Selain menulis puisi dan cerpen, sekarang gue coba menulis di kolom Poros Mahasiswa dari Koran Sindo. Well, gue saat ini sebenarnya juga sedang menjadi volunteer reporter di Gen Sindo. Daripada gue cuma menulis skripsi dan galau-galau aja, meding gue menggerakan diri gue, kreativitas gue untuk aktif menulis. Ini dia salah satu tulisan gue di Poros Mahasiswa. Nanti gue akan post juga tulisan gue yang di Gen Sindo. Ini dia selamat membaca tulisan
Mahasiswa Inovatif Rintis Startup
Pembangunan ekonomi negara bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) Kini, SDM Indonesia dihadapkan pada tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Di satu sisi MEA memang memudahkan kerja sama ekonomi, namun di sisi lain ada persaingan sengit dengan pekerja asing. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 25.238 pekerja asing yang datang ke Indonesia pada Januari 2016. Untuk itu, SDM Indonesia khususnya mahasiswa diharapkan mempersiapkan diri menghadapi tantangan itu.
Jangan sampai saat lulus, para mahasiswa terombangambing karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Menurut data dari BPS, total angka pengangguran di Indonesia mencapai 7,45 juta orang pada Februari 2014 hingga Februari 2015 Salah satu penyebab pengangguran ialah jumlah angkatan kerja lebih tinggi ketimbang lapangan kerja yang ada. Ditambah lagi skill SDM Indonesia yang masih kalah saing dengan negara lain.
Untuk itu, skill perlu dilatih sejak muda. Hal ini dapat disiasati dengan memulai bisnis startup sejak kuliah. Bisnis ini merupakan perusahaan yang dirintis dengan menghasilkan produk baru. Mengingat teknologi berkembang pesat, bisnis startup pun membuka banyak peluang. Mahasiswa adalah salah satu pelaku utama yang baik untuk bisnis ini.
Hal yang perlu disiapkan mahasiswa dalam menciptakan produk baru untuk menjadi founder ialah menentukan bidang yang ingin ditekuni, lalu melihat target pasar. Mungkin awalnya target pasar masih sempit, namun perlahan dapat meluas menjadi pasar global. Untuk itu, perlu inovasi yang memiliki daya tarik banyak konsumen. Lebih mudah jika ide berangkat dari potensi, serta minat yang dimiliki.
Setelah matang dengan ide, mahasiswa dapat mengumpulkan temanteman yang memiliki minat yang sama untuk bergabung dan memanfaatkan kemajuan teknologi. Berikutnya, memperluas koneksi dengan teman-teman lain, mulai dari lingkungan kampus. Hal ini tampak pada yang dilakukan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata, yakni Celvin Laviano, Andre, Baskara Arya, Immanuel Andrew, dan Fauzi Ramadan.
Mereka sukses merintis startup game bernama Raxeon di Semarang. Sementara saya memiliki ide startup berupa aplikasi ebook edukatif untuk anak dan remaja. Konsep e-book berisi cerita, namun akhir dari cerita bergantung pada pilihan pembaca. Di beberapa halaman ebook diberikan pilihan, sehingga alur cerita selanjutnya tergantung pada pilihan pembaca.
Ada pembelajaran di balik pilihan yang diambil. Tema cerita berupa kesehatan, budaya, lingkungan hidup. Itu ide startup yang ingin saya coba untuk tujuan edukasi. Tak salah jika mau mengutarakan ide, lalu mencobanya. Masa muda memang harus dikerahkan untuk berkarya. Sayangnya, aktivitas mahasiswa didominasi oleh perilaku konsumtif yang lebih gemar memakai, ketimbang mencoba menghasilkan produk.
Padahal, jika berani memulai startup ada banyak keuntungan. Dengan berbisnis, mahasiswa tak perlu risau akan minimnya lapangan kerja, karena ada penghasilan mandiri. Dengan begitu, mahasiswa turut memperbaiki pembangunan dan pertumbuhan ekonomi negara, serta menekan angka pengangguran. Jika banyak mahasiswa mandiri, status Indonesia sebagai negara berkembang akan bergeser menjadi negara maju. Indonesia harus maju di tangan anak muda inovatif yang punya banyak alternatif.
PATRICIA ASTRID
Mahasiswi Jurusan Psikologi
Universitas Tarumanagara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar