Puisi.
Dua kata yang terlintas
dalam benak gue tentang puisi,
yaitu ANEH dan SUSAH. Rasanya itu gue seperti ada di
sebuah negara lain, dan gue nggak paham bahasa asing mereka. Ya, kurang lebih
rasanya seperti tenggelam di tengah keramaian orang lain juga. Diksi, majas, dan
semua itu bagaikan bahasa alien dalam benak gue. Gue tuh kayak dibikin nggak
berdaya sama yang namanya puisi. Maksudnya bukan terlena sama kata-kata romatis
yang biasa jadi bumbu untuk puisi, tapi gue membeku karena nggak paham arti
dari puisi itu. Untuk kesekian kalinya otak gue plus hati gue masih menganggap
puisi itu ANEH dan SUSAH.
Tapi,
perlahan rasa ANEH dan SUSAH itu sedikit luntur dan bergeser gara-gara moment
tak terlupakan di kelas musikalisasi puisi.
Jadi,
gue dan teman-teman dibagi ke dalam kelompok kecil sama guru bahasa dan sastra
gue. Ini kejadian waktu gue masih polos dan imut di kelas 3 SMP. Untuk ujian
praktik kita semua diminta membawakan musikalisasi puisi. Oke, gue agak shock
dan sedikit tercengang. Gimana enggak secara gue ini kan kalau nyanyi modal nya
cuma percaya diri aja. Paham tentang notasi? Jelas kagak. Yang gue paham itu cuma
modal nyanyi meriah ala-ala orang karaoke.
Dan
sekarang malah disuruh bikin lagu dari puisi para sastrawan tersohor. OMG
banget kan. Gue aja jarang baca karya-karya mereka. Chairil Anwar, Hamid
Jabbar, Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, W.S Rendra, dan masih banyak lagi.
“Kalian
semua saya pecah ke dalam kelompok kecil. Oke Astrid, Bryan, Michelle, Desi,
dan Mario,” teriak Bu Yustin, guru Bahasa dan sastra gue. Gue sedikit mampu
menghirup napas lega setelah mendengar ada Bryan di kelompok gue. Soalnya si
Bryan ini jago main gitar. Nah, jadi gue pikir ah gampang deh ada si Bryan. Dan
saat gue lagi melambaikan tangan ke arah teman-teman gue, Bu Yustin pun ngasih
komando lagi, “Kelompoknya Astrid cari ya puisinya Hamid Jabbar, trus pilih
satu buat dibikin musikalisasinya, ya.”
Mulailah
gue dan temen-temen gue itu ngumpul dan
nyari-nyari di internet puisi-puisinya sastrawan Hamid Jabar itu.
Entah kenapa
ujung-ujungnya yang kelompok gue pilih malah puisi yang judulnya “Aroma Maut.”
Si Michelle terbelalak kaget waktu Bryan
ngusulin judul puisi itu, “Hah....Gila serem amat sih judul puisinya. Aduh,”
katanya panik.
Dan
gue malah dengan percaya dirinya bilang, “Lo pahami kata-kata yang terkandung
di puisinya dong, Miz. Ini bermakna perjuangan,” kata gue sambil menyatukan
kelima jari gue membentuk kuncup. Padahal siapalah gue ini yang bener-bener
juga baru rajin baca puisi di kala ada ujian
datang. GUBRAK !
Akhirnya,
Bryan memutuskan untuk bawa gitar dan gue bawa pianika besok. Padahal pas gue
menekan tuts pianikanya, yang ada
malah terdengar bunyi-bunyi nada
aneh yang nggak harmonis. Bener-bener
nggak karuan. Jujur deh ini kayak lagu abang tukang
bakso mari-mari sini aku mau beli. Kurang lebih aneh banget
nada yang coba gue buat.
Akhirnya,
gue, Mizmiz, Desi, dan Mario
milih untuk lebih meresapi puisinya Hamid Jabbar aja. Ya,daripada kacau gue
nggak paham isinya. Kan mending coba gue hayati pelan-pelan. Ini dia puisi karya Hamid Jabbar yang bakal gue dan
tim musikalisasikan
AROMA MAUT – Hamid JabbarBerapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?
Barangkali satu denyut lepas, o satu denyut lepas
tepat di saat tak jelas batas-batas, sayangku:
Segalanya terhempas, o segalanya terhempas!
Laut masih berombak, gelombangnya entah ke mana-mana.
Angin masih berhembus, topannya entah ke mana.
Bumi masih beredar, getarnya sampai ke mana?
Semesta masih belantara, sunyi sendiri ke mana?
Nah,
kalau gue lebih ngartiin puisi ini sebagai suatu perjuangan kita mencapai titik
akhir. Ya, gue anggap bahwa hidup kita di bumi itu nggak lepas dari sejumlah
masalah. Intinya sih kita masih musti banyak-banyak bersyukur lah,dihantam
gelombang berarti ada tantangan yang harus kita lewati. Artinya kita masih
dipercayakan untuk menghadapi tantangan itu. FYI ada pepatah yang bilang gini,
saat kita masih dihadapkan dan dibanjiri masalah, itu menunjukkan kalau kita
masih hidup alias still alive. Kalau udah nggak ada masalah, ya itu tanda-tanda
deh.
Kira-kira
gitu sih gue coba ngartiin puisinya. Sejauh yang gue tahu kata Bu Yustin, sih,
puisi itu kan interpretasi subyektif dari masing-masing orang. Jadi nggak ada
puisi jelek, atau puisi bagus. Nggak ada juga puisi yang harus serta-merta
diartiin seperti ini atau seperti itu. Karena puisi itu bukan hafalan, juga
bukan kata-kata yang baku harus diterjemahkan secara kaku. Puisi itu dinamis.
Isinya
pun beragam. Selama ini yang gue tahu puisi itu cuma soal perasaan, gombalan
dari sang kekasih untuk pujaan hatinya di sudut sana . Puisi itu bikin baper. Isinya
romantis aja. Bener sih, puisi kan macam-macam temanya. Tapi puisi itu juga
berisi gagasan dan ide-ide juga loh. Ada makna, dan pesan moral di dalamnya.
Bisa dijadikan ajang untuk memberi kritikan
buat topik-topik serius kayak tema politik, sosial, budaya, kemanusiaan. Soal
puisi dan tema-tema serius ini bakalan gue bahas lebih lanjut di tulisan gue
yang berikutnya ya, giganters.Sekarang gue mau fokus dulu ke tulisan gue soal
musikalisasi puisi yang masih membekas dalam hati gue ini, meski udah lepas
bertahun-tahun lamanya.
Balik
lagi ! Waktu itu, setelah gue udah sanggup ngartiin puisi itu, si Bryan dengan
percaya diri dan gagah megang not lagu yang udah dia buat. “Nih, musiknya udah
jadi,” kata dia sambil bersiap-siap memainkan gitarnya itu. Gue dan 2 temen gue
itu pun merapat dan siap-siap denger musiknya. Pertama kali gue denger, gue
lumayan bisa ikutin melodinya, tapi kali ke dua dan kali ketiga, jiah kok gue
lupa tadi nadanya gimana ya?
“Eh
kok gue lupa ya coba Bry, ulang lagi, ulang lagi dong,”kata gue memohon seperti
orang yang nyaris kena gejala alzheimer dini. Eh, tiba-tiba Bryan sendiri juga
lupa lagu yang dia buat sendiri itu. Gue jadi geli sendiri dan mau ngakak kan.
Akhirnya hampir tiap hari lah menjelang ujian praktik gue latihan terus. Lagi
di kamar gue nyanyi, lagi di kamar mandi gue nyanyi juga, sampai-sampai kebawa
mimpi loh itu lagu.
Tapi
entah kenapa ya, pelan-pelan gue mulai mencintai yang namanya puisi. Mungkin
untuk saat itu gue belum bisa untuk berkarya, tapi gue mulai bisa memberi
APRESIASI untuk puisi yang gue baca, trus dimusikalisasiin deh. Waktu itu terus
terang nih dengan modal suara gue yang biasa-biasa banget, satu aula itu pada
ngasih tepuk tangan untuk gue.
Pas gue tampil di panggung. Senang lah gue. Ya
ini gue rasa berkat ada keterbukaan dari dalam diri gue untuk coba gali, masuk
ke dalam puisinya si Hamid Jabbar. Dengan menghayati, alunan musik yang dibikin
sama Bryan pun seolah menyatu sama jiwa gue. At least gue udah ngelakuin yang
terbaik, sejauh yang gue bisa untuk ujian praktik musikalisasi puisi ini.
Gue
dan teman-teman gue juga ada bagian untuk nyanyi rame-rame di panggung
musikalisasi puisi. Tapi ada kalanya juga kita ambil nilai sendiri-sendiri.
Sampai sekarang ini gue masih simpen lho rekaman musikalisasi puisinya. Gue
juga masih suka dengerin suara gue dan temen-temen.Daripada dengerin lagu yang
terkadang nggak jelas, mending gue nostalgia sama lagu ini, nadanya pokoknya
semangat 45 kayak era kemerdekaan itu, Kebayang nggak sih? Pokoknya ini lagu
semangat membara banget.lah
Terkadang
gue geli sendiri kalau ingat moment-moment pas lagi latuhan. Ada lah di
tengah-tengah lagu yang gue lupa liriknya. Tiba-tiba gue jadi mau ketawa
gara-gara lihat teman gue nyanyi. Malah kadang ada aja nadanya jadi berubah
sendiri gitu. Mungkin efek grogi mau tampil di panggung ya. Padahal panggung
aula doang, apalagi panggung yang megah kayak konser-konser di TV, ya. Tapi
nggak apa ini jadi pengalaman berkesan gue tentang musikalisasi puisi.
Biar
suara gue nggak bagus-bagus amat, tapi gue enjoy nyanyi di panggung
musikalisasi puisi ini. Malahan saking enjoy nya gue ama teman-teman nyaris mau
pakai koreografi untuk puisi ini. Halah ya ampun tim gue mah. Tapi, kami sukses
membawakan musikalisasi puisi ini.
Masuk aula boleh aja tegang, tapi keluar
aula dengan wajah berseri-seri lebih cerah dari sinar mentari. APRESIASI PUISI
yang tak terlupakan.
Setelah
gue bisa apresiasi 1 puisi ini, dengan menghayati dan menyanyikannya, kelak gue
mau deh bisa coba-coba berkarya untuk menulis puisi gue sendiri.
Thank you untuk Bu Yustin, Bryan, Mizmiz, dan
Desi. Ini pertama kalinya gue bisa bilang puisi itu mengesankan. Puisi nggak
ANEH dan nggak SUSAH lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar