Rabu, 09 Maret 2016

Tectona Grandis--Cerpen untuk Lomba cerpen di tahun 2014

Sekarang, gue mau posting tulisan gue tentang cerpen gue dengan genre fantasi. Cerpen ini gue ikuti untuk lomba menulis cerpen yang diadakan sama Universitas Soedirman (UnSoed). Nah, ini dia tulisan cerpen gue.

Tectona Grandis
Patricia Astrid Nadia
            Matanya hijau secerah rumput. Rambut cokelatnya tergerai panjang secantik batang pohon. Hinggap sepasang sayap di atas punggungnya. Ya, sayap hijau dari dedaunan yang membentang lebar. Sejuk dan tenang saat dipandang.  Sabuk dari akar pohon juga melingkar di pinggangnya. Itulah senjata sekuat tali yang siap mencambuk para musuh di hadapannya. Dialah Viator Tectona.
Di Hutan Lamiales, sosok penyelamat hutan dipanggil dengan sebutan Viator. Jiwa pemberani menjadi tanda dan jati diri seorang viator. Tak hanya itu, viator juga selalu memakai kekuatannya untuk keselamatan alam. Bukan untuk menghancurkan hutan dan segala isinya. Karena Lamiales terlalu indah untuk dirusak dan dinodai.
Pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi bersembunyi di sana. Suara desis daun terdengar begitu jelas. Ditambah paduan suara jangkrik di malam hari. Di tengah hutan juga tersembunyi keindahan air danau, sumber kehidupan para viator.
Tapi kini Viator Tectona hanya duduk termangu  menatap danau itu dengan muram. Ia larut dalam ketakutan dan kesedihan semenjak mendapat surat ancaman dari monster Phryno. Ooh...Bisakah monster itu lenyap dengan sendirinya? gumam Tectona dalam hati. Dia berharap ada keajaiban yang sanggup menghancurkan monster hanya dalam hitungan detik.
Beruntung saja masih ada Viator Grandis. Ya, dia teman Viator Tectona yang paling setia. Sayap dan sabuknya sama seperti Viator Tectona. Hanya saja si tampan Grandis ini berambut jabrik berwarna hitam kecokelatan.
 “Mustahil untuk melawannya, Grandis! Itu tindakan yang bodoh!” teriak Viator Tectona dengan putus asa. Kadang dalam situasi seperti ini Tectona berharap dia belum berusia 17 tahun. Ia ingin kembali ke masa kanak-kanaknya dulu.
“Tentu kau bisa, Tectona. Aku akan selalu menemanimu dalam perjalanan,” ujar Viator Grandis berusaha menenangkan.
Tapi tampaknya Viator Tectona masih saja dihantui oleh ketakutan dan rasa ragunya itu. “Monster itu terlalu kuat. Apa kau tak sadar kalau kekuatanku ini masih lemah?” Viator Tectona berjalan mondar-mandir di depan air danau itu. Ia terlihat resah. Berbagai ketakutan dan porak poranda kecemasan sedang berlalu-lalang dalam pikirannya. Sering ia berpikir kalau sayap dan sabuk yang melekat pada tubuhnya tak lebih kuat dari sekadar pajangan.
“Ayolah Tectona. Kekuatan viator itu datang dari hati. Ehm...Hati yang berani. Senjata hanyalah benda mati tanpa keberanian dari viator,” kata Viator Grandis menjelaskan. Viator Tectona terlihat sedikit lebih tenang. Ia tak tega melihat hutannya terkikis habis oleh sesosok monster kejam. Tak sanggup juga ia melihat kekeringan di danau itu. Dia tak akan membiarkan Hutan Lamiales hanya menyisakan ranting-ranting yang bergeletakan di tanah.
Tapi Viator Tectona dan Grandis harus mengumpulkan kekuatan mereka. Kekuatan untuk menghancurkan Monster Phrynosoma. Sosoknya memang sangat mengerikan. Lebih seram dari kegelapan malam.
Dia dikenal sebagai sosok penghancur alam terkuat. Si kadal bertanduk yang memiliki duri di sekujur tubuhnya. Wajahnya memang cantik seperti seorang putri. Tapi hatinya lebih kejam dari seluruh kejahatan yang ada di dunia.
“Sekuat apapun monster itu, aku yakin kalian berdua bisa menaklukkannya,” kata Azzola—Ratu Viator di Hutan Lamiales. Dia mengutus Viator Tectona dan Grandis pergi bertempur mengalahkan monster Phryno. Karena hanya cara itulah yang dapat digunakan untuk menyelamatkan Hutan Lamiales dari kekejian monster Phryno.
“Kami berdua akan melakukan yang terbaik, Ratu,” kata Viator Grandis sambil memberi hormat dan salam perpisahan. Meskipun masih menyimpan sedikit rasa takut, Viator Tectona menerima tantangan ini. Ia ingin membuktikan bahwa di usianya yang muda—ia sanggup menjadi viator yang dapat diandalkan dan menjadi kebanggaan bagi Hutan Lamiales.  Viator Tectona dan Grandis harus menyusuri goa dan tebing curam untuk tiba di gunung api—rumah monster perusak alam itu bersemayam.
     ***
Goa ini begitu gelap. Untung saja mata Tectona dan Grandis dapat menyala seperti lampu di tengah kegelapan. Seisi goa dipenuhi dengan stalagmit dan stalagtit runcing yang menempel di langit-langit. Grandis dan Tectona tak dapat terbang dengan lincah. Ruang gerak mereka terlalu sempit.  
“Tempat ini sempit sekali, sih!” keluh Tectona berusaha menembus sempitnya ruang gerak di dalam goa. Kalau tak hati-hati, benda tajam itu dapat merobek sayap kedua viator muda.
Tiba-tiba sekelompok kelelawar dari langit-langit goa mulai berdatangan dan berputar mengelilingi tubuh Viator Tectona. Pandangan Tectona menjadi terhalang. Ia berniat untuk mencambuk kelelawar itu dengan sabuk akar miliknya. Tapi ternyata ia terlambat. Kerumunan kelelawar itu lebih cepat menyerang dan menggigit sayapnya—sebelum Tectona mengeluarkan senjatanya.
“Aargh...Sayapku!” Viator Tectona menjerit kesakitan. Melihat hal itu, Viator Grandis langsung terbang mengepakkan sayapnya. Terbang secepat mungkin untuk menyelamatkan Viator Tectona.
Grandis mengeluarkan sabuk miliknya. Dicambukkannya sabuk itu di hadapan kawanan kelelawar. Kawanan kelelawar pun menjerit dan berlari masuk ke dalam lubang persembunyian mereka. Satu masalah selesai. Tectona memang berhasil selamat dari kawanan kelelawar, tapi dia telah kehilangan sayapnya. Satu senjata berharga milik viator yang cantik telah lenyap.
            Wajah Tectona terlihat lemas dan tak berdaya. Air mata pun tak tanggung-tanggung membanjiri pipi Tectona. “Jangan khawatir...Kau masih punya sabuk akar yang kuat,” kata Grandis sambil mengusap air mata Tectona.
Tampaknya tantangan di dalam goa ini lebih berat dari yang pernah diduga oleh Grandis sebelumnya. Satu masalah selesai, langsung muncul masalah baru di hadapan mereka. Ada goncangan kecil yang perlahan berubah menjadi getaran kuat. Gempa berkekuatan hebat mulai menggemparkan seisi goa. Batu-batu di dalam goa mulai runtuh. Stalagmit dan stalagtit nyaris menimpa Viator Tectona.
            “Tectona! Awas!”Teriak Grandis sambil berusaha melindungi Tectona dari reruntuhan batu. Grandis langsung mendekap tubuh Tectona dan memeluknya dengan begitu erat. Ujung hidung Tectona dan Grandis nyaris menempel. Jantung Tectona mendadak berdegup lebih cepat. Keringat dingin mengalir karena begitu kuatnya dekapan Grandis.
            Sayangnya beberapa runtuhan batu disertai dengan stalagtit dan stalagmit yang tajam malah merobek sayap Grandis dalam sekejap. Kini kedua viator telah kehilangan sayapnya. Tectona tercengang melihat kejadian yang menimpa Grandis. Mereka belum tiba di tempat monster Phryno, tapi senjata mereka perlahan mulai lenyap.
            Saat berhasil keluar dari goa yang mencekam, mereka masih harus mengarungi tebing-tebing terjal. Jalan setapak yang sempit dan sangat curam. Tectona dan Grandis bergegas menuju gunung api mencekam, tempat si monster sedang bertahta.
                                                            ***
“Kita istirahat sebentar, ya,” kata Grandis sambil menyeka keringat di keningnya. Grandis tampaknya lelah sekali. Perjalanan yang panjang dan menegangkan pasti membuatnya lelah. Sementara itu, Tectona berjalan menyusuri daerah di sekitar lereng. Tiba-tiba saat sedang berjalan, Tectona tergelincir dan nyaris jatuh ke dalam jurang.
“Grandis! Tolong!” Teriak Tectona meminta bantuan.Tangan Tectona berusaha memegang akar-akar yang berdiri di tepi tebing . Ia mencengkeram akar itu sekuat-kuatnya. Wajahnya memerah dipenuhi keringat dan kepanikan.
Mendengar teriakan histeris itu maka Grandis pun langsung melompat dan berlari menghampiri Tectona. Saat berlari, tangannya tertusuk ranting-ranting pohon yang berjejer di sekitar lereng itu. “Aargh!” jeritnya kesakitan. Tapi Grandis tak mempedulikan luka di tangannya. Darah segar itu mengalir disepanjang tangan kanan Grandis.
            “Pegang tanganku, Tectona!” Grandis meningkapkan tubuhnya. Ia mengulurkan tangannya mendekati Tectona. “Grandis...Tanganmu?” Kata Tectona sedih melihat darah yang mengalir di tangan Grandis. “Ah! Sudahlah Tectona! Cepat raih tanganku!” Keringat bercampur darah mengalir di tangan Grandis. Perih sekali rasanya. Tapi dengan seluruh kekuatan yang dimiliki, Grandis berusaha menyelamatkan Tectona.
            “Nggak bisa, Grandis. Aku nggak kuat,” teriak Viator Tectona dengan histeris. Ia sudah berusaha tapi tampaknya itu sia-sia saja. Mendadak akar-akar di tepi tebing itu hendak putus. Tectona tidak berani menatap ke bawah. “Grandis! Lepaskan saja tanganmu. Percuma. Kau hanya buang-buang waktu membantuku!” kata Viator Tectona yang terlihat putus asa.
            “Kerahkan semua kekuatanmu. Ayo! Sisanya percayakan padaku!” Kata Grandis sambil terus berusaha menarik tangan Tectona. Entah kenapa saat mendengar kata-kata Grandis, mendadak kekuatan Tectona terkumpul kembali. Kata-kata Grandis begitu kuat memberinya semangat.
            Akhirnya Grandis berhasil menarik tangan Tectona. Meskipun dipenuhi keringat dan darah yang bercucuran. Tapi segala sesuatu akan diupayakan demi keselamatan Tectona. Grandis sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi teman setia Tectona dalam keadaan apapun. Bagi Grandis, tantangan di tebing terjal dan curam ini belum seberapa.
            “Grandis, kemarikan tanganmu...Aku ingin mengobatinya,” kata Tectona berusaha menggunakan kekuatan matanya untuk menyembuhkan luka Grandis. Tectona tak sanggup melihat darah yang terus mengalir di tangan Grandis. Begitu besar pengorbanan Grandis demi menolong Tectona. Bahkan dia menolong Tectona dua kali. Saat di goa dan di tepi tebing.
            “Terimakasih Tectona,” kata Grandis sambil mengulurkan tangannya. Mata Tectona pun mulai mengeluarkan cahaya dan pelan-pelan cahaya itu membalut luka-luka yang ada di tangan Grandis. Wajah Grandis terlihat kesakitan saat cahaya itu mulai mengobatinya.
            “Maafkan aku, ya...Gara-gara aku—kau jadi terlibat banyak masalah. Sayapmu jadi ikutan hilang karena aku. Dan sekarang kau menyelamatkan nyawaku,” ujar Tectona dengan wajah penuh rasa bersalah.
            “Aku kan temanmu...Sudah seharusnya aku menjagamu,” sahut Grandis sambil menepuk pundak Tectona.
            Tampaknya monster sengaja ingin menyiksa Tectona dan Grandis. Tapi viator muda yang hebat bukan viator yang mudah menyerah. Meski Viator Tectona sempat kehilangan semangatnya di awal perjalanan. Untungnya selalu ada Grandis yang menemaninya. Viator yang setia dan mendampingi Tectona di tengah tantangan misterius yang selalu menanti mereka di depan.
            Tapi Viator Tectona masih terlihat sedih karena sayapnya terkoyak oleh kekejaman kelelawar. Ia merasa kecil karena senjatanya kini benar-benar mati. Padahal ia telah berusaha untuk menjadi viator yang pemberani. Tapi kenapa kekuatannya malah diambil? Sayapnya telah terkoyak. Kini tinggal sabuk akar yang tersisa. Apa masih cukup kuat untuk melawan monster?
            “Aku nggak yakin kalau kita bisa mengalahkan monster itu. Sayap kita sudah terkoyak, Grandis,” kata Viator Tectona.
            “Kau harus percaya,” Viator Grandis menatap mata Tectona yang sedang digulung dengan ketakutan. “Percaya katamu? percaya untuk apa?” Viator Tectona bertanya heran. Suaranya itu dipenuhi dengan getaran keraguan dan kebimbangan.
Grandis mengangguk dan menghela nafas panjang. “Ya...Kau harus percaya pada dirimu sendiri!” Katanya dengan mantap. Sambil berjalan mendekati Tectona, ia berbisik di telinganya, “Sisanya...Percayalah pada temanmu juga. Teman baik akan menanggung kesedihanmu juga,” kata Grandis dengan suara yang lebih lantang.
“Aku juga yang akan mengulurkan tanganku dan meminjamkan pundakku untukmu,” tambah Grandis lagi disusul dengan senyum manisnya. Grandis pun melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Tectona. Mereka berjanji untuk saling percaya satu sama lain. Perlu kepercayaan yang kuat untuk menyatukan kekuatan mereka. Monster Phryno tak dapat dikalahkan hanya dengan mengandalkan satu kekuatan saja. Grandis dan Tectona harus bersatu.
                                                                        ***
            Hawa panas sudah mulai terasa. Gumpalan asap hitam berkejaran di atas langit. Awan pun dibalut warna kelabu. Tectona menyeka kening dan mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat.
            Tectona dan Grandis disambut genangan lava merah menyerupai aliran sungai yang deras. Di sana berjejer batu-batu sebesar kepala manusia tepat di atasnya. Batu-batu bertekstur kasar harus mereka lompati. Suara gemuruh juga ikut mengiringi perjalanan mereka. Ini artinya mereka sudah semakin dekat dengan si monster Phryno si perusak alam.
“Apa kita harus melompati batu-batu ini, Grandis?” Viator Tectona terlihat semakin panik. Mau tidak mau ia harus mengandalkan kemampuan keseimbangannya. Semua itu bertumpu pada kekuatan kakinya. Karena sayap yang telah terkoyak tak dapat digunakan untuk terbang.
            “Tidak ada jalan lain lagi, Tectona. Tapi tenang saja. Aku akan menjagamu,” kata Grandis berdiri tepat di belakang Tectona. Dengan sangat hati-hati mereka mengarungi sungai lava merah yang mengerikan. Saat Tectona hampir kehilangan keseimbangannya, Grandis selalu siap untuk menopang dan memegang kedua pundak Tectona.
            Melewati aliran lava rasanya seperti berada di api neraka. Asap panas yang menggumpal itu menghambat penglihatan Tectona dan Grandis. Ini perjalanan yang lebih berat dari sekedar memanjat pohon. Lebih menyeramkan dari serangan harimau buas. Perjalanan yang mempertaruhkan nyawa. Karena saat berpijak di atas batu itu  jika tergelincir sedikit saja, maka nyawa akan melayang.
                                                            ***
            “Tectona! Lihat...Kita sudah sampai di Puncak Gunung Phryno!” teriak Grandis sambil menunjuk ke arah gunung api yang menyeramkan itu. Di balik pepohonan yang kering, keluarlah monster phryno bersosok reptil dan berwajah manusia itu.
            “Ternyata kalian berdua memiliki nyali, ya?” kata sang monster menyambut dengan nada meremehkan. Ternyata wujud si monster ini jauh lebih menyeramkan dari apa yang dibayangkan oleh Tectona dan Grandis. Duri-duri tajam menempel disekujur tubuhnya. Tanduk-tanduk besar berdiri di kepalanya. Dan beberapa kali monster itu menyemprotkan percikan darah dari kedua matanya. Darah yang mengandung racun dan siap membunuh lawannya.
            “Mari kita mulai saja pertarungan ini! Kalau kalian kalah, maka hutan dan segala isinya akan menjadi milikku. Termasuk air danau sumber kehidupan para viator!” katanya disusul dengan suara tawa menggelegar. Monster tampak begitu yakin kalau dia akan memenangkan pertarungan di gunung api ini.  
Grandis pun mengerahkan seluruh kekuatannya. Dengan cepatnya ia berlari, lalu berusaha mencambuk wajah si monster jahat. Belum sempat Grandis mencambuknya, si monster langsung menjulurkan lidahnya yang panjang dan melilit tubuh Grandis dan membantingnya dengan keras ke atas tanah.
 “Aaargh...” Grandis menjerit kesakitan. Ia tak kuat menahan rasa sakit. Tubuh Grandis terkulai lemah di atas tanah. Tectona menelan ludah dan melihat darah yang kembali mengalir di tangan Grandis. Ya ampun, malapetaka ini kapan berlalu? keluh Tectona dalam hati.
“Grandis!” Teriak Viator Tectona dengan cemas. Ia berlari menghampiri Grandis. Mulut Viator Tectona merekah—menganga. Terkejut melihat serangan dari monster. Wajahnya diselimuti ketakutan. Rasa cemasnya berarakan menghantui pikirannya. Bagaimana ini? Grandis saja terlempar. Apalagi aku? tanya Tectona dalam hati.
 “Tectona! Aku nggak apa-apa, kok! Sekarang lawanlah monster dengan kekuatanmu. Kamu pasti bisa!” Ujar Grandis tertatih-tatih sambil menggenggam tangan Tectona. Grandis berusaha menahan rasa sakitnya. Tectona mengangguk pelan dan dalam sekejap genangan air mata pun membasahi pipinya.
            “Hahaha...Masih sempat-sempatnya kalian bermesraan! sindir monster dengan tatapan sinis. “Kemarilah Viator Tectona! Hadapi aku!” Sang monster menantang dengan begitu congkak. Tanpa pikir panjang monster itu pun mulai menyemprotkan darah dari matanya ke arah Viator Tectona.
“Lari Tectona! Lari!” teriak Grandis mengingatkan. Dengan lincahnya Tectona pun berlari dan berusaha menghindar dari tembakan darah beracun. Serangan darah yang mematikan. Tectona pun melepaskan sabuk yang melingkar di pinggangnya.
            “Akan kutunjukkan kekuatanku !” Teriak Tectona sambil membanting sabuknya yang terbuat dari akar pohon. Sabuknya itu menjulur sepanjang tali. Lalu dicambukkannya sabuk itu ke atas tanah. Dalam sekejap tanah pun bergetar karena kekuatan Tectona.
“Bagus Viator Tectona! Sekarang saatnya kau serang monster itu!” ujar Viator Grandis yang tetap menyemangati Tectona.
Tectona berusaha mengikat tubuh sang monster dengan sabuknya itu. Dijulurkannya sabuk akar itu ke arah monster raksasa itu. Sayangnya lidah panjang sang monster lagi-lagi menjulur dan menangkis sabuk akar itu. Tectona terkejut dan tercengang. Rupanya serangan dari sabuk akar Tectona masih lemah.
“Serangan macam apa itu? Apa hanya sebatas itu kekuatanmu?” Monster meremehkan Tectona. Dengan secepat kilat sang monster pun berlari dan mengelabui Tectona dan Grandis. “Hei...Kemana perginya monster jelek itu?” Tectona memandang berkeliling dan kebingungan. “Dia mengubah warna kulitnya!” ujar Grandis yang masih terbaring lemas di atas tanah. Monster ini serupa dengan bunglon. Dia memiliki kekuatan untuk merubah warna kulitnya.
Tectona dan Grandis tidak mengetahui di mana monster itu sedang bersembunyi. Mungkin saja di balik bebatuan. Bisa juga ia sedang menyamar menjadi lava. Aku harus berani melawan monster itu. Demi hutanku,” kata Viator Tectona dalam hati. Ia memejamkan matanya. Berusaha mengumpulkan kekuatannya. Lalu ia kembali menggenggam sabuk akarnya.
Diputar-putarnya sabuk itu. Kali ini di balik sabuk akar Tectona terpancar sinar berwarna hijau cerah. Tapi sinar itu terlihat remang-remang. Kekuatan Tectona belum sepenuhnya terkumpul.
Viator Grandis menyipitkan matanya saat melihat sinar hijau yang remang-remang. Cahaya yang mulai muncul, kini meredup. “Sinar ini pasti akan sempurna, Tectona,” kataViator Grandis yang pelan-pelan berusaha berdiri setelah terbaring lemas cukup lama. Dia tak peduli dengan darah yang masih mengalir di tangannya. “Pegang tanganku, Viator Tectona,” kata Viator Grandis sambil mengulurkan tangannya.
Akhirnya Viator Tectona dan Grandis pun berdiri berhadap-hadapan. Lalu bergandengan tangan. Inilah saatnya untuk menyatukan kekuatan. Sekujur tubuh Tectona dan Grandis perlahan mulai mengeluarkan sinar berwarna hijau. Sinarnya semakin terang dan menjadi silau. Sabuk akar milik Tectona diselimuti oleh terangnya cahaya hijau yang tak lagi pudar. Begitu pula dengan sabuk akar milik Grandis.
“Aku tahu monster phryno sedang menyamar menjadi batu! Dia ada di sana!” teriak Grandis sambil menunuk ke arah batu. Viator Tectona dan Grandis bersiap-siap mengerahkan kekuatan mereka lewat senjata yang masih melekat pada diri mereka.
Mereka berdua bersama-sama mengerahkan kekuatan lewat senajata yang mereka miliki. “Senjata ini hidup karena jiwa yang berani,” kata Viator Grandis sambil mencabuk wajah si monster dengan sabuk akar panjang yang dibalut cahaya hijau.  “Aaargh! Hentikan!” teriak sang monster yang merintih kesakitan. Wajahnya terkoyak akibat pukulan dan hantaman keras dari Grandis.
“Rasakan pukulan terakhir dariku yang akan membunuhmu!” teriak Viator Tectona sambil melemparkan sabuk itu dan melilit tubuh sang monster besar. Kali ini pukulan sabuk dengan kekuatan cahaya berwarna hijau berhasil merontokkan duri-duri monster phryno. Cahaya yang lahir dari keberanian dan kekuatan-- keyakinan dari dalam diri Viator Tectona. 
Monster phryno pun dalam sekejap berubah menjadi butir-butir pasir dan lenyap. Dia tenggelam dalam tanah kering di lereng gunung api.
                                                ***
“Atas keberanian dua viator yang hebat. Aku hendak memberikan kalian hadiah,” kata Ratu Azzola sambil berjalan mendekati danau—sumber kehidupan para viator dan seisi hutan. Ratu Azzola memejamkan matanya dan air dari danau itu pun mengeluarkan percikkan cahaya.
Viator Grandis dan Tectona saling beradu pandang. Mereka bingung dengan hadiah yang akan diberikan. Tiba-tiba di balik punggung Viator Grandis keluar sebuah cahaya hijau silau. Begitu pun dengan Viator Tectona. Sayap mereka yang sempat terkoyak kini tumbuh kembali.
Tersungging senyum manis di bibir Tectona. Belum pernah Grandis melihat Tectona sesenang ini. “Ratu terimakasih atas sayap ini,” kata Grandis dan Tectona dengan begitu bangga. “Semua ini berkat keberanian kalian. Pengorbanan kedua viator yang pemberani. Kalian layak mendapatkan sayap kalian kembali,” ujar Ratu Azzola disusul dengan senyumnya yang penuh kehangatan.
Hutan Lamiales sudah dapat bernafas lega. Berkat keberanian Viator Grandis dan Tectona yang berani mengalahkan monster phryno. Kemenangan tak akan tercapai kalau dua kekuatan hebat belum menyatu.
Tapi kini Tectona dan Grandis sudah melebur menjadi satu. Itulah kekuatan sejati milik Hutan Lamiales.





                                                       



Tidak ada komentar:

Posting Komentar