Rabu, 09 Maret 2016

GIGAN. Tentang Aku dan Mizmiz, Teman yang Tak Tergantikan

GIGAN. Tentang Aku dan Mizmiz Teman yang Tak Tergantikan
Oleh: Patricia Astrid Nadia
            “Aduh! Gawat…Namaku dipanggil dosen,” ujar Mizmiz dengan raut wajah panik. Ia tercengang saat membaca pesan yang masuk melalui HP-nya. Dia langsung bergegas ke dalam kelas sambil menggigit bibirnya. Ditambah lagi, isi kepalanya penuh dengan bayangan wajah dosen yang menyeramkan. Rasanya seperti sedang dihantui dan dikejar-kejar oleh mimpi buruk. Tiba-tiba kakinya terasa seperti orang lumpuh. Sulit sekali berjalan. Mizmiz pun masuk ke kelas tanpa menyapa dosen yang sedang mengajar di kelas itu.
            “Hei…Kamu yang baru datang!” Teriak dosen berbaju merah dengan tatapan setajam mata pisau. Matanya seolah berbicara bahwa tak ada maaf bagi Mizmiz. Terkejut akan hal itu, sekujur tubuh Mizmiz langsung membeku. Bibirnya seakan mati rasa dan tak sanggup menjawab pertanyaan dosen. Ya ampun, badanku mendadak terasa panas. Padahal AC di kelas dingin sekali, gumam Mizmiz dalam hati.
            “Darimana kamu? Menitip absen dengan teman, lalu mau bergegas untuk kabur, ya? Kata dosen itu dengan nada membentak. Tapi Mizmiz menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk membela diri. “Nggak kok, Pak Billy. Tadi saya ke kamar mandi sebentar,” Mizmiz menjelaskan dengan suara yang penuh getaran di sepanjang kalimat. Jantung Mizmiz langsung berdetak kacau—tak beraturan. Mimik wajahnya seperti orang yang sedang berhadapan dengan harimau buas. “Ooh…1 jam lebih ya di kamar mandi? Apa pun alasan kamu, tetap saya catat kalau kamu bolos,” teriak Pak Billy sambil mengeluarkan catatan kecilnya. Dan hal itu membuat Mizmiz semakin tegang dan tangannya semakin terasa dingin.
                                                              ***
             Astrid tertawa terpingkal-pingkal saat Mizmiz selesai menceritakan pengalaman pahitnya di kampus. Awalnya, Astrid berusaha menahan rasa gelinya, tapi ternyata tak berhasil. Dalam benak Astrid telah terbayang wajah Mizmiz yang dibalut rasa cemas dan canggung saat berhadapan dengan dosen. “Pasti kamu jadi model cantik yang membeku di depan kelas, kan?” Sindir Astrid dengan raut wajah iseng.
            Mizmiz melipat tangannya dan menggerutu kembali, “Selama di kampus semua terasa hampa dan menyedihkan, Trid. Obrolanku dengan teman-teman di kampus rasanya nggak nyambung.” Tergores kesedihan di wajah Mizmiz yang tak bisa disembunyikannya lagi. Selama ini, dia sudah terlalu sering bersandiwara dengan teman-teman kampus. Sering ia berpura-pura terlihat senang dan tertawa saat istirahat, dan dengan pasrah membicarakan topik yang sebenarnya hanya membuatnya pusing dan menguap berkali-kali.
            “Kalau aku nggak seperti itu, nanti aku nggak punya teman di kampus, Trid,” Mizmiz menjelaskan sambil memukul keningnya. Dia berharap semua teman semasa sekolahnya dapat berkumpul di kampus dan jurusan yang sama. Tapi tentunya itu hal yang mustahil. “Lalu apa lagi yang membuat kamu hampa di kampus, Miz? Trus apa yang biasanya kamu lakukan?” tanyaku penasaran.
            Pelan-pelan Mizmiz menarik napas panjang dan mengingat kembali kejadian menyebalkan bersama teman kampusnya. “Aku pernah nangis di kampus, Trid. Dan reaksi mereka pun biasa-biasa saja,” tukas Mizmiz pasrah. Mizmiz tak habis pikir melihat rekasi temannya yang datar saat dia menangis. Tepatnya, teman-temannya bersikap cuek-acuh tak acuh. Rasanya dia terlihat seperti orang asing yang sedang terdampar di tengah-tengah mereka. Sindiran dan ejekan selalu menjadi makanan lezat yang dilontarkan untuk Mizmiz.
            “Mereka tak pernah bosan mengejekku karena belum punya pacar,” Bahkan nilai-nilai ujian mereka berbeda 180 derajat dengan nilaiku. Di saat Mizmiz kehabisan ide dalam mengerjakan tugas, tak ada satu pun dari teman-temannya yang menjelma menjadi malaikat dan membantunya. Tapi, Mizmiz sebisa mungkin menjadi peri yang memberikan bantuan untuk teman-temannya.
Parahnya lagi, mereka selalu memaksa Mizmiz mengerjakan hal-hal yang sangat dibenci Mizmiz. Ya…Duduk di restoran sambil sibuk dengan gadget masing-masing. Lebih baik berbincang-bincang dengan tembok dan batu, daripada harus ngobrol dengan mereka, gerutu Mizmiz dalam hati.
“Saat aku lagi sakit, mereka itu nggak mau meminjamkan catatannya untukku, Trid,” kata Mizmiz sambil memukul-mukul meja. Tapi, dia sudah berkali-kali menjadi korban dari ulah teman-temannya. File tugas yang ada di dalam laptop-nya pun hilang karena temannya. Semua kejadian menyebalkan itu membuat rambut Mizmiz rontok dalam jumlah yang banyak.
            “Nilai ujianku yang jelek juga sering menjadi bahan ledekan mereka,” Mizmiz kecewa dan kehilangan akal untuk kembali menjadi Mizmiz yang ceria seperti biasanya.
Astrid akhirnya teringat akan sesuatu. “Kamu ingat nggak Miz kalau waktu SMA kita punya rencana untuk membangun usaha toko buku?” tanya Astrid dengan wajah yang berbinar-binar. Seakan kedua bola matanya bersinar dan memancarkan harapan baru. Mizmiz pun mengangguk, “Iya…Aku ingat kok, Trid. Lalu?”
“Gimana kalau kita mulai mewujudkan toko buku itu dari sekarang?” ajak Astrid menawarkan. Pasti dengan cara ini, Mizmiz akan bangun dari rasa tidak berdaya dan segala kelemahan yang menempel pada dirinya. Dia bukanlah Mizmiz yang bodoh seperti yang dikatakan oleh teman-teman kampusnya.
“Wah…Boleh banget tuh, Trid!” ujar Mizmiz sambil menampilkan tawa cerianya kembali. Tampaknya pelan-pelan rasa hampanya mulai tersapu oleh mimpi tentang toko buku itu. Astrid segera mengeluarkan buku catatan kecilnya dan menulis barang-barang yang akan dijual di toko bukunya nanti.
“Kita buat rancangan kasarnya dulu ya, Miz. Aku yakin usaha toko buku ini akan jalan suatu saat nanti. Yang penting kita saling percaya dan nggak takut mencoba, Miz.” Mizmiz mengangguk setuju dan ingin membuktikan bahwa dirinya adalah perempuan yang ceria, pemberani, dan memiliki sahabat terbaik yang selalu ada di sampingnya. Yang tak lain adalah Astrid.
“Jangan biarkan nilai-nilai ujian kamu jadi jelek hanya karena kamu terbawa emosi dengan teman-teman kampus kamu, Miz. Tetap jadi diri kamu sendiri aja,” kata Astrid  mengingatkan Mizmiz yang belakangan ini mudah kehilangan semangat. Sudah sering juga Mizmiz bersandiwara layaknya robot yang dapat diperintah dengan mudahnya. Mizmiz tak perlu lagi berpura-pura di depan teman-temannya. Dan dia harus mulai berani untuk menjadi dirinya sendiri. Bukan bersembunyi seperti sedang main petak umpet dengan teman kampusnya. Selama ini dia terlihat lemah
“Mulai sekarang aku nggak akan kelihatan lemah di depan teman-teman kampus. Aku tidak selemah robot yang bisa digerakan oleh mereka sesuka hati.” Mizmiz berjanji dalam hatinya. Dan dia berjanji akan memulai usaha toko bukunya bersama Astrid.
“Gimana kalau toko buku kita namanya Gigan? Akan kubuktikan kalau aku bukan Mizmiz yang lemah” kata Mizmiz dengan penuh percaya diri.
“Oke…Gigan!” Teriak Astrid sambil melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik Mizmiz. Janji jari kelingking. Gigan itu artinya besar. “Jadi, jangan pernah takut untuk mewujudkan mimpi kamu menjadi kenyataan, Miz”, kata Astrid menyemangati.
“Pasti!” sahut Mizmiz sambil melemparkan senyum manisnya yang seolah sedang berucap, Toko Buku Gigan akan berjalan sebentar lagi.

                                                            ***

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar