Rabu, 09 Maret 2016

Musikalisasi Puisi yang Tak Terlupakan



Puisi. Dua kata yang terlintas dalam benak gue tentang puisi, yaitu ANEH dan SUSAH. Rasanya itu gue seperti ada di sebuah negara lain, dan gue nggak paham bahasa asing mereka. Ya, kurang lebih rasanya seperti tenggelam di tengah keramaian orang lain juga. Diksi, majas, dan semua itu bagaikan bahasa alien dalam benak gue. Gue tuh kayak dibikin nggak berdaya sama yang namanya puisi. Maksudnya bukan terlena sama kata-kata romatis yang biasa jadi bumbu untuk puisi, tapi gue membeku karena nggak paham arti dari puisi itu. Untuk kesekian kalinya otak gue plus hati gue masih menganggap puisi itu ANEH dan SUSAH.

Tapi, perlahan rasa ANEH dan SUSAH itu sedikit luntur dan bergeser gara-gara moment tak terlupakan di kelas musikalisasi puisi.
Jadi, gue dan teman-teman dibagi ke dalam kelompok kecil sama guru bahasa dan sastra gue. Ini kejadian waktu gue masih polos dan imut di kelas 3 SMP. Untuk ujian praktik kita semua diminta membawakan musikalisasi puisi. Oke, gue agak shock dan sedikit tercengang. Gimana enggak secara gue ini kan kalau nyanyi modal nya cuma percaya diri aja. Paham tentang notasi? Jelas kagak. Yang gue paham itu cuma modal nyanyi meriah ala-ala orang karaoke.
Dan sekarang malah disuruh bikin lagu dari puisi para sastrawan tersohor. OMG banget kan. Gue aja jarang baca karya-karya mereka. Chairil Anwar, Hamid Jabbar, Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, W.S Rendra, dan masih banyak lagi.

“Kalian semua saya pecah ke dalam kelompok kecil. Oke Astrid, Bryan, Michelle, Desi, dan Mario,” teriak Bu Yustin, guru Bahasa dan sastra gue. Gue sedikit mampu menghirup napas lega setelah mendengar ada Bryan di kelompok gue. Soalnya si Bryan ini jago main gitar. Nah, jadi gue pikir ah gampang deh ada si Bryan. Dan saat gue lagi melambaikan tangan ke arah teman-teman gue, Bu Yustin pun ngasih komando lagi, “Kelompoknya Astrid cari ya puisinya Hamid Jabbar, trus pilih satu buat dibikin musikalisasinya, ya.”
Mulailah gue dan temen-temen  gue itu ngumpul dan nyari-nyari di internet puisi-puisinya sastrawan Hamid Jabar itu. 

Entah kenapa ujung-ujungnya yang kelompok gue pilih malah puisi yang judulnya “Aroma Maut.”
 Si Michelle terbelalak kaget waktu Bryan ngusulin judul puisi itu, “Hah....Gila serem amat sih judul puisinya. Aduh,” katanya panik.
Dan gue malah dengan percaya dirinya bilang, “Lo pahami kata-kata yang terkandung di puisinya dong, Miz. Ini bermakna perjuangan,” kata gue sambil menyatukan kelima jari gue membentuk kuncup. Padahal siapalah gue ini yang bener-bener juga baru rajin baca puisi di kala ada ujian datang. GUBRAK !
Akhirnya, Bryan memutuskan untuk bawa gitar dan gue bawa pianika besok. Padahal pas gue menekan tuts pianikanya, yang ada malah terdengar bunyi-bunyi nada aneh yang nggak harmonis. Bener-bener nggak karuan. Jujur deh ini kayak lagu abang tukang bakso mari-mari sini aku mau beli. Kurang lebih aneh banget nada yang coba gue buat.
Akhirnya, gue, Mizmiz, Desi, dan Mario milih untuk lebih meresapi puisinya Hamid Jabbar aja. Ya,daripada kacau gue nggak paham isinya. Kan mending coba gue hayati pelan-pelan. Ini dia puisi karya Hamid Jabbar yang bakal gue dan tim musikalisasikan
AROMA MAUT – Hamid Jabbar
Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?
Barangkali satu denyut lepas, o satu denyut lepas
tepat di saat tak jelas batas-batas, sayangku:
Segalanya terhempas, o segalanya terhempas!
Laut masih berombak, gelombangnya entah ke mana-mana.
Angin masih berhembus, topannya entah ke mana.
Bumi masih beredar, getarnya sampai ke mana?
Semesta masih belantara, sunyi sendiri ke mana?

Nah, kalau gue lebih ngartiin puisi ini sebagai suatu perjuangan kita mencapai titik akhir. Ya, gue anggap bahwa hidup kita di bumi itu nggak lepas dari sejumlah masalah. Intinya sih kita masih musti banyak-banyak bersyukur lah,dihantam gelombang berarti ada tantangan yang harus kita lewati. Artinya kita masih dipercayakan untuk menghadapi tantangan itu. FYI ada pepatah yang bilang gini, saat kita masih dihadapkan dan dibanjiri masalah, itu menunjukkan kalau kita masih hidup alias still alive. Kalau udah nggak ada masalah, ya itu tanda-tanda deh.

Kira-kira gitu sih gue coba ngartiin puisinya. Sejauh yang gue tahu kata Bu Yustin, sih, puisi itu kan interpretasi subyektif dari masing-masing orang. Jadi nggak ada puisi jelek, atau puisi bagus. Nggak ada juga puisi yang harus serta-merta diartiin seperti ini atau seperti itu. Karena puisi itu bukan hafalan, juga bukan kata-kata yang baku harus diterjemahkan secara kaku. Puisi itu dinamis.
Isinya pun beragam. Selama ini yang gue tahu puisi itu cuma soal perasaan, gombalan dari sang kekasih untuk pujaan hatinya di sudut sana . Puisi itu bikin baper. Isinya romantis aja. Bener sih, puisi kan macam-macam temanya. Tapi puisi itu juga berisi gagasan dan ide-ide juga loh. Ada makna, dan pesan moral di dalamnya.   

Bisa dijadikan ajang untuk memberi kritikan buat topik-topik serius kayak tema politik, sosial, budaya, kemanusiaan. Soal puisi dan tema-tema serius ini bakalan gue bahas lebih lanjut di tulisan gue yang berikutnya ya, giganters.Sekarang gue mau fokus dulu ke tulisan gue soal musikalisasi puisi yang masih membekas dalam hati gue ini, meski udah lepas bertahun-tahun lamanya.

Balik lagi ! Waktu itu, setelah gue udah sanggup ngartiin puisi itu, si Bryan dengan percaya diri dan gagah megang not lagu yang udah dia buat. “Nih, musiknya udah jadi,” kata dia sambil bersiap-siap memainkan gitarnya itu. Gue dan 2 temen gue itu pun merapat dan siap-siap denger musiknya. Pertama kali gue denger, gue lumayan bisa ikutin melodinya, tapi kali ke dua dan kali ketiga, jiah kok gue lupa tadi nadanya gimana ya?

“Eh kok gue lupa ya coba Bry, ulang lagi, ulang lagi dong,”kata gue memohon seperti orang yang nyaris kena gejala alzheimer dini. Eh, tiba-tiba Bryan sendiri juga lupa lagu yang dia buat sendiri itu. Gue jadi geli sendiri dan mau ngakak kan. Akhirnya hampir tiap hari lah menjelang ujian praktik gue latihan terus. Lagi di kamar gue nyanyi, lagi di kamar mandi gue nyanyi juga, sampai-sampai kebawa mimpi loh itu lagu.

Tapi entah kenapa ya, pelan-pelan gue mulai mencintai yang namanya puisi. Mungkin untuk saat itu gue belum bisa untuk berkarya, tapi gue mulai bisa memberi APRESIASI untuk puisi yang gue baca, trus dimusikalisasiin deh. Waktu itu terus terang nih dengan modal suara gue yang biasa-biasa banget, satu aula itu pada ngasih tepuk tangan untuk gue. 

Pas gue tampil di panggung. Senang lah gue. Ya ini gue rasa berkat ada keterbukaan dari dalam diri gue untuk coba gali, masuk ke dalam puisinya si Hamid Jabbar. Dengan menghayati, alunan musik yang dibikin sama Bryan pun seolah menyatu sama jiwa gue. At least gue udah ngelakuin yang terbaik, sejauh yang gue bisa untuk ujian praktik musikalisasi puisi ini.

Gue dan teman-teman gue juga ada bagian untuk nyanyi rame-rame di panggung musikalisasi puisi. Tapi ada kalanya juga kita ambil nilai sendiri-sendiri. Sampai sekarang ini gue masih simpen lho rekaman musikalisasi puisinya. Gue juga masih suka dengerin suara gue dan temen-temen.Daripada dengerin lagu yang terkadang nggak jelas, mending gue nostalgia sama lagu ini, nadanya pokoknya semangat 45 kayak era kemerdekaan itu, Kebayang nggak sih? Pokoknya ini lagu semangat membara banget.lah

Terkadang gue geli sendiri kalau ingat moment-moment pas lagi latuhan. Ada lah di tengah-tengah lagu yang gue lupa liriknya. Tiba-tiba gue jadi mau ketawa gara-gara lihat teman gue nyanyi. Malah kadang ada aja nadanya jadi berubah sendiri gitu. Mungkin efek grogi mau tampil di panggung ya. Padahal panggung aula doang, apalagi panggung yang megah kayak konser-konser di TV, ya. Tapi nggak apa ini jadi pengalaman berkesan gue tentang musikalisasi puisi. 

Biar suara gue nggak bagus-bagus amat, tapi gue enjoy nyanyi di panggung musikalisasi puisi ini. Malahan saking enjoy nya gue ama teman-teman nyaris mau pakai koreografi untuk puisi ini. Halah ya ampun tim gue mah. Tapi, kami sukses membawakan musikalisasi puisi ini. 

Masuk aula boleh aja tegang, tapi keluar aula dengan wajah berseri-seri lebih cerah dari sinar mentari. APRESIASI PUISI yang tak terlupakan.
Setelah gue bisa apresiasi 1 puisi ini, dengan menghayati dan menyanyikannya, kelak gue mau deh bisa coba-coba berkarya untuk menulis puisi gue sendiri.

 Thank you untuk Bu Yustin, Bryan, Mizmiz, dan Desi. Ini pertama kalinya gue bisa bilang puisi itu mengesankan. Puisi nggak ANEH dan nggak SUSAH lagi.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar