelum lomba dimulai, ada sms masuk ke HP gue.Itu
semacam SMS penguatan di kala gue kesepian, duduk di kursi Kampus UNJ sendirian.
"Kamu harus PD. Saya yakin kamu bisa kok," kata
Pak Untung via sms. Oke, gue nggak peduli gue menang apa nggak yang jelas gue
coba sebisa yang gue mampu.
Saat di UNJ hari senin 23 Juni, gue lihat banyak anak UI
seliweran di sana. Salah 1 anak UI ada duduk di bangku tepat di depan meja gue.
Dan gue jadi mendadak ciut.
Ooh..Tapi gue nggak boleh lemah, gue inget ama kata-kata Pak
Untung. Lalu gue berdoa. Saat itu panitia datang dengan baju. Dari jauh dia memberi
komando "Selamat datang peserta,saya memberi info bahwa kalian bisa
menulis puisi dalam waktu 4 jam dengan tema cinta tanah air. Tapi laptop kalian
nggak bleh disambung ke internet ya."
Trus bertele-tele dibacakan aturan-aturan puisi lainnya. Katanya
nggak boleh ada tipografi apalah..Jiah..gue aja nggak paham itu apaan lagi. Tapi
gue tulis, gue inget kata-kata si Pak Untung waktu ngajarin gue nulis.
"Tema kali ini tentang cinta tanah air ya," kata Panitia yang lebih
senang disapa Ibu daripada mbak ini.
Dan selama lomba berlangsung, gue sering bingits lirik ke
arah anak UI. Dia kelihatan santai dan cepat, trus detik-detik mau ngumpul gue
kok jadi ciut lagi ya? Tapi bodo amat. Gue punya karya gue sendiri kok. Siapa
tahu kan nggak kalah kece? But, dia anak sastra, lho.Sastra. Agak mau nyerah
sih waktu itu. Nah, kalau yang duduk di belakang gue itu anak jurnalistik. Ooh
gue hanyalah sekecil titik. Tak terasa ternyata tiba-tiba udah sore aja.
Saat gue ngumpul karya ke depan, gue malu-malu gitu. Tapi ya
udah deadline nya. Terlepas dari apa pun hasilnya, gue cukup puas udah berhasil
melalui lomba ini
Gue lumayan bernapas lega, selesai juga. Dan FYI, selama
lomba gue difoto-foto ama ibu pantia dan kakak-kakak dari BEM UNJ. Ampun deh,
ya lumayan tapi ada hiburan,bisa bikin gue tertawa sejenak. Dan usai lomba ada
beberapa anak peserta lomba yang ngajak gue kenalan. Ada Nana, Yana, Novi, dan
Tiara. Sekarang, guys, mereka jadi temen gue nulis puisi di grup wa gue yang
judulnya young writer gigan.
Oke, nanti bakal ada pembahasan tersendiri soal mereka. Sekarang
gue mau bahas lagi soal lomba puisi konyol ini yang katanya hasilnya ngebut kayak
maraton. Alias bakal ketahuan langsung besok. Gue sih pasrah aja. Kayaknya anak
UI yang bakal menang lah.
Tapi,siapa sangka jam 12.30 tanggal 24 Juni 2014, jadi
tanggal bersejarah buat gue. Si Pak Untung nelepon gue dan bilang "Selamat
Astrid kamu juara 2 loh nulis puisi."
Trus, gue seneng bukan main. Secara pemula gini gue, lumayan
banget dong juara 2. Aduh, puji Tuhan banget. Dan temen-temen gue di
youngwriters gigan ngucapin selamat juga.
Hari Rabu nya gue ketemu sama Pak Untung dan kita
ngobrol,cerita tentang lomba dan intinya dia bilang "Nanti kamu kalo ada lomba
lagi coba lagi ya. Kamu keren itu bagus. nggak papa juara 2. Itu keren kok. Kamu
bagus. Nanti besok-besok, belajar, kurangnya dimana, diperbaiki. Oke? Oh ya jadi
kamu dapet temen baru ya di sana?" katanya sambil tertawa tawa girang.
Senang dah gue lihatnya. Pemandangan menyejukkan kalau si Pak Untung happy
juga.
Dan hari itu gue ngerasa senang banget karena ternyata gue
nggak cuma jadi penikmat puisi, tapi gue berkarya. Gue bukan cuma baca tulisan
Sapardi, bukan juga baca puisi Chairil Anwar. Udah nggak sekadar membaca. Level
gue naik jadi menghasilkan karya. Hemh, tapi apresiasi dalam membaca nggak akan
pernah gue tinggalkan. Karena menulis adalah mustahil tanpa membaca.
Tapi, gue Astrid sekarang ini bisa nulis puisi sekece ini
nggak lepas dari bimbingan mentor gue, Pak Untung.Di sisi lain, mentor ini juga
menjadi sahabat terbaik gue dalam menulis Bahkan gue mulai menggiati nulis
puisi untuk tema-tema yang cukup berat. Tapi yang jelas gue akan tetap dan
terus belajar, supaya kelak gue bisa jadi sastrawan tersohor yang bikin
pembacanya berdecak kagum dan memberikan tepukan gemuruh untuk puisi yang gue
tulis.
FYI, judul puisi gue "Kuhapus Rintihan Pulauku".
Ini puisi yang menang juara 2 di ajang perlombaan PEKSIMIDA (Pekan Seni
Mahasiswa Daerah tahun 2014).
Langganan:
Postingan (Atom)


