Rabu, 09 Maret 2016

Mahasiswa Inovatif Rintis Startup-Patricia Astrid Nadia

Selain menulis puisi dan cerpen, sekarang gue coba menulis di kolom Poros Mahasiswa dari Koran Sindo. Well, gue saat ini sebenarnya juga sedang menjadi volunteer reporter di Gen Sindo. Daripada gue cuma menulis skripsi dan galau-galau aja, meding gue menggerakan diri gue, kreativitas gue untuk aktif menulis. Ini dia salah satu tulisan gue di Poros Mahasiswa. Nanti gue akan post juga tulisan gue yang di Gen Sindo. Ini dia selamat membaca tulisan 



Mahasiswa Inovatif Rintis Startup

Pembangunan ekonomi negara bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) Kini, SDM Indonesia dihadapkan pada tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). 

Di satu sisi MEA memang memudahkan kerja sama ekonomi, namun di sisi lain ada persaingan sengit dengan pekerja asing. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 25.238 pekerja asing yang datang ke Indonesia pada Januari 2016. Untuk itu, SDM Indonesia khususnya mahasiswa diharapkan mempersiapkan diri menghadapi tantangan itu. 

Jangan sampai saat lulus, para mahasiswa terombangambing karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Menurut data dari BPS, total angka pengangguran di Indonesia mencapai 7,45 juta orang pada Februari 2014 hingga Februari 2015 Salah satu penyebab pengangguran ialah jumlah angkatan kerja lebih tinggi ketimbang lapangan kerja yang ada. Ditambah lagi skill SDM Indonesia yang masih kalah saing dengan negara lain. 

Untuk itu, skill perlu dilatih sejak muda. Hal ini dapat disiasati dengan memulai bisnis startup sejak kuliah. Bisnis ini merupakan perusahaan yang dirintis dengan menghasilkan produk baru. Mengingat teknologi berkembang pesat, bisnis startup pun membuka banyak peluang. Mahasiswa adalah salah satu pelaku utama yang baik untuk bisnis ini. 

Hal yang perlu disiapkan mahasiswa dalam menciptakan produk baru untuk menjadi founder ialah menentukan bidang yang ingin ditekuni, lalu melihat target pasar. Mungkin awalnya target pasar masih sempit, namun perlahan dapat meluas menjadi pasar global. Untuk itu, perlu inovasi yang memiliki daya tarik banyak konsumen. Lebih mudah jika ide berangkat dari potensi, serta minat yang dimiliki. 

Setelah matang dengan ide, mahasiswa dapat mengumpulkan temanteman yang memiliki minat yang sama untuk bergabung dan memanfaatkan kemajuan teknologi. Berikutnya, memperluas koneksi dengan teman-teman lain, mulai dari lingkungan kampus. Hal ini tampak pada yang dilakukan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata, yakni Celvin Laviano, Andre, Baskara Arya, Immanuel Andrew, dan Fauzi Ramadan. 

Mereka sukses merintis startup game bernama Raxeon di Semarang. Sementara saya memiliki ide startup berupa aplikasi ebook edukatif untuk anak dan remaja. Konsep e-book berisi cerita, namun akhir dari cerita bergantung pada pilihan pembaca. Di beberapa halaman ebook diberikan pilihan, sehingga alur cerita selanjutnya tergantung pada pilihan pembaca. 

Ada pembelajaran di balik pilihan yang diambil. Tema cerita berupa kesehatan, budaya, lingkungan hidup. Itu ide startup yang ingin saya coba untuk tujuan edukasi. Tak salah jika mau mengutarakan ide, lalu mencobanya. Masa muda memang harus dikerahkan untuk berkarya. Sayangnya, aktivitas mahasiswa didominasi oleh perilaku konsumtif yang lebih gemar memakai, ketimbang mencoba menghasilkan produk. 

Padahal, jika berani memulai startup ada banyak keuntungan. Dengan berbisnis, mahasiswa tak perlu risau akan minimnya lapangan kerja, karena ada penghasilan mandiri. Dengan begitu, mahasiswa turut memperbaiki pembangunan dan pertumbuhan ekonomi negara, serta menekan angka pengangguran. Jika banyak mahasiswa mandiri, status Indonesia sebagai negara berkembang akan bergeser menjadi negara maju. Indonesia harus maju di tangan anak muda inovatif yang punya banyak alternatif.

PATRICIA ASTRID 
Mahasiswi Jurusan Psikologi 
Universitas Tarumanagara

GIGAN. Tentang Aku dan Mizmiz, Teman yang Tak Tergantikan

GIGAN. Tentang Aku dan Mizmiz Teman yang Tak Tergantikan
Oleh: Patricia Astrid Nadia
            “Aduh! Gawat…Namaku dipanggil dosen,” ujar Mizmiz dengan raut wajah panik. Ia tercengang saat membaca pesan yang masuk melalui HP-nya. Dia langsung bergegas ke dalam kelas sambil menggigit bibirnya. Ditambah lagi, isi kepalanya penuh dengan bayangan wajah dosen yang menyeramkan. Rasanya seperti sedang dihantui dan dikejar-kejar oleh mimpi buruk. Tiba-tiba kakinya terasa seperti orang lumpuh. Sulit sekali berjalan. Mizmiz pun masuk ke kelas tanpa menyapa dosen yang sedang mengajar di kelas itu.
            “Hei…Kamu yang baru datang!” Teriak dosen berbaju merah dengan tatapan setajam mata pisau. Matanya seolah berbicara bahwa tak ada maaf bagi Mizmiz. Terkejut akan hal itu, sekujur tubuh Mizmiz langsung membeku. Bibirnya seakan mati rasa dan tak sanggup menjawab pertanyaan dosen. Ya ampun, badanku mendadak terasa panas. Padahal AC di kelas dingin sekali, gumam Mizmiz dalam hati.
            “Darimana kamu? Menitip absen dengan teman, lalu mau bergegas untuk kabur, ya? Kata dosen itu dengan nada membentak. Tapi Mizmiz menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk membela diri. “Nggak kok, Pak Billy. Tadi saya ke kamar mandi sebentar,” Mizmiz menjelaskan dengan suara yang penuh getaran di sepanjang kalimat. Jantung Mizmiz langsung berdetak kacau—tak beraturan. Mimik wajahnya seperti orang yang sedang berhadapan dengan harimau buas. “Ooh…1 jam lebih ya di kamar mandi? Apa pun alasan kamu, tetap saya catat kalau kamu bolos,” teriak Pak Billy sambil mengeluarkan catatan kecilnya. Dan hal itu membuat Mizmiz semakin tegang dan tangannya semakin terasa dingin.
                                                              ***
             Astrid tertawa terpingkal-pingkal saat Mizmiz selesai menceritakan pengalaman pahitnya di kampus. Awalnya, Astrid berusaha menahan rasa gelinya, tapi ternyata tak berhasil. Dalam benak Astrid telah terbayang wajah Mizmiz yang dibalut rasa cemas dan canggung saat berhadapan dengan dosen. “Pasti kamu jadi model cantik yang membeku di depan kelas, kan?” Sindir Astrid dengan raut wajah iseng.
            Mizmiz melipat tangannya dan menggerutu kembali, “Selama di kampus semua terasa hampa dan menyedihkan, Trid. Obrolanku dengan teman-teman di kampus rasanya nggak nyambung.” Tergores kesedihan di wajah Mizmiz yang tak bisa disembunyikannya lagi. Selama ini, dia sudah terlalu sering bersandiwara dengan teman-teman kampus. Sering ia berpura-pura terlihat senang dan tertawa saat istirahat, dan dengan pasrah membicarakan topik yang sebenarnya hanya membuatnya pusing dan menguap berkali-kali.
            “Kalau aku nggak seperti itu, nanti aku nggak punya teman di kampus, Trid,” Mizmiz menjelaskan sambil memukul keningnya. Dia berharap semua teman semasa sekolahnya dapat berkumpul di kampus dan jurusan yang sama. Tapi tentunya itu hal yang mustahil. “Lalu apa lagi yang membuat kamu hampa di kampus, Miz? Trus apa yang biasanya kamu lakukan?” tanyaku penasaran.
            Pelan-pelan Mizmiz menarik napas panjang dan mengingat kembali kejadian menyebalkan bersama teman kampusnya. “Aku pernah nangis di kampus, Trid. Dan reaksi mereka pun biasa-biasa saja,” tukas Mizmiz pasrah. Mizmiz tak habis pikir melihat rekasi temannya yang datar saat dia menangis. Tepatnya, teman-temannya bersikap cuek-acuh tak acuh. Rasanya dia terlihat seperti orang asing yang sedang terdampar di tengah-tengah mereka. Sindiran dan ejekan selalu menjadi makanan lezat yang dilontarkan untuk Mizmiz.
            “Mereka tak pernah bosan mengejekku karena belum punya pacar,” Bahkan nilai-nilai ujian mereka berbeda 180 derajat dengan nilaiku. Di saat Mizmiz kehabisan ide dalam mengerjakan tugas, tak ada satu pun dari teman-temannya yang menjelma menjadi malaikat dan membantunya. Tapi, Mizmiz sebisa mungkin menjadi peri yang memberikan bantuan untuk teman-temannya.
Parahnya lagi, mereka selalu memaksa Mizmiz mengerjakan hal-hal yang sangat dibenci Mizmiz. Ya…Duduk di restoran sambil sibuk dengan gadget masing-masing. Lebih baik berbincang-bincang dengan tembok dan batu, daripada harus ngobrol dengan mereka, gerutu Mizmiz dalam hati.
“Saat aku lagi sakit, mereka itu nggak mau meminjamkan catatannya untukku, Trid,” kata Mizmiz sambil memukul-mukul meja. Tapi, dia sudah berkali-kali menjadi korban dari ulah teman-temannya. File tugas yang ada di dalam laptop-nya pun hilang karena temannya. Semua kejadian menyebalkan itu membuat rambut Mizmiz rontok dalam jumlah yang banyak.
            “Nilai ujianku yang jelek juga sering menjadi bahan ledekan mereka,” Mizmiz kecewa dan kehilangan akal untuk kembali menjadi Mizmiz yang ceria seperti biasanya.
Astrid akhirnya teringat akan sesuatu. “Kamu ingat nggak Miz kalau waktu SMA kita punya rencana untuk membangun usaha toko buku?” tanya Astrid dengan wajah yang berbinar-binar. Seakan kedua bola matanya bersinar dan memancarkan harapan baru. Mizmiz pun mengangguk, “Iya…Aku ingat kok, Trid. Lalu?”
“Gimana kalau kita mulai mewujudkan toko buku itu dari sekarang?” ajak Astrid menawarkan. Pasti dengan cara ini, Mizmiz akan bangun dari rasa tidak berdaya dan segala kelemahan yang menempel pada dirinya. Dia bukanlah Mizmiz yang bodoh seperti yang dikatakan oleh teman-teman kampusnya.
“Wah…Boleh banget tuh, Trid!” ujar Mizmiz sambil menampilkan tawa cerianya kembali. Tampaknya pelan-pelan rasa hampanya mulai tersapu oleh mimpi tentang toko buku itu. Astrid segera mengeluarkan buku catatan kecilnya dan menulis barang-barang yang akan dijual di toko bukunya nanti.
“Kita buat rancangan kasarnya dulu ya, Miz. Aku yakin usaha toko buku ini akan jalan suatu saat nanti. Yang penting kita saling percaya dan nggak takut mencoba, Miz.” Mizmiz mengangguk setuju dan ingin membuktikan bahwa dirinya adalah perempuan yang ceria, pemberani, dan memiliki sahabat terbaik yang selalu ada di sampingnya. Yang tak lain adalah Astrid.
“Jangan biarkan nilai-nilai ujian kamu jadi jelek hanya karena kamu terbawa emosi dengan teman-teman kampus kamu, Miz. Tetap jadi diri kamu sendiri aja,” kata Astrid  mengingatkan Mizmiz yang belakangan ini mudah kehilangan semangat. Sudah sering juga Mizmiz bersandiwara layaknya robot yang dapat diperintah dengan mudahnya. Mizmiz tak perlu lagi berpura-pura di depan teman-temannya. Dan dia harus mulai berani untuk menjadi dirinya sendiri. Bukan bersembunyi seperti sedang main petak umpet dengan teman kampusnya. Selama ini dia terlihat lemah
“Mulai sekarang aku nggak akan kelihatan lemah di depan teman-teman kampus. Aku tidak selemah robot yang bisa digerakan oleh mereka sesuka hati.” Mizmiz berjanji dalam hatinya. Dan dia berjanji akan memulai usaha toko bukunya bersama Astrid.
“Gimana kalau toko buku kita namanya Gigan? Akan kubuktikan kalau aku bukan Mizmiz yang lemah” kata Mizmiz dengan penuh percaya diri.
“Oke…Gigan!” Teriak Astrid sambil melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik Mizmiz. Janji jari kelingking. Gigan itu artinya besar. “Jadi, jangan pernah takut untuk mewujudkan mimpi kamu menjadi kenyataan, Miz”, kata Astrid menyemangati.
“Pasti!” sahut Mizmiz sambil melemparkan senyum manisnya yang seolah sedang berucap, Toko Buku Gigan akan berjalan sebentar lagi.

                                                            ***

            

Tectona Grandis--Cerpen untuk Lomba cerpen di tahun 2014

Sekarang, gue mau posting tulisan gue tentang cerpen gue dengan genre fantasi. Cerpen ini gue ikuti untuk lomba menulis cerpen yang diadakan sama Universitas Soedirman (UnSoed). Nah, ini dia tulisan cerpen gue.

Tectona Grandis
Patricia Astrid Nadia
            Matanya hijau secerah rumput. Rambut cokelatnya tergerai panjang secantik batang pohon. Hinggap sepasang sayap di atas punggungnya. Ya, sayap hijau dari dedaunan yang membentang lebar. Sejuk dan tenang saat dipandang.  Sabuk dari akar pohon juga melingkar di pinggangnya. Itulah senjata sekuat tali yang siap mencambuk para musuh di hadapannya. Dialah Viator Tectona.
Di Hutan Lamiales, sosok penyelamat hutan dipanggil dengan sebutan Viator. Jiwa pemberani menjadi tanda dan jati diri seorang viator. Tak hanya itu, viator juga selalu memakai kekuatannya untuk keselamatan alam. Bukan untuk menghancurkan hutan dan segala isinya. Karena Lamiales terlalu indah untuk dirusak dan dinodai.
Pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi bersembunyi di sana. Suara desis daun terdengar begitu jelas. Ditambah paduan suara jangkrik di malam hari. Di tengah hutan juga tersembunyi keindahan air danau, sumber kehidupan para viator.
Tapi kini Viator Tectona hanya duduk termangu  menatap danau itu dengan muram. Ia larut dalam ketakutan dan kesedihan semenjak mendapat surat ancaman dari monster Phryno. Ooh...Bisakah monster itu lenyap dengan sendirinya? gumam Tectona dalam hati. Dia berharap ada keajaiban yang sanggup menghancurkan monster hanya dalam hitungan detik.
Beruntung saja masih ada Viator Grandis. Ya, dia teman Viator Tectona yang paling setia. Sayap dan sabuknya sama seperti Viator Tectona. Hanya saja si tampan Grandis ini berambut jabrik berwarna hitam kecokelatan.
 “Mustahil untuk melawannya, Grandis! Itu tindakan yang bodoh!” teriak Viator Tectona dengan putus asa. Kadang dalam situasi seperti ini Tectona berharap dia belum berusia 17 tahun. Ia ingin kembali ke masa kanak-kanaknya dulu.
“Tentu kau bisa, Tectona. Aku akan selalu menemanimu dalam perjalanan,” ujar Viator Grandis berusaha menenangkan.
Tapi tampaknya Viator Tectona masih saja dihantui oleh ketakutan dan rasa ragunya itu. “Monster itu terlalu kuat. Apa kau tak sadar kalau kekuatanku ini masih lemah?” Viator Tectona berjalan mondar-mandir di depan air danau itu. Ia terlihat resah. Berbagai ketakutan dan porak poranda kecemasan sedang berlalu-lalang dalam pikirannya. Sering ia berpikir kalau sayap dan sabuk yang melekat pada tubuhnya tak lebih kuat dari sekadar pajangan.
“Ayolah Tectona. Kekuatan viator itu datang dari hati. Ehm...Hati yang berani. Senjata hanyalah benda mati tanpa keberanian dari viator,” kata Viator Grandis menjelaskan. Viator Tectona terlihat sedikit lebih tenang. Ia tak tega melihat hutannya terkikis habis oleh sesosok monster kejam. Tak sanggup juga ia melihat kekeringan di danau itu. Dia tak akan membiarkan Hutan Lamiales hanya menyisakan ranting-ranting yang bergeletakan di tanah.
Tapi Viator Tectona dan Grandis harus mengumpulkan kekuatan mereka. Kekuatan untuk menghancurkan Monster Phrynosoma. Sosoknya memang sangat mengerikan. Lebih seram dari kegelapan malam.
Dia dikenal sebagai sosok penghancur alam terkuat. Si kadal bertanduk yang memiliki duri di sekujur tubuhnya. Wajahnya memang cantik seperti seorang putri. Tapi hatinya lebih kejam dari seluruh kejahatan yang ada di dunia.
“Sekuat apapun monster itu, aku yakin kalian berdua bisa menaklukkannya,” kata Azzola—Ratu Viator di Hutan Lamiales. Dia mengutus Viator Tectona dan Grandis pergi bertempur mengalahkan monster Phryno. Karena hanya cara itulah yang dapat digunakan untuk menyelamatkan Hutan Lamiales dari kekejian monster Phryno.
“Kami berdua akan melakukan yang terbaik, Ratu,” kata Viator Grandis sambil memberi hormat dan salam perpisahan. Meskipun masih menyimpan sedikit rasa takut, Viator Tectona menerima tantangan ini. Ia ingin membuktikan bahwa di usianya yang muda—ia sanggup menjadi viator yang dapat diandalkan dan menjadi kebanggaan bagi Hutan Lamiales.  Viator Tectona dan Grandis harus menyusuri goa dan tebing curam untuk tiba di gunung api—rumah monster perusak alam itu bersemayam.
     ***
Goa ini begitu gelap. Untung saja mata Tectona dan Grandis dapat menyala seperti lampu di tengah kegelapan. Seisi goa dipenuhi dengan stalagmit dan stalagtit runcing yang menempel di langit-langit. Grandis dan Tectona tak dapat terbang dengan lincah. Ruang gerak mereka terlalu sempit.  
“Tempat ini sempit sekali, sih!” keluh Tectona berusaha menembus sempitnya ruang gerak di dalam goa. Kalau tak hati-hati, benda tajam itu dapat merobek sayap kedua viator muda.
Tiba-tiba sekelompok kelelawar dari langit-langit goa mulai berdatangan dan berputar mengelilingi tubuh Viator Tectona. Pandangan Tectona menjadi terhalang. Ia berniat untuk mencambuk kelelawar itu dengan sabuk akar miliknya. Tapi ternyata ia terlambat. Kerumunan kelelawar itu lebih cepat menyerang dan menggigit sayapnya—sebelum Tectona mengeluarkan senjatanya.
“Aargh...Sayapku!” Viator Tectona menjerit kesakitan. Melihat hal itu, Viator Grandis langsung terbang mengepakkan sayapnya. Terbang secepat mungkin untuk menyelamatkan Viator Tectona.
Grandis mengeluarkan sabuk miliknya. Dicambukkannya sabuk itu di hadapan kawanan kelelawar. Kawanan kelelawar pun menjerit dan berlari masuk ke dalam lubang persembunyian mereka. Satu masalah selesai. Tectona memang berhasil selamat dari kawanan kelelawar, tapi dia telah kehilangan sayapnya. Satu senjata berharga milik viator yang cantik telah lenyap.
            Wajah Tectona terlihat lemas dan tak berdaya. Air mata pun tak tanggung-tanggung membanjiri pipi Tectona. “Jangan khawatir...Kau masih punya sabuk akar yang kuat,” kata Grandis sambil mengusap air mata Tectona.
Tampaknya tantangan di dalam goa ini lebih berat dari yang pernah diduga oleh Grandis sebelumnya. Satu masalah selesai, langsung muncul masalah baru di hadapan mereka. Ada goncangan kecil yang perlahan berubah menjadi getaran kuat. Gempa berkekuatan hebat mulai menggemparkan seisi goa. Batu-batu di dalam goa mulai runtuh. Stalagmit dan stalagtit nyaris menimpa Viator Tectona.
            “Tectona! Awas!”Teriak Grandis sambil berusaha melindungi Tectona dari reruntuhan batu. Grandis langsung mendekap tubuh Tectona dan memeluknya dengan begitu erat. Ujung hidung Tectona dan Grandis nyaris menempel. Jantung Tectona mendadak berdegup lebih cepat. Keringat dingin mengalir karena begitu kuatnya dekapan Grandis.
            Sayangnya beberapa runtuhan batu disertai dengan stalagtit dan stalagmit yang tajam malah merobek sayap Grandis dalam sekejap. Kini kedua viator telah kehilangan sayapnya. Tectona tercengang melihat kejadian yang menimpa Grandis. Mereka belum tiba di tempat monster Phryno, tapi senjata mereka perlahan mulai lenyap.
            Saat berhasil keluar dari goa yang mencekam, mereka masih harus mengarungi tebing-tebing terjal. Jalan setapak yang sempit dan sangat curam. Tectona dan Grandis bergegas menuju gunung api mencekam, tempat si monster sedang bertahta.
                                                            ***
“Kita istirahat sebentar, ya,” kata Grandis sambil menyeka keringat di keningnya. Grandis tampaknya lelah sekali. Perjalanan yang panjang dan menegangkan pasti membuatnya lelah. Sementara itu, Tectona berjalan menyusuri daerah di sekitar lereng. Tiba-tiba saat sedang berjalan, Tectona tergelincir dan nyaris jatuh ke dalam jurang.
“Grandis! Tolong!” Teriak Tectona meminta bantuan.Tangan Tectona berusaha memegang akar-akar yang berdiri di tepi tebing . Ia mencengkeram akar itu sekuat-kuatnya. Wajahnya memerah dipenuhi keringat dan kepanikan.
Mendengar teriakan histeris itu maka Grandis pun langsung melompat dan berlari menghampiri Tectona. Saat berlari, tangannya tertusuk ranting-ranting pohon yang berjejer di sekitar lereng itu. “Aargh!” jeritnya kesakitan. Tapi Grandis tak mempedulikan luka di tangannya. Darah segar itu mengalir disepanjang tangan kanan Grandis.
            “Pegang tanganku, Tectona!” Grandis meningkapkan tubuhnya. Ia mengulurkan tangannya mendekati Tectona. “Grandis...Tanganmu?” Kata Tectona sedih melihat darah yang mengalir di tangan Grandis. “Ah! Sudahlah Tectona! Cepat raih tanganku!” Keringat bercampur darah mengalir di tangan Grandis. Perih sekali rasanya. Tapi dengan seluruh kekuatan yang dimiliki, Grandis berusaha menyelamatkan Tectona.
            “Nggak bisa, Grandis. Aku nggak kuat,” teriak Viator Tectona dengan histeris. Ia sudah berusaha tapi tampaknya itu sia-sia saja. Mendadak akar-akar di tepi tebing itu hendak putus. Tectona tidak berani menatap ke bawah. “Grandis! Lepaskan saja tanganmu. Percuma. Kau hanya buang-buang waktu membantuku!” kata Viator Tectona yang terlihat putus asa.
            “Kerahkan semua kekuatanmu. Ayo! Sisanya percayakan padaku!” Kata Grandis sambil terus berusaha menarik tangan Tectona. Entah kenapa saat mendengar kata-kata Grandis, mendadak kekuatan Tectona terkumpul kembali. Kata-kata Grandis begitu kuat memberinya semangat.
            Akhirnya Grandis berhasil menarik tangan Tectona. Meskipun dipenuhi keringat dan darah yang bercucuran. Tapi segala sesuatu akan diupayakan demi keselamatan Tectona. Grandis sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi teman setia Tectona dalam keadaan apapun. Bagi Grandis, tantangan di tebing terjal dan curam ini belum seberapa.
            “Grandis, kemarikan tanganmu...Aku ingin mengobatinya,” kata Tectona berusaha menggunakan kekuatan matanya untuk menyembuhkan luka Grandis. Tectona tak sanggup melihat darah yang terus mengalir di tangan Grandis. Begitu besar pengorbanan Grandis demi menolong Tectona. Bahkan dia menolong Tectona dua kali. Saat di goa dan di tepi tebing.
            “Terimakasih Tectona,” kata Grandis sambil mengulurkan tangannya. Mata Tectona pun mulai mengeluarkan cahaya dan pelan-pelan cahaya itu membalut luka-luka yang ada di tangan Grandis. Wajah Grandis terlihat kesakitan saat cahaya itu mulai mengobatinya.
            “Maafkan aku, ya...Gara-gara aku—kau jadi terlibat banyak masalah. Sayapmu jadi ikutan hilang karena aku. Dan sekarang kau menyelamatkan nyawaku,” ujar Tectona dengan wajah penuh rasa bersalah.
            “Aku kan temanmu...Sudah seharusnya aku menjagamu,” sahut Grandis sambil menepuk pundak Tectona.
            Tampaknya monster sengaja ingin menyiksa Tectona dan Grandis. Tapi viator muda yang hebat bukan viator yang mudah menyerah. Meski Viator Tectona sempat kehilangan semangatnya di awal perjalanan. Untungnya selalu ada Grandis yang menemaninya. Viator yang setia dan mendampingi Tectona di tengah tantangan misterius yang selalu menanti mereka di depan.
            Tapi Viator Tectona masih terlihat sedih karena sayapnya terkoyak oleh kekejaman kelelawar. Ia merasa kecil karena senjatanya kini benar-benar mati. Padahal ia telah berusaha untuk menjadi viator yang pemberani. Tapi kenapa kekuatannya malah diambil? Sayapnya telah terkoyak. Kini tinggal sabuk akar yang tersisa. Apa masih cukup kuat untuk melawan monster?
            “Aku nggak yakin kalau kita bisa mengalahkan monster itu. Sayap kita sudah terkoyak, Grandis,” kata Viator Tectona.
            “Kau harus percaya,” Viator Grandis menatap mata Tectona yang sedang digulung dengan ketakutan. “Percaya katamu? percaya untuk apa?” Viator Tectona bertanya heran. Suaranya itu dipenuhi dengan getaran keraguan dan kebimbangan.
Grandis mengangguk dan menghela nafas panjang. “Ya...Kau harus percaya pada dirimu sendiri!” Katanya dengan mantap. Sambil berjalan mendekati Tectona, ia berbisik di telinganya, “Sisanya...Percayalah pada temanmu juga. Teman baik akan menanggung kesedihanmu juga,” kata Grandis dengan suara yang lebih lantang.
“Aku juga yang akan mengulurkan tanganku dan meminjamkan pundakku untukmu,” tambah Grandis lagi disusul dengan senyum manisnya. Grandis pun melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Tectona. Mereka berjanji untuk saling percaya satu sama lain. Perlu kepercayaan yang kuat untuk menyatukan kekuatan mereka. Monster Phryno tak dapat dikalahkan hanya dengan mengandalkan satu kekuatan saja. Grandis dan Tectona harus bersatu.
                                                                        ***
            Hawa panas sudah mulai terasa. Gumpalan asap hitam berkejaran di atas langit. Awan pun dibalut warna kelabu. Tectona menyeka kening dan mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat.
            Tectona dan Grandis disambut genangan lava merah menyerupai aliran sungai yang deras. Di sana berjejer batu-batu sebesar kepala manusia tepat di atasnya. Batu-batu bertekstur kasar harus mereka lompati. Suara gemuruh juga ikut mengiringi perjalanan mereka. Ini artinya mereka sudah semakin dekat dengan si monster Phryno si perusak alam.
“Apa kita harus melompati batu-batu ini, Grandis?” Viator Tectona terlihat semakin panik. Mau tidak mau ia harus mengandalkan kemampuan keseimbangannya. Semua itu bertumpu pada kekuatan kakinya. Karena sayap yang telah terkoyak tak dapat digunakan untuk terbang.
            “Tidak ada jalan lain lagi, Tectona. Tapi tenang saja. Aku akan menjagamu,” kata Grandis berdiri tepat di belakang Tectona. Dengan sangat hati-hati mereka mengarungi sungai lava merah yang mengerikan. Saat Tectona hampir kehilangan keseimbangannya, Grandis selalu siap untuk menopang dan memegang kedua pundak Tectona.
            Melewati aliran lava rasanya seperti berada di api neraka. Asap panas yang menggumpal itu menghambat penglihatan Tectona dan Grandis. Ini perjalanan yang lebih berat dari sekedar memanjat pohon. Lebih menyeramkan dari serangan harimau buas. Perjalanan yang mempertaruhkan nyawa. Karena saat berpijak di atas batu itu  jika tergelincir sedikit saja, maka nyawa akan melayang.
                                                            ***
            “Tectona! Lihat...Kita sudah sampai di Puncak Gunung Phryno!” teriak Grandis sambil menunjuk ke arah gunung api yang menyeramkan itu. Di balik pepohonan yang kering, keluarlah monster phryno bersosok reptil dan berwajah manusia itu.
            “Ternyata kalian berdua memiliki nyali, ya?” kata sang monster menyambut dengan nada meremehkan. Ternyata wujud si monster ini jauh lebih menyeramkan dari apa yang dibayangkan oleh Tectona dan Grandis. Duri-duri tajam menempel disekujur tubuhnya. Tanduk-tanduk besar berdiri di kepalanya. Dan beberapa kali monster itu menyemprotkan percikan darah dari kedua matanya. Darah yang mengandung racun dan siap membunuh lawannya.
            “Mari kita mulai saja pertarungan ini! Kalau kalian kalah, maka hutan dan segala isinya akan menjadi milikku. Termasuk air danau sumber kehidupan para viator!” katanya disusul dengan suara tawa menggelegar. Monster tampak begitu yakin kalau dia akan memenangkan pertarungan di gunung api ini.  
Grandis pun mengerahkan seluruh kekuatannya. Dengan cepatnya ia berlari, lalu berusaha mencambuk wajah si monster jahat. Belum sempat Grandis mencambuknya, si monster langsung menjulurkan lidahnya yang panjang dan melilit tubuh Grandis dan membantingnya dengan keras ke atas tanah.
 “Aaargh...” Grandis menjerit kesakitan. Ia tak kuat menahan rasa sakit. Tubuh Grandis terkulai lemah di atas tanah. Tectona menelan ludah dan melihat darah yang kembali mengalir di tangan Grandis. Ya ampun, malapetaka ini kapan berlalu? keluh Tectona dalam hati.
“Grandis!” Teriak Viator Tectona dengan cemas. Ia berlari menghampiri Grandis. Mulut Viator Tectona merekah—menganga. Terkejut melihat serangan dari monster. Wajahnya diselimuti ketakutan. Rasa cemasnya berarakan menghantui pikirannya. Bagaimana ini? Grandis saja terlempar. Apalagi aku? tanya Tectona dalam hati.
 “Tectona! Aku nggak apa-apa, kok! Sekarang lawanlah monster dengan kekuatanmu. Kamu pasti bisa!” Ujar Grandis tertatih-tatih sambil menggenggam tangan Tectona. Grandis berusaha menahan rasa sakitnya. Tectona mengangguk pelan dan dalam sekejap genangan air mata pun membasahi pipinya.
            “Hahaha...Masih sempat-sempatnya kalian bermesraan! sindir monster dengan tatapan sinis. “Kemarilah Viator Tectona! Hadapi aku!” Sang monster menantang dengan begitu congkak. Tanpa pikir panjang monster itu pun mulai menyemprotkan darah dari matanya ke arah Viator Tectona.
“Lari Tectona! Lari!” teriak Grandis mengingatkan. Dengan lincahnya Tectona pun berlari dan berusaha menghindar dari tembakan darah beracun. Serangan darah yang mematikan. Tectona pun melepaskan sabuk yang melingkar di pinggangnya.
            “Akan kutunjukkan kekuatanku !” Teriak Tectona sambil membanting sabuknya yang terbuat dari akar pohon. Sabuknya itu menjulur sepanjang tali. Lalu dicambukkannya sabuk itu ke atas tanah. Dalam sekejap tanah pun bergetar karena kekuatan Tectona.
“Bagus Viator Tectona! Sekarang saatnya kau serang monster itu!” ujar Viator Grandis yang tetap menyemangati Tectona.
Tectona berusaha mengikat tubuh sang monster dengan sabuknya itu. Dijulurkannya sabuk akar itu ke arah monster raksasa itu. Sayangnya lidah panjang sang monster lagi-lagi menjulur dan menangkis sabuk akar itu. Tectona terkejut dan tercengang. Rupanya serangan dari sabuk akar Tectona masih lemah.
“Serangan macam apa itu? Apa hanya sebatas itu kekuatanmu?” Monster meremehkan Tectona. Dengan secepat kilat sang monster pun berlari dan mengelabui Tectona dan Grandis. “Hei...Kemana perginya monster jelek itu?” Tectona memandang berkeliling dan kebingungan. “Dia mengubah warna kulitnya!” ujar Grandis yang masih terbaring lemas di atas tanah. Monster ini serupa dengan bunglon. Dia memiliki kekuatan untuk merubah warna kulitnya.
Tectona dan Grandis tidak mengetahui di mana monster itu sedang bersembunyi. Mungkin saja di balik bebatuan. Bisa juga ia sedang menyamar menjadi lava. Aku harus berani melawan monster itu. Demi hutanku,” kata Viator Tectona dalam hati. Ia memejamkan matanya. Berusaha mengumpulkan kekuatannya. Lalu ia kembali menggenggam sabuk akarnya.
Diputar-putarnya sabuk itu. Kali ini di balik sabuk akar Tectona terpancar sinar berwarna hijau cerah. Tapi sinar itu terlihat remang-remang. Kekuatan Tectona belum sepenuhnya terkumpul.
Viator Grandis menyipitkan matanya saat melihat sinar hijau yang remang-remang. Cahaya yang mulai muncul, kini meredup. “Sinar ini pasti akan sempurna, Tectona,” kataViator Grandis yang pelan-pelan berusaha berdiri setelah terbaring lemas cukup lama. Dia tak peduli dengan darah yang masih mengalir di tangannya. “Pegang tanganku, Viator Tectona,” kata Viator Grandis sambil mengulurkan tangannya.
Akhirnya Viator Tectona dan Grandis pun berdiri berhadap-hadapan. Lalu bergandengan tangan. Inilah saatnya untuk menyatukan kekuatan. Sekujur tubuh Tectona dan Grandis perlahan mulai mengeluarkan sinar berwarna hijau. Sinarnya semakin terang dan menjadi silau. Sabuk akar milik Tectona diselimuti oleh terangnya cahaya hijau yang tak lagi pudar. Begitu pula dengan sabuk akar milik Grandis.
“Aku tahu monster phryno sedang menyamar menjadi batu! Dia ada di sana!” teriak Grandis sambil menunuk ke arah batu. Viator Tectona dan Grandis bersiap-siap mengerahkan kekuatan mereka lewat senjata yang masih melekat pada diri mereka.
Mereka berdua bersama-sama mengerahkan kekuatan lewat senajata yang mereka miliki. “Senjata ini hidup karena jiwa yang berani,” kata Viator Grandis sambil mencabuk wajah si monster dengan sabuk akar panjang yang dibalut cahaya hijau.  “Aaargh! Hentikan!” teriak sang monster yang merintih kesakitan. Wajahnya terkoyak akibat pukulan dan hantaman keras dari Grandis.
“Rasakan pukulan terakhir dariku yang akan membunuhmu!” teriak Viator Tectona sambil melemparkan sabuk itu dan melilit tubuh sang monster besar. Kali ini pukulan sabuk dengan kekuatan cahaya berwarna hijau berhasil merontokkan duri-duri monster phryno. Cahaya yang lahir dari keberanian dan kekuatan-- keyakinan dari dalam diri Viator Tectona. 
Monster phryno pun dalam sekejap berubah menjadi butir-butir pasir dan lenyap. Dia tenggelam dalam tanah kering di lereng gunung api.
                                                ***
“Atas keberanian dua viator yang hebat. Aku hendak memberikan kalian hadiah,” kata Ratu Azzola sambil berjalan mendekati danau—sumber kehidupan para viator dan seisi hutan. Ratu Azzola memejamkan matanya dan air dari danau itu pun mengeluarkan percikkan cahaya.
Viator Grandis dan Tectona saling beradu pandang. Mereka bingung dengan hadiah yang akan diberikan. Tiba-tiba di balik punggung Viator Grandis keluar sebuah cahaya hijau silau. Begitu pun dengan Viator Tectona. Sayap mereka yang sempat terkoyak kini tumbuh kembali.
Tersungging senyum manis di bibir Tectona. Belum pernah Grandis melihat Tectona sesenang ini. “Ratu terimakasih atas sayap ini,” kata Grandis dan Tectona dengan begitu bangga. “Semua ini berkat keberanian kalian. Pengorbanan kedua viator yang pemberani. Kalian layak mendapatkan sayap kalian kembali,” ujar Ratu Azzola disusul dengan senyumnya yang penuh kehangatan.
Hutan Lamiales sudah dapat bernafas lega. Berkat keberanian Viator Grandis dan Tectona yang berani mengalahkan monster phryno. Kemenangan tak akan tercapai kalau dua kekuatan hebat belum menyatu.
Tapi kini Tectona dan Grandis sudah melebur menjadi satu. Itulah kekuatan sejati milik Hutan Lamiales.





                                                       



Langit Orange Harapan Setiap Insan


Dari tersembunyi hingga terbuka menjadi langit orange yang membara. Langit cerah yang mengisyaratkan lahirnya  harapan dari setiap insan



Waktu ini, lagi-lagi guru tercinta gue si Ma'm Yully masih di kamar. Dan gue ini orangnya nggak bisa diam. Sebenarnya bukan karena gue rajin bisa bangun pagi, tapi gue nggak bisa tidur. Jadi, gue ajak si Clerence again untuk nemenin gue capture foto ini. Saat gue ngelihat pemandangan ini, gue sama Clerence make a wish tentang harapan-harapan kita biar lulus Ujian Nasional. Hahahaha. Dan gue berdoa suatu saat gue jadi jurnalis


Cerita Baru dari Rumah Sederhana


Berawal dari sebuah rumah kecil nan sederhana, dengan sepasang pohon yang berdiri mesra. Tempat dimulainya cerita pagi yang baru

Ini adalah hasil capture-an gue di PAGI hari. Kalau yang tadi di kala Ma'm Yully udah tidur, sekarang di kala Ma'm Yully masih tidur, gue dan Clerence udah jadi fotografer hunting foto keren ini. Di sini gue ngelihat betapa kerennya pemandangan yang super duper jarang gue dapat di kota.

Saat lihat pemandangan ini, gue rasanya itu sejuk, masalah gue, keresahan, dan ketakutan gue mendadak luntur sejenak

Bulan Imajinasi Menyapa di Waktu Malam

Malam datang, Bulan imajinasi menyapa Kota Bogor

Ini foto yang gue ambil, waktu gue, Clerence, dan Ma'm Yully hang out ke Bogor. Gue bangun pagi-pagi buta demi capture foto ini. Di saat si Ma'm Yully udah tidur di alam mimpi, gue pun masih segar bugar, bangun dan menikmati pemandangan bareng si Clerence demi capture foto ini. Gue menikmati pemandangan ini sambil mencari inspirasi untuk menulis.





Lomba Pekan Seni Mahasiswa Daerah 2014. Yes! I won this competition












Dari Setitik Kata Jadi Perjalanan Kata

Titik
Apa kau ingin lihat titik dari perjalanan ini?
Kurasa masih terlalu dini untuk bertemu titik

Itu adalah sepenggal puisi buatan gue. Ya, gue memang gemar menulis. Sering gue mengekspresikan perasaan gue lewat kata dalam puisi.

Biasalah, soal perasaan nggak jauh-jauh banget. Gue cerita soal kegirangan gue saat kumpul sama teman-teman dan semua petualangan konyol,gila, dan unforgettable bareng mereka.

Di sela-sela istirahat di kampus atau lagi nunggu dosen, gue  nyempetin diri untuk nulis. Well, meskipun tulisan gue belum sekelas Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, tapi gue suatu saat nanti mau banget jadi sastrawan hebat. Bermimpi boleh dong?

Btw, di fakultas gue ada loh dosen yang kagum sama dunia sastra. Dosen gue ini seneng sama puisi Sapardi Djoko Damono, yang isinya begini

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya abu".

Nah, dosen gue yang seneng ama puisi ini namanya Untung. Doi salah 1 dosen psikologi komunikasi. Di kelas Pak Untung, gue juga pernah nulis sebuah artikel dan judulnya Belajar estetika dari sang seniman.

Waktu itu,gue lagi bingung sebenarnya nentuin judul. Eh, doi tiba-tiba mampir ke meja gue. Gini nih katanya, "Isinya bagus. Judulnya dibikin simple aja. Belajar estetika dari seniman. Kamu bahas W.S. Rendra, isinya, kamu artiin dikit. Lanjutin ya," katanya dengan mata berbinar-binar.

Pas banget nih masukan dari doi soalnya doi kan emang penggemar puisi juga ya. Minggu depannya dia ngumumin di kelas kalau artikel gue nih kece punya. Ya, gue seneng lah,secara gue suka nulis. Tapi gue ngerasa bakat nulis gue masih perlu diasah.

 Nah, lepas kenal ama doi, beberapa kali kita sering diskusi soal tulisan-tulisan gue. Ehm...Lebih tepatnya cerita gue waktu sekolah dulu. Doi ngutarain semua pendapatnya dan kita jadi sering ngobrol deh. Dari semester 1 naik ke semester berikutnya, kami sering bahas cerita gue, mulai dari yang teenlit anak SMA, sampai yang fantasi. Kalau puisi sih ya masih kelas cetek. Gue belom berkarya di puisi sehebat Chairil Anwar dan Sapardi. Intinya cuma coba mencari makna di balik kata-kata sastrawan tersohor itu. Doi jadi teman gue bertukar ide soal dunia tulis menulis.

Pas gue semester 4, tepatnya lagi liburan, sih tiba-tiba HP gue berdering eh ternyata ada telepon masuk dari doi.

 "Astrid,hari senin bisa ketemu saya? Saya mau kamu ikut lomba cerpen". Kurang lebih kata-kata doi begitu di telepon.

Gue senang lah. Jingkrak-jingkrak bukan main (Sorry agak lebay). Lomba cerpen...Mau banget gue. Dan yang terlintas di benak gue itu soal cerita sekolah gue yang super gokil, iseng, konyol. Gue berencana pakai cerita itu untuk lomba. Eitssss tapi,tiba-tiba badan gue mendadak membeku. Trus rasanya ada aliran panas seperti api yang menggerogoti badan gue.

OMG. itu semua terjadi saat gue ketemu doi. Pas doi bilang "Nanti tema lombanya itu tentang Indonesia, kayak politik, lingkungan hidup, serius serius pokoknya temanya. Soalnya ini ajang Peksimida. Pekan Seni Mahasiswa Daerah". Duh saat itu gue bingung.Nggak cuma itu, badan gue pun langsung mendadak lemas. Gue bak orang yang bisu, bibir gue rasanya bergetar buat mengiyakan statment doi barusan...

Gubrak, rasanya gue mau teriak minta tolong, tapi suara gue kayak hilang. Bibir gue macem dilakban. Saat itu dengan berat hati gue jawab "Iya, Pak. hehehe.Lombanya kapan?" kata gue dengan nada suara bergetar. Dan doi sambil senyum-senyum girang, "Nanti saya telepon kamu lagi untuk kabarin ini ya. Btw besok ke sini lagi. Kamu harus ketemu wakil rektor sama Bu Ida yang biasa bantu warek ya," jelasnya lagi.

Jleb. Gue nelen ludah saat itu. Oke. Gue akuin gue memang suka nulis cerpen tapi gue belom pernah nulis topik serius
Siapa lah gue ini, hanya anak kuliahan semester 4 yang gemar nulis. Tapi dunia gue seputar kegalauan cinta remaja, baper baperan, soal anak sekolahan deh. Apa bisa nih gue nulis soal topik politik ,ekonomi, tanah air. Kalau besok ketemu warek, gue ditanya nggak bisa jawab soal cerpen malu lah gue

 Itu pikiran yang menghantui gue. Udah deh saat itu kepala gue kayak ditimpa timpa ama batu bata. Trus rasanya ada benang kusut yang nggak kunjung rapih. Di sepanjang jalan pulang di dalam busway, gue rasanya hampa dan merana.

Duh, nggak ada kata kata lagi yang sanggup jelasin kekacauan saat itu. Bahkan rasanya yang gue tumpahin sekarang ini belom cukup ngegambarin betapa bingung dan merananya gue.

Tapi gue mau nggak mau besok kudu ke kampus. Dan jreng. Sampailah gue di kantor warek. Kantornya keren, jangan sampai dinodai oleh pikiran gue yang terbatas ini. Sang warek menyambut gue dan menyalami gue. Ad Bu Ida juga di sana yang senyum-senyum, sepertinya mereka naro harapan ya kalau gue ini dalam bayangannya adalah penulis hebat, lalu diminta mewakili lomba.Padahal gue ini hanyalah pemula.

"Kamu Astrid ya. Iya Pak Untung udah bilang kamu ikut lomba nulis. Eh tapi nulis puisi ya bukan cerpen. Soalnya cerpen udah duluan anak teknik yang daftar," kata Bu Ida dengan santainya.

Jreng....jreng.....Piano Mozzart berbunyi. Dan gue makin mau pingsan. Cerpen dalam bayangan gue kata-katanya masih lumayan. Maksudnya nggak banyak bener ramai sama diksi. Kalau puisi kan ada diksi, majas, itu udah kayak bahasa alien deh. Gue sempet nggak berkutik. Kaki, dan tangan gue seperti lumpuh sejenak. Dan gue berusaha masang muka ramah dan berujar, semua bakal baik-baik aja. Ya, menghibur diri lah gue.

Warek pun menyodorkan kertas untuk pendaftaran lomba. Ya, ada wejangan dari warek sebelum lomba. "Menang tidak menang tidak masalah. Yang penting pengalamannya". Itu benar, tapi nggak mungkin dong puisi gue malu-malu in banget nanti.

Nggak beberapa lama setelah dapat santapan kesejukan dari warek, gue ditelepon ama Pak Untung. "Gimana? tadi kamu udah ketemu warek, Strid? Ke sini lagi ya nanti ketemu saya." Sesampainya gue di fakultas, gue cerita ke doi kalau gue abis kena big disaster.

"Jadi kamu diminta lomba puisi? oke nggak papa. Kamu latihan sama saya sini ayo tulis puisi apa pun sekarang.tema nya bebas dulu deh," ujarnya sambil nyuruh gue nulis di kertas. Doi duduk di seberang gue di meja dosen lebar nan panjang, yang biasa dipakai para dosen untuk makan siang.

Puisi yang gue tulis judulnya Pangeran dalam Goa.

Ada keraguan di antara kaki dan mata.
Kaki ingin melangkah tapi mata enggan menatap goa
Kuputuskan untuk hapus ingatan tentang titik.
Kuingin berikan setangkai mawar untuk titik.
Oh, titik, kalau bukan cinta cuma luka di atas duri yang akan kubawa pulang.

Doi membaca puisi gue sambil senyum-senyum.
 "Keren loh puisi kamu. Tapi kalo saya jadi kamu,judul puisinya bukan pangeran dalam goa. Tapi judulnya TITIK"

Dan gue tanya ke doi "Ooh gitu ya pak?"

Doi bales "Iya dong.  Kamu kan orangnya MISTERIUS. Jadi judulnya pun harus misterius."

Gue agak bingung pas doi bilang gue misterius. Dari sisi mananya gue misterius coba? Ah tapi kagak penting lah. Gue kudu fokus ama ini puisi dulu. Trus berhubung udah sore banget, doi bilang ke gue, coba di rumah kamu baca-baca buku atau cari di internet tentang puisi Sapardi, Rendra, dll. Yaps...Gue dikasih PR juga ujung-ujungnya untuk nulis puisi serius.

Gue terimalah tantangan doi. Dan gue kebingungan pas di rumah. Karena gue ngerasa gue cuma bisa apresiasiin puisi dengan mengartikan, mencari makna dari puisi yang udah jadi. Untuk bikin karya sendiri itu tampaknya jauh di atas ekspektasi gue.
Rasanya gue mo bilang ke doi kalo gue mundur aja deh lomba puisi. Dan esok harinya, doi ngajarin gue pelan-pelan tentang puisi.

"Gini misalnya kamu disuruh tulis tentang presiden. Ayo astrid. Kamu cari kata-kata apa yang bisa jadi lambang untuk bahasa puisi.Misal presiden kamu cari perumpamaan dari kata presiden apa lagi?" katanya sambil mengambil pen dan menulis di buku akuntansi gue.

Dan saat itu gue terdiam. Otak gue seperti dihunus pedang dan gue nggak bisa mikir. "Apa ya pak?" eh...Kok gue malah nanya balik. Trus doi coba ngasih contoh.

"Misal ini raja untuk bangsaku. Kurindu raja yang tak sekadar memerintah, tapi kumau  raja yang bisa merasa".

Wuih, gue cukup kagum sih ama kata-kata dia. Sederhana tapi oke menurut gue. Masih banyak lagi contoh yang dia kasih. Dan tiba-tiba dia nanya lagi, ayo bisa apalagi Astrid?

Gue jawab "Raja bunglon?" Pak Untung merespons semangat, "Pinter. Tapi hayo kenapa bunglon?"
gue jawab karena bunglon itu bisa mengubah warna sesuai kondisi. Ya, seperti bisa adaptasi.

"Oke kamu kan suka biologi, kimia ya? Bisa Kalau gitu kamu bkin puisi ambil dari perumpaaman itu tapi yang benar ya jangan dikarang-karang," katanya berpesan.

Dan gue dikasih contoh lagi, "Kurindu presiden dengan unsur O. Yang bisa blablabla rakyat.Nah kamu cari, baca tentang unsur-unsur itu. Pulang nanti kamu bikin lagi, besok ketemu saya lagi"

Sebelum gue pulang, doi membagi-bagikan jelly unik nan cantik yang nggak tega untuk gue makan...Hahahaha. Pas disuruh pilih jelly nya, gue ambil yang bentuknya hati. Lucu banget soalnya dan gue foto bareng juga deh sama dosen kece gue yang satu ini. Trus gue pulang ke rumah dengan membawa 3 jelly untuk oleh-oleh di rumah. Oke, balik lagi ke puisi.

Dan di rumah gue malah ngantuk dan leha-leha sejenak sama gadget gue. Tapi besok paginya gue ke TKC dan baca buku biologi, kimia, plus geografi. Gue duduk di TKC kurang lebih 1 jam untuk nulis puisi. FYI TKC iti perpustakaan umum di kampus gue. Singkatan dari Tarumanagara Knowledge Center.

 Gue nggak peduli ini bagus apa nggak, yang jelas gue nyoba nulis. Pensil dan kertas jadi senjata gue. Tapi senjata terbesar gue dari semuanya ada di otak, yang tak lain itu buah pemikiran gue dan hati gue sendiri. Dari mana semua pikiran itu? Kata Pak Untung gue musti putar otak untuk baca banyak buku. Berdiamlah gue beberapa saat di TKC. Gue baca buku geografi, politik, sosial, sejarah, haduh semua pengetahuan umum. Bahkan meski buku geonya itu kayak buku anak-anak yang bergambar itu, tapi gue nggak gengsi kok bacanya. Akhirnya hasil meditasi gue untuk mikir dan nyelesain puisi itu pun kelar.

 Dan saat gue tunjukin ke doi, doi pun berdecak kagum.

"Siapa bilang kamu nggak bisa nulis puisi? Tuh bisa. Saya yakin kamu pasti bisa besok. ini bagus loh. Raja bunglon . Raja yang mengganti kulitnya dengan keringat rakyat. Raja yang rela kulitnya disengat matahari. Good," katanya tersenyum menatap gue. Seolah senyumannya itu memberi harapan ke gue, "Lo nggak perlu takut. Nggak ada yang perlu gue takutin. Wuih! Hangat deh pokoknya.

Btw, itu udah hari Jumat. Gue bertanding hari Senin. Sisa 2 hari lagi menuju perlombaan gue di UNJ. Kata dia sih gue nggak harus menang, tapi yang penting gue coba yang terbaik sejauh yang gue bisa. Doi juga bilang dengan gitu setidaknya gue punya sejarah spesial dalam hidup gue. Mirip nih sama kata-kaya Warek. Hehehe. "Oke, selamat berlomba Astrid," pesannya dengan senyum hangatnya yang tak pernah gagal untuk meredakan rasa panik gue.

Nah, sorenya gue kembali ketemu warek dan Bu Ida. Saat gue lagi berbunga-bunga udah bisa nulis puisi, eh malah Bu Ida bikin gue galau. Kan...kan..kan...Dunia gue nggak bebas dari rasa galau.

"Trid..Yang lomba cerpen kagak bisa ikut. Lagi ujian. Kamu balik lagi aja ke cerpen," katanya dengan nada santai,super ringan. Dan gue saat itu jadi ciut, ya gagal fokus juga. Baru aja senang dipuji sama puisi gue, eh mendadak disuruh ganti cerpen. Tadi udah latihan puisi, udah dibikin nyaman sama puisi, masa iya, ciyus? Diganti sekarang cerpen? Haduh.

Gue langsung sms Pak Untung. "Pak, saya nggak jadi lomba puisi. Disuruh balik ke cerpen".
Dan tiba-tiba, Pak Untung bales pesan singkat gue,  "Nggak papa. Kamu bisa kan cerpen?"

Lalu gue nanya ke Bu Ida, "Bu apa nggak bisa saya balik ke puisi? Musti cerpen ya?" Nah, kok gue sendiri jadi bimbang.

Giliran gue udah nyaman puisi, disuruh balik ke cerpen. Di situ gue merasa sedih. Kenangan-kenangan gue nulis bareng Pak Untung bakal pecah berkeping-keping dong. Haduh....Lebay sih emang, tapi emang gitu rasanha gue.

Kan ngewakilin kampus. Nggak cuma fakultas. Gue nggak mau sampai salah milih, nih. Otak gue seperti melakukan pemberotakan dan pergulatan. Apa mending cerpen,karena bahasa nggak berat-berat amat. Eh, tapi di satu waktu
 gue galau lagi.

"Ya udah kamu kasih jawabannya besok sore ya saya tunggu," kata bu Ida sambil nyodorin gue snack. Duh, gue jadi kagak nafsu ama snacknya. Saat gue tengah dihadapkan sama pilihan.

Di saat gue bimbang, gue pun sms Pak Untung. "Pak saya sekarang malah jadi dibebasain boleh pilih mau cerpen apa puisi. Saya jadi takut sih. Kalo puisi berat...Cerpen juga takut saya kosa kata saya gitu-gitu aja. Gimana dong pak?"

"Kamu harus tanya sama hati kecil kamu. Saya dukung pilihan kamu," balasnya di sms. Trus entah gimana, gue tiba-tiba diem dulu dan tergerak untuk memilih puisi. Di sana seperti hilang rasa hampa gue. Lalu, gue hubungin Bu ida,"Bu saya puisi ya". Fix banget puisi. Jiah.

                                            ####

Dan sesaat sebelum lomba dimulai, ada sms masuk ke HP gue.Itu semacam SMS penguatan di kala gue kesepian, duduk di kursi Kampus UNJ sendirian.
"Kamu harus PD. Saya yakin kamu bisa kok," kata Pak Untung via sms. Oke, gue nggak peduli gue menang apa nggak yang jelas gue coba sebisa yang gue mampu.

Saat di UNJ hari senin 23 Juni, gue lihat banyak anak UI seliweran di sana. Salah 1 anak UI ada duduk di bangku tepat di depan meja gue. Dan gue jadi mendadak ciut.

Ooh..Tapi gue nggak boleh lemah, gue inget ama kata-kata Pak Untung. Lalu gue berdoa. Saat itu panitia datang dengan baju. Dari jauh dia memberi komando "Selamat datang peserta,saya memberi info bahwa kalian bisa menulis puisi dalam waktu 4 jam dengan tema cinta tanah air. Tapi laptop kalian nggak bleh disambung ke internet ya."

Trus bertele-tele dibacakan aturan-aturan puisi lainnya. Katanya nggak boleh ada tipografi apalah..Jiah..gue aja nggak paham itu apaan lagi. Tapi gue tulis, gue inget kata-kata si Pak Untung waktu ngajarin gue nulis. "Tema kali ini tentang cinta tanah air ya," kata Panitia yang lebih senang disapa Ibu daripada mbak ini.

Dan selama lomba berlangsung, gue sering bingits lirik ke arah anak UI. Dia kelihatan santai dan cepat, trus detik-detik mau ngumpul gue kok jadi ciut lagi ya? Tapi bodo amat. Gue punya karya gue sendiri kok. Siapa tahu kan nggak kalah kece? But, dia anak sastra, lho.Sastra. Agak mau nyerah sih waktu itu. Nah, kalau yang duduk di belakang gue itu anak jurnalistik. Ooh gue hanyalah sekecil titik. Tak terasa ternyata tiba-tiba udah sore aja.

Saat gue ngumpul karya ke depan, gue malu-malu gitu. Tapi ya udah deadline nya. Terlepas dari apa pun hasilnya, gue cukup puas udah berhasil melalui lomba ini

Gue lumayan bernapas lega, selesai juga. Dan FYI, selama lomba gue difoto-foto ama ibu pantia dan kakak-kakak dari BEM UNJ. Ampun deh, ya lumayan tapi ada hiburan,bisa bikin gue tertawa sejenak. Dan usai lomba ada beberapa anak peserta lomba yang ngajak gue kenalan. Ada Nana, Yana, Novi, dan Tiara. Sekarang, guys, mereka jadi temen gue nulis puisi di grup wa gue yang judulnya young writer gigan.

Oke, nanti bakal ada pembahasan tersendiri soal mereka. Sekarang gue mau bahas lagi soal lomba puisi konyol ini yang katanya hasilnya ngebut kayak maraton. Alias bakal ketahuan langsung besok. Gue sih pasrah aja. Kayaknya anak UI yang bakal menang lah.

Tapi,siapa sangka jam 12.30 tanggal 24 Juni 2014, jadi tanggal bersejarah buat gue. Si Pak Untung nelepon gue dan bilang "Selamat Astrid kamu juara 2 loh nulis puisi."

Trus, gue seneng bukan main. Secara pemula gini gue, lumayan banget dong juara 2. Aduh, puji Tuhan banget. Dan temen-temen gue di youngwriters gigan ngucapin selamat juga.

Hari Rabu nya gue ketemu sama Pak Untung dan kita ngobrol,cerita tentang lomba dan intinya dia bilang "Nanti kamu kalo ada lomba lagi coba lagi ya. Kamu keren itu bagus. nggak papa juara 2. Itu keren kok. Kamu bagus. Nanti besok-besok, belajar, kurangnya dimana, diperbaiki. Oke? Oh ya jadi kamu dapet temen baru ya di sana?" katanya sambil tertawa tawa girang. Senang dah gue lihatnya. Pemandangan menyejukkan kalau si Pak Untung happy juga.

Dan hari itu gue ngerasa senang banget karena ternyata gue nggak cuma jadi penikmat puisi, tapi gue berkarya. Gue bukan cuma baca tulisan Sapardi, bukan juga baca puisi Chairil Anwar. Udah nggak sekadar membaca. Level gue naik jadi menghasilkan karya. Hemh, tapi apresiasi dalam membaca nggak akan pernah gue tinggalkan. Karena menulis adalah mustahil tanpa membaca.

Tapi, gue Astrid sekarang ini bisa nulis puisi sekece ini nggak lepas dari bimbingan mentor gue, Pak Untung.Di sisi lain, mentor ini juga menjadi sahabat terbaik gue dalam menulis Bahkan gue mulai menggiati nulis puisi untuk tema-tema yang cukup berat. Tapi yang jelas gue akan tetap dan terus belajar, supaya kelak gue bisa jadi sastrawan tersohor yang bikin pembacanya berdecak kagum dan memberikan tepukan gemuruh untuk puisi yang gue tulis.

FYI, judul puisi gue "Kuhapus Rintihan Pulauku". Ini puisi yang menang juara 2 di ajang perlombaan PEKSIMIDA (Pekan Seni Mahasiswa Daerah tahun 2014).