Dari Setitik Kata Jadi Perjalanan Kata
Titik
Apa kau ingin lihat titik dari perjalanan ini?
Kurasa masih terlalu dini untuk bertemu titik
Itu adalah sepenggal puisi buatan gue. Ya, gue memang gemar
menulis. Sering gue mengekspresikan perasaan gue lewat kata dalam puisi.
Biasalah, soal perasaan nggak jauh-jauh banget. Gue cerita
soal kegirangan gue saat kumpul sama teman-teman dan semua petualangan
konyol,gila, dan unforgettable bareng mereka.
Di sela-sela istirahat di kampus atau lagi nunggu dosen, gue
nyempetin diri untuk nulis. Well,
meskipun tulisan gue belum sekelas Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, tapi
gue suatu saat nanti mau banget jadi sastrawan hebat. Bermimpi boleh dong?
Btw, di fakultas gue ada loh dosen yang kagum sama dunia
sastra. Dosen gue ini seneng sama puisi Sapardi Djoko Damono, yang isinya
begini
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata
yang tak sempat diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya abu".
Nah, dosen gue yang seneng ama puisi ini namanya Untung. Doi
salah 1 dosen psikologi komunikasi. Di kelas Pak Untung, gue juga pernah nulis
sebuah artikel dan judulnya Belajar estetika dari sang seniman.
Waktu itu,gue lagi bingung sebenarnya nentuin judul. Eh, doi
tiba-tiba mampir ke meja gue. Gini nih katanya, "Isinya bagus. Judulnya
dibikin simple aja. Belajar estetika dari seniman. Kamu bahas W.S. Rendra,
isinya, kamu artiin dikit. Lanjutin ya," katanya dengan mata
berbinar-binar.
Pas banget nih masukan dari doi soalnya doi kan emang
penggemar puisi juga ya. Minggu depannya dia ngumumin di kelas kalau artikel
gue nih kece punya. Ya, gue seneng lah,secara gue suka nulis. Tapi gue ngerasa
bakat nulis gue masih perlu diasah.
Nah, lepas kenal ama
doi, beberapa kali kita sering diskusi soal tulisan-tulisan gue. Ehm...Lebih
tepatnya cerita gue waktu sekolah dulu. Doi ngutarain semua pendapatnya dan
kita jadi sering ngobrol deh. Dari semester 1 naik ke semester berikutnya, kami
sering bahas cerita gue, mulai dari yang teenlit anak SMA, sampai yang fantasi.
Kalau puisi sih ya masih kelas cetek. Gue belom berkarya di puisi sehebat
Chairil Anwar dan Sapardi. Intinya cuma coba mencari makna di balik kata-kata
sastrawan tersohor itu. Doi jadi teman gue bertukar ide soal dunia tulis
menulis.
Pas gue semester 4, tepatnya lagi liburan, sih tiba-tiba HP
gue berdering eh ternyata ada telepon masuk dari doi.
"Astrid,hari
senin bisa ketemu saya? Saya mau kamu ikut lomba cerpen". Kurang lebih
kata-kata doi begitu di telepon.
Gue senang lah. Jingkrak-jingkrak bukan main (Sorry agak
lebay). Lomba cerpen...Mau banget gue. Dan yang terlintas di benak gue itu soal
cerita sekolah gue yang super gokil, iseng, konyol. Gue berencana pakai cerita
itu untuk lomba. Eitssss tapi,tiba-tiba badan gue mendadak membeku. Trus
rasanya ada aliran panas seperti api yang menggerogoti badan gue.
OMG. itu semua terjadi saat gue ketemu doi. Pas doi bilang
"Nanti tema lombanya itu tentang Indonesia, kayak politik, lingkungan
hidup, serius serius pokoknya temanya. Soalnya ini ajang Peksimida. Pekan Seni
Mahasiswa Daerah". Duh saat itu gue bingung.Nggak cuma itu, badan gue pun
langsung mendadak lemas. Gue bak orang yang bisu, bibir gue rasanya bergetar
buat mengiyakan statment doi barusan...
Gubrak, rasanya gue mau teriak minta tolong, tapi suara gue
kayak hilang. Bibir gue macem dilakban. Saat itu dengan berat hati gue jawab
"Iya, Pak. hehehe.Lombanya kapan?" kata gue dengan nada suara bergetar.
Dan doi sambil senyum-senyum girang, "Nanti saya telepon kamu lagi untuk
kabarin ini ya. Btw besok ke sini lagi. Kamu harus ketemu wakil rektor sama Bu
Ida yang biasa bantu warek ya," jelasnya lagi.
Jleb. Gue nelen ludah saat itu. Oke. Gue akuin gue memang
suka nulis cerpen tapi gue belom pernah nulis topik serius
Siapa lah gue ini, hanya anak kuliahan semester 4 yang gemar
nulis. Tapi dunia gue seputar kegalauan cinta remaja, baper baperan, soal anak
sekolahan deh. Apa bisa nih gue nulis soal topik politik ,ekonomi, tanah air.
Kalau besok ketemu warek, gue ditanya nggak bisa jawab soal cerpen malu lah gue
Itu pikiran yang
menghantui gue. Udah deh saat itu kepala gue kayak ditimpa timpa ama batu bata.
Trus rasanya ada benang kusut yang nggak kunjung rapih. Di sepanjang jalan
pulang di dalam busway, gue rasanya hampa dan merana.
Duh, nggak ada kata kata lagi yang sanggup jelasin kekacauan
saat itu. Bahkan rasanya yang gue tumpahin sekarang ini belom cukup ngegambarin
betapa bingung dan merananya gue.
Tapi gue mau nggak mau besok kudu ke kampus. Dan jreng.
Sampailah gue di kantor warek. Kantornya keren, jangan sampai dinodai oleh
pikiran gue yang terbatas ini. Sang warek menyambut gue dan menyalami gue. Ad Bu
Ida juga di sana yang senyum-senyum, sepertinya mereka naro harapan ya kalau
gue ini dalam bayangannya adalah penulis hebat, lalu diminta mewakili
lomba.Padahal gue ini hanyalah pemula.
"Kamu Astrid ya. Iya Pak Untung udah bilang kamu ikut lomba
nulis. Eh tapi nulis puisi ya bukan cerpen. Soalnya cerpen udah duluan anak
teknik yang daftar," kata Bu Ida dengan santainya.
Jreng....jreng.....Piano Mozzart berbunyi. Dan gue makin mau
pingsan. Cerpen dalam bayangan gue kata-katanya masih lumayan. Maksudnya nggak
banyak bener ramai sama diksi. Kalau puisi kan ada diksi, majas, itu udah kayak
bahasa alien deh. Gue sempet nggak berkutik. Kaki, dan tangan gue seperti
lumpuh sejenak. Dan gue berusaha masang muka ramah dan berujar, semua bakal
baik-baik aja. Ya, menghibur diri lah gue.
Warek pun menyodorkan kertas untuk pendaftaran lomba. Ya,
ada wejangan dari warek sebelum lomba. "Menang tidak menang tidak masalah.
Yang penting pengalamannya". Itu benar, tapi nggak mungkin dong puisi gue
malu-malu in banget nanti.
Nggak beberapa lama setelah dapat santapan kesejukan dari
warek, gue ditelepon ama Pak Untung. "Gimana? tadi kamu udah ketemu warek,
Strid? Ke sini lagi ya nanti ketemu saya." Sesampainya gue di fakultas,
gue cerita ke doi kalau gue abis kena big disaster.
"Jadi kamu diminta lomba puisi? oke nggak papa. Kamu
latihan sama saya sini ayo tulis puisi apa pun sekarang.tema nya bebas dulu deh,"
ujarnya sambil nyuruh gue nulis di kertas. Doi duduk di seberang gue di meja
dosen lebar nan panjang, yang biasa dipakai para dosen untuk makan siang.
Puisi yang gue tulis judulnya Pangeran dalam Goa.
Ada keraguan di antara kaki dan mata.
Kaki ingin melangkah tapi mata enggan menatap goa
Kuputuskan untuk hapus ingatan tentang titik.
Kuingin berikan setangkai mawar untuk titik.
Oh, titik, kalau bukan cinta cuma luka di atas duri yang
akan kubawa pulang.
Doi membaca puisi gue sambil senyum-senyum.
"Keren loh puisi
kamu. Tapi kalo saya jadi kamu,judul puisinya bukan pangeran dalam goa. Tapi
judulnya TITIK"
Dan gue tanya ke doi "Ooh gitu ya pak?"
Doi bales "Iya dong.
Kamu kan orangnya MISTERIUS. Jadi judulnya pun harus misterius."
Gue agak bingung pas doi bilang gue misterius. Dari sisi
mananya gue misterius coba? Ah tapi kagak penting lah. Gue kudu fokus ama ini
puisi dulu. Trus berhubung udah sore banget, doi bilang ke gue, coba di rumah
kamu baca-baca buku atau cari di internet tentang puisi Sapardi, Rendra, dll.
Yaps...Gue dikasih PR juga ujung-ujungnya untuk nulis puisi serius.
Gue terimalah tantangan doi. Dan gue kebingungan pas di
rumah. Karena gue ngerasa gue cuma bisa apresiasiin puisi dengan mengartikan, mencari
makna dari puisi yang udah jadi. Untuk bikin karya sendiri itu tampaknya jauh
di atas ekspektasi gue.
Rasanya gue mo bilang ke doi kalo gue mundur aja deh lomba
puisi. Dan esok harinya, doi ngajarin gue pelan-pelan tentang puisi.
"Gini misalnya kamu disuruh tulis tentang presiden. Ayo
astrid. Kamu cari kata-kata apa yang bisa jadi lambang untuk bahasa puisi.Misal
presiden kamu cari perumpamaan dari kata presiden apa lagi?" katanya sambil
mengambil pen dan menulis di buku akuntansi gue.
Dan saat itu gue terdiam. Otak gue seperti dihunus pedang
dan gue nggak bisa mikir. "Apa ya pak?" eh...Kok gue malah nanya
balik. Trus doi coba ngasih contoh.
"Misal ini raja untuk bangsaku. Kurindu raja yang tak
sekadar memerintah, tapi kumau raja yang
bisa merasa".
Wuih, gue cukup kagum sih ama kata-kata dia. Sederhana tapi
oke menurut gue. Masih banyak lagi contoh yang dia kasih. Dan tiba-tiba dia
nanya lagi, ayo bisa apalagi Astrid?
Gue jawab "Raja bunglon?" Pak Untung merespons
semangat, "Pinter. Tapi hayo kenapa bunglon?"
gue jawab karena bunglon itu bisa mengubah warna sesuai
kondisi. Ya, seperti bisa adaptasi.
"Oke kamu kan suka biologi, kimia ya? Bisa Kalau gitu
kamu bkin puisi ambil dari perumpaaman itu tapi yang benar ya jangan dikarang-karang,"
katanya berpesan.
Dan gue dikasih contoh lagi, "Kurindu presiden dengan
unsur O. Yang bisa blablabla rakyat.Nah kamu cari, baca tentang unsur-unsur itu.
Pulang nanti kamu bikin lagi, besok ketemu saya lagi"
Sebelum gue pulang, doi membagi-bagikan jelly unik nan cantik yang nggak tega untuk gue makan...Hahahaha. Pas disuruh pilih jelly nya, gue ambil yang bentuknya hati. Lucu banget soalnya dan gue foto bareng juga deh sama dosen kece gue yang satu ini. Trus gue pulang ke rumah dengan membawa 3 jelly untuk oleh-oleh di rumah. Oke, balik lagi ke puisi.
Dan di rumah gue malah ngantuk dan leha-leha sejenak sama
gadget gue. Tapi besok paginya gue ke TKC dan baca buku biologi, kimia, plus
geografi. Gue duduk di TKC kurang lebih 1 jam untuk nulis puisi. FYI TKC iti perpustakaan
umum di kampus gue. Singkatan dari Tarumanagara Knowledge Center.
Gue nggak peduli ini
bagus apa nggak, yang jelas gue nyoba nulis. Pensil dan kertas jadi senjata
gue. Tapi senjata terbesar gue dari semuanya ada di otak, yang tak lain itu
buah pemikiran gue dan hati gue sendiri. Dari mana semua pikiran itu? Kata Pak
Untung gue musti putar otak untuk baca banyak buku. Berdiamlah gue beberapa
saat di TKC. Gue baca buku geografi, politik, sosial, sejarah, haduh semua
pengetahuan umum. Bahkan meski buku geonya itu kayak buku anak-anak yang
bergambar itu, tapi gue nggak gengsi kok bacanya. Akhirnya hasil meditasi gue
untuk mikir dan nyelesain puisi itu pun kelar.
Dan saat gue tunjukin
ke doi, doi pun berdecak kagum.
"Siapa bilang kamu nggak bisa nulis puisi? Tuh bisa. Saya
yakin kamu pasti bisa besok. ini bagus loh. Raja bunglon . Raja yang mengganti
kulitnya dengan keringat rakyat. Raja yang rela kulitnya disengat matahari.
Good," katanya tersenyum menatap gue. Seolah senyumannya itu memberi
harapan ke gue, "Lo nggak perlu takut. Nggak ada yang perlu gue takutin. Wuih!
Hangat deh pokoknya.
Btw, itu udah hari Jumat. Gue bertanding hari Senin. Sisa 2
hari lagi menuju perlombaan gue di UNJ. Kata dia sih gue nggak harus menang, tapi
yang penting gue coba yang terbaik sejauh yang gue bisa. Doi juga bilang dengan
gitu setidaknya gue punya sejarah spesial dalam hidup gue. Mirip nih sama
kata-kaya Warek. Hehehe. "Oke, selamat berlomba Astrid," pesannya
dengan senyum hangatnya yang tak pernah gagal untuk meredakan rasa panik gue.
Nah, sorenya gue kembali ketemu warek dan Bu Ida. Saat gue
lagi berbunga-bunga udah bisa nulis puisi, eh malah Bu Ida bikin gue galau. Kan...kan..kan...Dunia
gue nggak bebas dari rasa galau.
"Trid..Yang lomba cerpen kagak bisa ikut. Lagi ujian. Kamu
balik lagi aja ke cerpen," katanya dengan nada santai,super ringan. Dan
gue saat itu jadi ciut, ya gagal fokus juga. Baru aja senang dipuji sama puisi
gue, eh mendadak disuruh ganti cerpen. Tadi udah latihan puisi, udah dibikin
nyaman sama puisi, masa iya, ciyus? Diganti sekarang cerpen? Haduh.
Gue langsung sms Pak Untung. "Pak, saya nggak jadi
lomba puisi. Disuruh balik ke cerpen".
Dan tiba-tiba, Pak Untung bales pesan singkat gue, "Nggak papa. Kamu bisa kan cerpen?"
Lalu gue nanya ke Bu Ida, "Bu apa nggak bisa saya balik
ke puisi? Musti cerpen ya?" Nah, kok gue sendiri jadi bimbang.
Giliran gue udah nyaman puisi, disuruh balik ke cerpen. Di
situ gue merasa sedih. Kenangan-kenangan gue nulis bareng Pak Untung bakal
pecah berkeping-keping dong. Haduh....Lebay sih emang, tapi emang gitu rasanha
gue.
Kan ngewakilin kampus. Nggak cuma fakultas. Gue nggak mau
sampai salah milih, nih. Otak gue seperti melakukan pemberotakan dan pergulatan.
Apa mending cerpen,karena bahasa nggak berat-berat amat. Eh, tapi di satu waktu
gue galau lagi.
"Ya udah kamu kasih jawabannya besok sore ya saya tunggu,"
kata bu Ida sambil nyodorin gue snack. Duh, gue jadi kagak nafsu ama snacknya. Saat
gue tengah dihadapkan sama pilihan.
Di saat gue bimbang, gue pun sms Pak Untung. "Pak saya
sekarang malah jadi dibebasain boleh pilih mau cerpen apa puisi. Saya jadi takut
sih. Kalo puisi berat...Cerpen juga takut saya kosa kata saya gitu-gitu aja. Gimana
dong pak?"
"Kamu harus tanya sama hati kecil kamu. Saya dukung
pilihan kamu," balasnya di sms. Trus entah gimana, gue tiba-tiba diem dulu
dan tergerak untuk memilih puisi. Di sana seperti hilang rasa hampa gue. Lalu,
gue hubungin Bu ida,"Bu saya puisi ya". Fix banget puisi. Jiah.
####
Dan sesaat sebelum lomba dimulai, ada sms masuk ke HP gue.Itu
semacam SMS penguatan di kala gue kesepian, duduk di kursi Kampus UNJ sendirian.
"Kamu harus PD. Saya yakin kamu bisa kok," kata
Pak Untung via sms. Oke, gue nggak peduli gue menang apa nggak yang jelas gue
coba sebisa yang gue mampu.
Saat di UNJ hari senin 23 Juni, gue lihat banyak anak UI
seliweran di sana. Salah 1 anak UI ada duduk di bangku tepat di depan meja gue.
Dan gue jadi mendadak ciut.
Ooh..Tapi gue nggak boleh lemah, gue inget ama kata-kata Pak
Untung. Lalu gue berdoa. Saat itu panitia datang dengan baju. Dari jauh dia memberi
komando "Selamat datang peserta,saya memberi info bahwa kalian bisa
menulis puisi dalam waktu 4 jam dengan tema cinta tanah air. Tapi laptop kalian
nggak bleh disambung ke internet ya."
Trus bertele-tele dibacakan aturan-aturan puisi lainnya. Katanya
nggak boleh ada tipografi apalah..Jiah..gue aja nggak paham itu apaan lagi. Tapi
gue tulis, gue inget kata-kata si Pak Untung waktu ngajarin gue nulis.
"Tema kali ini tentang cinta tanah air ya," kata Panitia yang lebih
senang disapa Ibu daripada mbak ini.
Dan selama lomba berlangsung, gue sering bingits lirik ke
arah anak UI. Dia kelihatan santai dan cepat, trus detik-detik mau ngumpul gue
kok jadi ciut lagi ya? Tapi bodo amat. Gue punya karya gue sendiri kok. Siapa
tahu kan nggak kalah kece? But, dia anak sastra, lho.Sastra. Agak mau nyerah
sih waktu itu. Nah, kalau yang duduk di belakang gue itu anak jurnalistik. Ooh
gue hanyalah sekecil titik. Tak terasa ternyata tiba-tiba udah sore aja.
Saat gue ngumpul karya ke depan, gue malu-malu gitu. Tapi ya
udah deadline nya. Terlepas dari apa pun hasilnya, gue cukup puas udah berhasil
melalui lomba ini
Gue lumayan bernapas lega, selesai juga. Dan FYI, selama
lomba gue difoto-foto ama ibu pantia dan kakak-kakak dari BEM UNJ. Ampun deh,
ya lumayan tapi ada hiburan,bisa bikin gue tertawa sejenak. Dan usai lomba ada
beberapa anak peserta lomba yang ngajak gue kenalan. Ada Nana, Yana, Novi, dan
Tiara. Sekarang, guys, mereka jadi temen gue nulis puisi di grup wa gue yang
judulnya young writer gigan.
Oke, nanti bakal ada pembahasan tersendiri soal mereka. Sekarang
gue mau bahas lagi soal lomba puisi konyol ini yang katanya hasilnya ngebut kayak
maraton. Alias bakal ketahuan langsung besok. Gue sih pasrah aja. Kayaknya anak
UI yang bakal menang lah.
Tapi,siapa sangka jam 12.30 tanggal 24 Juni 2014, jadi
tanggal bersejarah buat gue. Si Pak Untung nelepon gue dan bilang "Selamat
Astrid kamu juara 2 loh nulis puisi."
Trus, gue seneng bukan main. Secara pemula gini gue, lumayan
banget dong juara 2. Aduh, puji Tuhan banget. Dan temen-temen gue di
youngwriters gigan ngucapin selamat juga.
Hari Rabu nya gue ketemu sama Pak Untung dan kita
ngobrol,cerita tentang lomba dan intinya dia bilang "Nanti kamu kalo ada lomba
lagi coba lagi ya. Kamu keren itu bagus. nggak papa juara 2. Itu keren kok. Kamu
bagus. Nanti besok-besok, belajar, kurangnya dimana, diperbaiki. Oke? Oh ya jadi
kamu dapet temen baru ya di sana?" katanya sambil tertawa tawa girang.
Senang dah gue lihatnya. Pemandangan menyejukkan kalau si Pak Untung happy
juga.
Dan hari itu gue ngerasa senang banget karena ternyata gue
nggak cuma jadi penikmat puisi, tapi gue berkarya. Gue bukan cuma baca tulisan
Sapardi, bukan juga baca puisi Chairil Anwar. Udah nggak sekadar membaca. Level
gue naik jadi menghasilkan karya. Hemh, tapi apresiasi dalam membaca nggak akan
pernah gue tinggalkan. Karena menulis adalah mustahil tanpa membaca.
Tapi, gue Astrid sekarang ini bisa nulis puisi sekece ini
nggak lepas dari bimbingan mentor gue, Pak Untung.Di sisi lain, mentor ini juga
menjadi sahabat terbaik gue dalam menulis Bahkan gue mulai menggiati nulis
puisi untuk tema-tema yang cukup berat. Tapi yang jelas gue akan tetap dan
terus belajar, supaya kelak gue bisa jadi sastrawan tersohor yang bikin
pembacanya berdecak kagum dan memberikan tepukan gemuruh untuk puisi yang gue
tulis.
FYI, judul puisi gue "Kuhapus Rintihan Pulauku".
Ini puisi yang menang juara 2 di ajang perlombaan PEKSIMIDA (Pekan Seni
Mahasiswa Daerah tahun 2014).



wahh astrid punya blog juga, blogwalking yaaa ke jhonmiduk8.blogspot.co.id hehe
BalasHapus