GIGAN. Tentang Aku dan Mizmiz Teman yang Tak Tergantikan
Oleh:
Patricia Astrid Nadia
“Aduh! Gawat…Namaku dipanggil
dosen,” ujar Mizmiz dengan raut wajah panik. Ia tercengang saat membaca pesan
yang masuk melalui HP-nya. Dia langsung bergegas ke dalam kelas sambil menggigit
bibirnya. Ditambah lagi, isi kepalanya penuh dengan bayangan wajah dosen yang
menyeramkan. Rasanya seperti sedang dihantui dan dikejar-kejar oleh mimpi
buruk. Tiba-tiba kakinya terasa seperti orang lumpuh. Sulit sekali berjalan.
Mizmiz pun masuk ke kelas tanpa menyapa dosen yang sedang mengajar di kelas
itu.
“Hei…Kamu yang baru datang!” Teriak
dosen berbaju merah dengan tatapan setajam mata pisau. Matanya seolah berbicara
bahwa tak ada maaf bagi Mizmiz. Terkejut akan hal itu, sekujur tubuh Mizmiz
langsung membeku. Bibirnya seakan mati rasa dan tak sanggup menjawab pertanyaan
dosen. Ya ampun, badanku mendadak terasa
panas. Padahal AC di kelas dingin sekali, gumam Mizmiz dalam hati.
“Darimana kamu? Menitip absen dengan
teman, lalu mau bergegas untuk kabur, ya? Kata dosen itu dengan nada membentak.
Tapi Mizmiz menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk membela diri. “Nggak
kok, Pak Billy. Tadi saya ke kamar mandi sebentar,” Mizmiz menjelaskan dengan suara
yang penuh getaran di sepanjang kalimat. Jantung Mizmiz langsung berdetak
kacau—tak beraturan. Mimik wajahnya seperti orang yang sedang berhadapan dengan
harimau buas. “Ooh…1 jam lebih ya di kamar mandi? Apa pun alasan kamu, tetap
saya catat kalau kamu bolos,” teriak Pak Billy sambil mengeluarkan catatan
kecilnya. Dan hal itu membuat Mizmiz semakin tegang dan tangannya semakin
terasa dingin.
***
Astrid tertawa terpingkal-pingkal
saat Mizmiz selesai menceritakan pengalaman pahitnya di kampus. Awalnya, Astrid
berusaha menahan rasa gelinya, tapi ternyata tak berhasil. Dalam benak Astrid
telah terbayang wajah Mizmiz yang dibalut rasa cemas dan canggung saat
berhadapan dengan dosen. “Pasti kamu jadi model cantik yang membeku di depan
kelas, kan?” Sindir Astrid dengan raut wajah iseng.
Mizmiz melipat tangannya dan
menggerutu kembali, “Selama di kampus semua terasa hampa dan menyedihkan, Trid.
Obrolanku dengan teman-teman di kampus rasanya nggak nyambung.” Tergores
kesedihan di wajah Mizmiz yang tak bisa disembunyikannya lagi. Selama ini, dia
sudah terlalu sering bersandiwara dengan teman-teman kampus. Sering ia berpura-pura
terlihat senang dan tertawa saat istirahat, dan dengan pasrah membicarakan
topik yang sebenarnya hanya membuatnya pusing dan menguap berkali-kali.
“Kalau aku nggak seperti itu, nanti
aku nggak punya teman di kampus, Trid,” Mizmiz menjelaskan sambil memukul
keningnya. Dia berharap semua teman semasa sekolahnya dapat berkumpul di kampus
dan jurusan yang sama. Tapi tentunya itu hal yang mustahil. “Lalu apa lagi yang
membuat kamu hampa di kampus, Miz? Trus apa yang biasanya kamu lakukan?”
tanyaku penasaran.
Pelan-pelan Mizmiz menarik napas
panjang dan mengingat kembali kejadian menyebalkan bersama teman kampusnya.
“Aku pernah nangis di kampus, Trid. Dan reaksi mereka pun biasa-biasa saja,”
tukas Mizmiz pasrah. Mizmiz tak habis pikir melihat rekasi temannya yang datar
saat dia menangis. Tepatnya, teman-temannya bersikap cuek-acuh tak acuh. Rasanya
dia terlihat seperti orang asing yang sedang terdampar di tengah-tengah mereka.
Sindiran dan ejekan selalu menjadi makanan lezat yang dilontarkan untuk Mizmiz.
“Mereka tak pernah bosan mengejekku
karena belum punya pacar,” Bahkan nilai-nilai ujian mereka berbeda 180 derajat
dengan nilaiku. Di saat Mizmiz kehabisan ide dalam mengerjakan tugas, tak ada
satu pun dari teman-temannya yang menjelma menjadi malaikat dan membantunya.
Tapi, Mizmiz sebisa mungkin menjadi peri yang memberikan bantuan untuk teman-temannya.
Parahnya
lagi, mereka selalu memaksa Mizmiz mengerjakan hal-hal yang sangat dibenci
Mizmiz. Ya…Duduk di restoran sambil sibuk dengan gadget masing-masing. Lebih
baik berbincang-bincang dengan tembok dan batu, daripada harus ngobrol dengan
mereka, gerutu Mizmiz dalam hati.
“Saat aku lagi sakit, mereka itu nggak mau
meminjamkan catatannya untukku, Trid,” kata Mizmiz sambil memukul-mukul meja.
Tapi, dia sudah berkali-kali menjadi korban dari ulah teman-temannya. File
tugas yang ada di dalam laptop-nya pun hilang karena temannya. Semua kejadian
menyebalkan itu membuat rambut Mizmiz rontok dalam jumlah yang banyak.
“Nilai ujianku yang jelek juga
sering menjadi bahan ledekan mereka,” Mizmiz kecewa dan kehilangan akal untuk
kembali menjadi Mizmiz yang ceria seperti biasanya.
Astrid akhirnya teringat akan sesuatu. “Kamu ingat
nggak Miz kalau waktu SMA kita punya rencana untuk membangun usaha toko buku?”
tanya Astrid dengan wajah yang berbinar-binar. Seakan kedua bola matanya
bersinar dan memancarkan harapan baru. Mizmiz pun mengangguk, “Iya…Aku ingat
kok, Trid. Lalu?”
“Gimana kalau kita mulai mewujudkan toko buku itu
dari sekarang?” ajak Astrid menawarkan. Pasti dengan cara ini, Mizmiz akan
bangun dari rasa tidak berdaya dan segala kelemahan yang menempel pada dirinya.
Dia bukanlah Mizmiz yang bodoh seperti yang dikatakan oleh teman-teman
kampusnya.
“Wah…Boleh banget tuh, Trid!” ujar Mizmiz sambil
menampilkan tawa cerianya kembali. Tampaknya pelan-pelan rasa hampanya mulai
tersapu oleh mimpi tentang toko buku itu. Astrid segera mengeluarkan buku
catatan kecilnya dan menulis barang-barang yang akan dijual di toko bukunya
nanti.
“Kita buat rancangan kasarnya dulu ya, Miz. Aku
yakin usaha toko buku ini akan jalan suatu saat nanti. Yang penting kita saling
percaya dan nggak takut mencoba, Miz.” Mizmiz mengangguk setuju dan ingin
membuktikan bahwa dirinya adalah perempuan yang ceria, pemberani, dan memiliki
sahabat terbaik yang selalu ada di sampingnya. Yang tak lain adalah Astrid.
“Jangan biarkan nilai-nilai ujian kamu jadi jelek
hanya karena kamu terbawa emosi dengan teman-teman kampus kamu, Miz. Tetap jadi
diri kamu sendiri aja,” kata Astrid
mengingatkan Mizmiz yang belakangan ini mudah kehilangan semangat. Sudah
sering juga Mizmiz bersandiwara layaknya robot yang dapat diperintah dengan
mudahnya. Mizmiz tak perlu lagi berpura-pura di depan teman-temannya. Dan dia harus
mulai berani untuk menjadi dirinya sendiri. Bukan bersembunyi seperti sedang
main petak umpet dengan teman kampusnya. Selama ini dia terlihat lemah
“Mulai sekarang aku nggak akan kelihatan lemah di
depan teman-teman kampus. Aku tidak selemah robot yang bisa digerakan oleh
mereka sesuka hati.” Mizmiz berjanji dalam hatinya. Dan dia berjanji akan
memulai usaha toko bukunya bersama Astrid.
“Gimana kalau toko buku kita namanya Gigan? Akan
kubuktikan kalau aku bukan Mizmiz yang lemah” kata Mizmiz dengan penuh percaya
diri.
“Oke…Gigan!” Teriak Astrid sambil melingkarkan jari
kelingkingnya pada jari kelingking milik Mizmiz. Janji jari kelingking. Gigan
itu artinya besar. “Jadi, jangan pernah takut untuk mewujudkan mimpi kamu menjadi
kenyataan, Miz”, kata Astrid menyemangati.
“Pasti!” sahut Mizmiz sambil melemparkan senyum
manisnya yang seolah sedang berucap, Toko Buku Gigan akan berjalan sebentar
lagi.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar