Tectona
Grandis
Patricia
Astrid Nadia
Matanya hijau secerah rumput. Rambut
cokelatnya tergerai panjang secantik
batang pohon. Hinggap sepasang sayap di atas punggungnya. Ya, sayap hijau dari
dedaunan yang membentang lebar. Sejuk dan tenang saat dipandang. Sabuk dari akar pohon juga melingkar di
pinggangnya. Itulah senjata sekuat tali yang siap mencambuk para musuh di hadapannya.
Dialah Viator Tectona.
Di
Hutan Lamiales, sosok penyelamat hutan dipanggil dengan sebutan Viator. Jiwa pemberani menjadi tanda dan jati diri seorang
viator.
Tak hanya itu, viator juga selalu
memakai kekuatannya untuk keselamatan alam. Bukan untuk menghancurkan hutan
dan segala isinya. Karena Lamiales terlalu indah untuk dirusak dan dinodai.
Pohon-pohon
rindang yang menjulang tinggi bersembunyi di sana. Suara desis daun terdengar
begitu jelas. Ditambah paduan suara jangkrik di malam hari. Di tengah hutan juga tersembunyi keindahan air danau,
sumber kehidupan para viator.
Tapi
kini Viator Tectona hanya duduk
termangu menatap danau itu dengan muram. Ia larut
dalam ketakutan dan kesedihan semenjak mendapat surat ancaman dari monster Phryno.
Ooh...Bisakah monster itu lenyap dengan sendirinya? gumam Tectona dalam
hati. Dia berharap ada keajaiban yang sanggup menghancurkan monster hanya dalam hitungan detik.
Beruntung
saja masih ada Viator Grandis. Ya, dia teman Viator Tectona yang paling setia.
Sayap dan sabuknya sama seperti Viator Tectona. Hanya saja si tampan Grandis
ini berambut jabrik berwarna hitam
kecokelatan.
“Mustahil untuk melawannya, Grandis! Itu
tindakan yang bodoh!” teriak Viator Tectona dengan putus asa. Kadang dalam
situasi seperti ini Tectona berharap dia belum berusia 17 tahun. Ia ingin
kembali ke masa kanak-kanaknya dulu.
“Tentu
kau bisa, Tectona. Aku akan selalu menemanimu dalam perjalanan,” ujar Viator
Grandis berusaha menenangkan.
Tapi
tampaknya Viator Tectona masih saja dihantui oleh ketakutan dan rasa ragunya
itu. “Monster itu terlalu kuat. Apa kau tak sadar kalau kekuatanku ini masih
lemah?” Viator Tectona berjalan mondar-mandir di depan air danau itu. Ia
terlihat resah.
Berbagai ketakutan dan porak poranda kecemasan sedang berlalu-lalang dalam
pikirannya. Sering ia
berpikir kalau sayap dan sabuk yang melekat pada tubuhnya tak lebih kuat dari
sekadar pajangan.
“Ayolah
Tectona. Kekuatan viator itu datang dari hati. Ehm...Hati yang berani. Senjata
hanyalah benda mati tanpa keberanian dari viator,” kata Viator Grandis
menjelaskan. Viator Tectona terlihat sedikit lebih tenang. Ia tak tega melihat
hutannya terkikis habis oleh sesosok monster kejam. Tak sanggup juga ia melihat
kekeringan di danau itu. Dia tak akan membiarkan Hutan Lamiales hanya
menyisakan ranting-ranting yang bergeletakan di tanah.
Tapi
Viator Tectona dan Grandis harus mengumpulkan kekuatan mereka. Kekuatan untuk
menghancurkan Monster Phrynosoma. Sosoknya memang sangat mengerikan. Lebih seram
dari kegelapan malam.
Dia
dikenal sebagai sosok penghancur alam terkuat. Si kadal bertanduk yang memiliki
duri di sekujur tubuhnya. Wajahnya memang cantik seperti seorang putri. Tapi
hatinya lebih kejam dari seluruh kejahatan yang ada di dunia.
“Sekuat
apapun monster itu, aku yakin kalian berdua bisa menaklukkannya,” kata
Azzola—Ratu Viator di Hutan Lamiales. Dia mengutus Viator Tectona dan Grandis
pergi bertempur mengalahkan monster Phryno. Karena hanya cara itulah yang dapat
digunakan untuk menyelamatkan Hutan Lamiales dari kekejian monster Phryno.
“Kami
berdua akan melakukan yang terbaik, Ratu,” kata Viator Grandis sambil memberi
hormat dan salam perpisahan. Meskipun masih menyimpan sedikit rasa takut,
Viator Tectona menerima tantangan ini. Ia ingin membuktikan bahwa di usianya
yang muda—ia sanggup menjadi viator yang dapat diandalkan dan menjadi
kebanggaan bagi Hutan Lamiales. Viator Tectona dan Grandis
harus menyusuri goa dan tebing curam untuk tiba di gunung api—rumah monster
perusak alam itu bersemayam.
***
Goa
ini begitu gelap. Untung saja mata Tectona dan Grandis dapat menyala seperti
lampu di tengah kegelapan. Seisi goa dipenuhi dengan stalagmit dan stalagtit
runcing yang menempel di langit-langit. Grandis dan Tectona tak dapat terbang
dengan lincah. Ruang gerak mereka terlalu sempit.
“Tempat
ini sempit sekali, sih!”
keluh Tectona berusaha menembus sempitnya ruang gerak di dalam goa. Kalau tak
hati-hati, benda
tajam itu dapat merobek sayap kedua viator muda.
Tiba-tiba
sekelompok kelelawar dari
langit-langit goa mulai berdatangan dan berputar
mengelilingi tubuh Viator Tectona. Pandangan Tectona menjadi terhalang. Ia
berniat untuk mencambuk kelelawar itu dengan sabuk akar miliknya. Tapi ternyata
ia terlambat. Kerumunan kelelawar itu lebih cepat menyerang dan menggigit
sayapnya—sebelum Tectona mengeluarkan senjatanya.
“Aargh...Sayapku!”
Viator Tectona menjerit kesakitan. Melihat hal itu, Viator Grandis langsung
terbang mengepakkan sayapnya. Terbang
secepat mungkin untuk menyelamatkan Viator Tectona.
Grandis
mengeluarkan sabuk miliknya. Dicambukkannya sabuk itu di hadapan kawanan
kelelawar. Kawanan
kelelawar pun menjerit dan berlari masuk ke dalam lubang
persembunyian mereka. Satu masalah selesai. Tectona memang berhasil selamat
dari kawanan kelelawar, tapi dia telah
kehilangan
sayapnya. Satu senjata berharga
milik
viator yang cantik telah lenyap.
Wajah Tectona terlihat lemas dan tak
berdaya. Air mata pun tak tanggung-tanggung membanjiri pipi Tectona. “Jangan
khawatir...Kau masih punya sabuk akar yang kuat,” kata Grandis sambil mengusap
air mata Tectona.
Tampaknya
tantangan di dalam goa ini lebih berat dari yang pernah diduga oleh Grandis
sebelumnya. Satu masalah selesai, langsung muncul masalah baru di hadapan
mereka. Ada goncangan kecil yang perlahan berubah menjadi getaran kuat. Gempa
berkekuatan hebat mulai menggemparkan
seisi
goa. Batu-batu di dalam goa mulai runtuh. Stalagmit dan stalagtit nyaris
menimpa Viator Tectona.
“Tectona! Awas!”Teriak Grandis
sambil berusaha melindungi Tectona dari reruntuhan batu. Grandis langsung
mendekap tubuh Tectona dan memeluknya dengan begitu erat. Ujung hidung Tectona
dan Grandis nyaris menempel. Jantung Tectona mendadak berdegup lebih cepat.
Keringat dingin mengalir karena begitu kuatnya dekapan Grandis.
Sayangnya beberapa runtuhan batu
disertai dengan stalagtit dan stalagmit yang tajam malah merobek sayap Grandis dalam sekejap. Kini kedua viator
telah kehilangan sayapnya. Tectona tercengang melihat kejadian yang menimpa
Grandis. Mereka belum tiba di tempat monster Phryno, tapi senjata mereka
perlahan mulai lenyap.
Saat berhasil keluar dari goa yang
mencekam, mereka masih harus
mengarungi tebing-tebing terjal. Jalan setapak yang sempit dan sangat curam.
Tectona dan Grandis bergegas menuju gunung api mencekam, tempat si monster sedang bertahta.
***
“Kita
istirahat sebentar, ya,” kata Grandis sambil menyeka keringat di keningnya.
Grandis tampaknya lelah sekali. Perjalanan yang panjang dan menegangkan pasti
membuatnya lelah. Sementara itu,
Tectona berjalan menyusuri daerah di sekitar lereng. Tiba-tiba saat sedang
berjalan, Tectona tergelincir dan nyaris jatuh ke dalam jurang.
“Grandis!
Tolong!” Teriak Tectona meminta bantuan.Tangan Tectona berusaha memegang
akar-akar yang berdiri di tepi tebing . Ia mencengkeram akar itu
sekuat-kuatnya. Wajahnya memerah dipenuhi keringat dan kepanikan.
Mendengar
teriakan histeris itu maka Grandis pun langsung melompat dan berlari
menghampiri Tectona. Saat berlari, tangannya tertusuk ranting-ranting pohon
yang berjejer di sekitar lereng itu. “Aargh!” jeritnya kesakitan. Tapi Grandis
tak mempedulikan luka di tangannya. Darah segar itu mengalir disepanjang tangan
kanan Grandis.
“Pegang tanganku, Tectona!” Grandis
meningkapkan tubuhnya. Ia mengulurkan tangannya mendekati
Tectona. “Grandis...Tanganmu?” Kata Tectona sedih melihat darah yang mengalir
di tangan Grandis. “Ah! Sudahlah Tectona! Cepat raih tanganku!” Keringat bercampur
darah mengalir di tangan Grandis. Perih sekali rasanya. Tapi dengan seluruh
kekuatan yang dimiliki, Grandis berusaha menyelamatkan Tectona.
“Nggak bisa, Grandis. Aku nggak
kuat,” teriak Viator Tectona dengan histeris. Ia sudah berusaha tapi tampaknya
itu sia-sia saja. Mendadak akar-akar di tepi tebing itu hendak putus. Tectona
tidak berani menatap ke bawah. “Grandis! Lepaskan saja tanganmu. Percuma. Kau
hanya buang-buang waktu membantuku!” kata Viator Tectona yang terlihat putus
asa.
“Kerahkan semua kekuatanmu. Ayo! Sisanya percayakan padaku!” Kata
Grandis sambil terus berusaha menarik tangan Tectona. Entah kenapa saat
mendengar kata-kata Grandis, mendadak kekuatan Tectona terkumpul kembali.
Kata-kata Grandis begitu kuat
memberinya semangat.
Akhirnya Grandis berhasil menarik
tangan Tectona. Meskipun dipenuhi keringat dan darah yang bercucuran. Tapi
segala sesuatu akan diupayakan
demi keselamatan Tectona. Grandis sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk
menjadi teman setia Tectona dalam keadaan apapun. Bagi Grandis, tantangan di
tebing terjal dan
curam ini belum seberapa.
“Grandis, kemarikan tanganmu...Aku
ingin mengobatinya,” kata Tectona berusaha menggunakan kekuatan matanya untuk
menyembuhkan luka Grandis. Tectona tak sanggup melihat darah yang terus
mengalir di tangan Grandis. Begitu besar pengorbanan Grandis demi menolong
Tectona. Bahkan dia menolong Tectona dua kali. Saat di goa dan di tepi tebing.
“Terimakasih Tectona,” kata Grandis
sambil mengulurkan tangannya. Mata Tectona pun mulai mengeluarkan cahaya dan
pelan-pelan cahaya itu membalut luka-luka yang ada di tangan Grandis. Wajah
Grandis terlihat kesakitan saat cahaya itu mulai mengobatinya.
“Maafkan aku, ya...Gara-gara aku—kau
jadi terlibat banyak masalah. Sayapmu jadi ikutan hilang karena aku. Dan
sekarang kau menyelamatkan nyawaku,” ujar Tectona dengan wajah penuh rasa
bersalah.
“Aku kan temanmu...Sudah seharusnya
aku menjagamu,” sahut Grandis sambil menepuk pundak Tectona.
Tampaknya monster sengaja ingin
menyiksa Tectona dan Grandis. Tapi viator muda yang hebat bukan viator yang
mudah menyerah. Meski Viator Tectona sempat kehilangan semangatnya di awal
perjalanan. Untungnya selalu ada Grandis yang menemaninya. Viator yang setia dan mendampingi Tectona di tengah
tantangan misterius yang selalu menanti mereka di depan.
Tapi Viator Tectona masih terlihat
sedih karena sayapnya terkoyak oleh kekejaman kelelawar. Ia merasa kecil karena
senjatanya kini benar-benar mati. Padahal ia telah berusaha untuk menjadi
viator yang pemberani. Tapi kenapa kekuatannya malah diambil? Sayapnya telah
terkoyak. Kini tinggal sabuk akar yang tersisa. Apa masih cukup kuat untuk
melawan monster?
“Aku nggak yakin kalau kita bisa
mengalahkan monster itu. Sayap kita sudah terkoyak, Grandis,” kata Viator
Tectona.
“Kau harus percaya,” Viator Grandis
menatap mata Tectona yang sedang digulung dengan ketakutan. “Percaya katamu?
percaya untuk apa?” Viator Tectona bertanya heran. Suaranya itu dipenuhi dengan
getaran keraguan dan kebimbangan.
Grandis
mengangguk dan menghela nafas panjang. “Ya...Kau harus percaya pada dirimu
sendiri!” Katanya dengan mantap. Sambil berjalan mendekati Tectona, ia berbisik
di telinganya, “Sisanya...Percayalah pada temanmu juga. Teman baik akan menanggung kesedihanmu juga,”
kata Grandis dengan suara yang lebih lantang.
“Aku
juga yang akan mengulurkan tanganku dan meminjamkan pundakku untukmu,” tambah
Grandis lagi disusul dengan senyum manisnya. Grandis pun melingkarkan jari
kelingkingnya pada jari kelingking Tectona. Mereka berjanji untuk saling
percaya satu sama lain. Perlu kepercayaan yang kuat untuk menyatukan kekuatan
mereka. Monster Phryno tak dapat dikalahkan hanya dengan mengandalkan satu
kekuatan saja. Grandis dan Tectona harus bersatu.
***
Hawa panas sudah mulai terasa.
Gumpalan asap hitam berkejaran di atas langit. Awan pun dibalut warna kelabu.
Tectona menyeka kening dan mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat.
Tectona dan Grandis disambut
genangan lava merah menyerupai aliran sungai yang deras. Di sana berjejer
batu-batu sebesar kepala manusia tepat di atasnya. Batu-batu bertekstur kasar
harus mereka lompati. Suara gemuruh juga ikut mengiringi perjalanan mereka. Ini
artinya mereka sudah semakin dekat dengan si monster Phryno si perusak alam.
“Apa
kita harus melompati batu-batu ini, Grandis?” Viator Tectona terlihat semakin
panik. Mau tidak mau ia harus mengandalkan kemampuan keseimbangannya. Semua itu
bertumpu pada kekuatan kakinya. Karena sayap yang telah terkoyak tak dapat
digunakan untuk terbang.
“Tidak ada jalan lain lagi, Tectona.
Tapi tenang saja. Aku akan menjagamu,” kata Grandis berdiri tepat di belakang
Tectona. Dengan sangat hati-hati mereka mengarungi sungai lava merah yang mengerikan. Saat Tectona
hampir kehilangan keseimbangannya, Grandis selalu siap untuk menopang dan
memegang kedua pundak Tectona.
Melewati aliran lava rasanya seperti berada di api
neraka. Asap panas yang menggumpal itu menghambat penglihatan Tectona dan
Grandis. Ini perjalanan yang lebih berat dari sekedar memanjat pohon. Lebih
menyeramkan dari serangan harimau buas. Perjalanan yang mempertaruhkan nyawa.
Karena saat berpijak di atas batu itu
jika tergelincir sedikit saja, maka nyawa akan
melayang.
***
“Tectona! Lihat...Kita sudah sampai
di Puncak Gunung Phryno!” teriak Grandis sambil menunjuk ke arah gunung api
yang menyeramkan itu. Di balik pepohonan yang kering, keluarlah monster phryno
bersosok reptil dan berwajah manusia itu.
“Ternyata kalian berdua memiliki
nyali, ya?” kata sang monster menyambut dengan nada meremehkan. Ternyata wujud
si monster ini jauh lebih menyeramkan dari apa yang dibayangkan oleh Tectona
dan Grandis. Duri-duri tajam menempel disekujur tubuhnya. Tanduk-tanduk besar
berdiri di kepalanya. Dan beberapa kali monster itu menyemprotkan percikan
darah dari kedua matanya. Darah yang mengandung racun dan siap membunuh
lawannya.
“Mari kita mulai saja pertarungan
ini! Kalau kalian kalah, maka hutan dan segala isinya akan menjadi milikku.
Termasuk air danau sumber kehidupan para viator!” katanya disusul dengan suara
tawa menggelegar. Monster tampak begitu yakin kalau dia akan memenangkan
pertarungan di gunung api ini.
Grandis
pun mengerahkan seluruh kekuatannya. Dengan cepatnya ia berlari, lalu berusaha
mencambuk wajah si monster jahat. Belum sempat Grandis mencambuknya, si monster
langsung menjulurkan lidahnya yang panjang dan melilit tubuh Grandis dan
membantingnya dengan keras ke atas tanah.
“Aaargh...” Grandis menjerit kesakitan. Ia tak
kuat menahan rasa sakit. Tubuh Grandis terkulai lemah di atas tanah. Tectona menelan
ludah dan melihat darah yang kembali mengalir di tangan Grandis. Ya ampun,
malapetaka ini kapan berlalu? keluh Tectona dalam hati.
“Grandis!”
Teriak Viator Tectona dengan cemas. Ia berlari menghampiri Grandis. Mulut
Viator Tectona merekah—menganga. Terkejut melihat serangan dari monster.
Wajahnya diselimuti ketakutan. Rasa cemasnya berarakan menghantui pikirannya. Bagaimana
ini? Grandis saja terlempar. Apalagi aku? tanya Tectona dalam hati.
“Tectona! Aku nggak apa-apa, kok! Sekarang
lawanlah monster dengan kekuatanmu. Kamu pasti bisa!” Ujar Grandis
tertatih-tatih sambil menggenggam tangan Tectona. Grandis berusaha menahan rasa
sakitnya. Tectona mengangguk pelan dan dalam sekejap genangan air mata pun
membasahi pipinya.
“Hahaha...Masih sempat-sempatnya
kalian bermesraan! sindir monster dengan tatapan sinis. “Kemarilah Viator
Tectona! Hadapi aku!” Sang monster menantang dengan begitu congkak. Tanpa pikir
panjang monster itu pun mulai menyemprotkan darah dari matanya ke arah Viator
Tectona.
“Lari
Tectona! Lari!” teriak Grandis mengingatkan. Dengan lincahnya Tectona pun
berlari dan berusaha menghindar dari tembakan darah beracun. Serangan darah
yang mematikan. Tectona pun melepaskan sabuk yang melingkar di pinggangnya.
“Akan kutunjukkan kekuatanku !” Teriak
Tectona sambil membanting sabuknya yang terbuat dari akar pohon. Sabuknya itu
menjulur sepanjang tali. Lalu dicambukkannya sabuk itu ke atas tanah. Dalam
sekejap tanah pun bergetar karena kekuatan Tectona.
“Bagus
Viator Tectona! Sekarang saatnya kau serang monster itu!” ujar Viator Grandis
yang tetap menyemangati Tectona.
Tectona
berusaha mengikat tubuh sang monster dengan sabuknya itu. Dijulurkannya sabuk
akar itu ke arah monster raksasa itu. Sayangnya lidah panjang sang monster
lagi-lagi menjulur dan menangkis sabuk akar itu. Tectona terkejut dan
tercengang. Rupanya serangan dari sabuk akar Tectona masih lemah.
“Serangan
macam apa itu? Apa hanya sebatas itu kekuatanmu?” Monster meremehkan Tectona.
Dengan secepat kilat sang monster pun berlari dan mengelabui Tectona dan
Grandis. “Hei...Kemana perginya monster jelek itu?” Tectona memandang
berkeliling dan kebingungan. “Dia mengubah warna kulitnya!” ujar Grandis yang
masih terbaring lemas di atas tanah. Monster ini serupa dengan bunglon. Dia
memiliki kekuatan untuk merubah warna kulitnya.
Tectona
dan Grandis tidak mengetahui di mana monster itu sedang bersembunyi. Mungkin
saja di balik bebatuan. Bisa juga ia sedang menyamar menjadi lava. Aku harus
berani melawan monster itu. Demi hutanku,” kata Viator Tectona dalam hati.
Ia memejamkan matanya. Berusaha mengumpulkan kekuatannya. Lalu ia kembali
menggenggam sabuk akarnya.
Diputar-putarnya
sabuk itu. Kali ini di balik sabuk akar Tectona terpancar sinar berwarna hijau
cerah. Tapi sinar itu terlihat remang-remang. Kekuatan Tectona belum sepenuhnya
terkumpul.
Viator
Grandis menyipitkan matanya saat melihat sinar hijau yang remang-remang. Cahaya
yang mulai muncul, kini meredup. “Sinar ini pasti akan sempurna, Tectona,”
kataViator Grandis yang pelan-pelan berusaha berdiri setelah terbaring lemas
cukup lama. Dia tak peduli dengan darah yang masih mengalir di tangannya.
“Pegang tanganku, Viator Tectona,” kata Viator Grandis sambil mengulurkan
tangannya.
Akhirnya
Viator Tectona dan Grandis pun berdiri berhadap-hadapan. Lalu bergandengan
tangan. Inilah saatnya untuk menyatukan kekuatan. Sekujur tubuh Tectona dan
Grandis perlahan mulai mengeluarkan sinar berwarna hijau. Sinarnya semakin
terang dan menjadi silau. Sabuk akar milik Tectona diselimuti oleh terangnya
cahaya hijau yang tak lagi pudar. Begitu pula dengan sabuk akar milik Grandis.
“Aku
tahu monster phryno sedang menyamar menjadi batu! Dia ada di sana!” teriak
Grandis sambil menunuk ke arah batu. Viator Tectona dan Grandis bersiap-siap
mengerahkan kekuatan mereka lewat senjata yang masih melekat pada diri mereka.
Mereka
berdua bersama-sama mengerahkan kekuatan lewat senajata yang mereka miliki.
“Senjata ini hidup karena jiwa yang berani,” kata Viator Grandis sambil
mencabuk wajah si monster dengan sabuk akar panjang yang dibalut cahaya
hijau. “Aaargh! Hentikan!” teriak sang
monster yang merintih kesakitan. Wajahnya terkoyak akibat pukulan dan hantaman
keras dari Grandis.
“Rasakan
pukulan terakhir dariku yang akan membunuhmu!” teriak Viator Tectona sambil
melemparkan sabuk itu dan melilit tubuh sang monster besar. Kali ini pukulan
sabuk dengan kekuatan cahaya berwarna hijau berhasil merontokkan duri-duri
monster phryno. Cahaya yang lahir dari keberanian dan kekuatan-- keyakinan dari
dalam diri Viator Tectona.
Monster
phryno pun dalam sekejap berubah menjadi butir-butir pasir dan lenyap. Dia
tenggelam dalam tanah kering di lereng gunung api.
***
“Atas
keberanian dua viator yang hebat.
Aku
hendak memberikan kalian hadiah,” kata Ratu Azzola sambil berjalan mendekati
danau—sumber kehidupan para viator dan seisi hutan. Ratu Azzola memejamkan
matanya dan air dari danau itu pun mengeluarkan percikkan cahaya.
Viator
Grandis dan Tectona saling beradu pandang. Mereka bingung dengan hadiah yang
akan diberikan. Tiba-tiba di balik punggung Viator Grandis keluar sebuah cahaya
hijau silau. Begitu pun dengan Viator Tectona. Sayap mereka yang sempat
terkoyak kini tumbuh kembali.
Tersungging
senyum manis di bibir Tectona. Belum pernah Grandis melihat Tectona sesenang
ini. “Ratu terimakasih atas sayap ini,” kata Grandis dan Tectona dengan begitu
bangga. “Semua ini berkat keberanian kalian. Pengorbanan kedua viator yang
pemberani. Kalian layak mendapatkan sayap kalian kembali,” ujar Ratu Azzola
disusul dengan senyumnya yang penuh kehangatan.
Hutan
Lamiales sudah dapat bernafas lega. Berkat keberanian Viator Grandis dan
Tectona yang berani mengalahkan monster phryno. Kemenangan tak akan tercapai
kalau dua kekuatan hebat belum menyatu.
Tapi
kini Tectona dan Grandis sudah melebur menjadi satu. Itulah kekuatan sejati
milik Hutan Lamiales.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar